Harapan Jaya Suprana


Saya Makin Mengagumi Ahok

Rabu, 01 April 2015 | dibaca: 6824

Terus-terang, saya bingung mengenai tuduhan Ahok bahwa saya seorang provokator.

Agar tidak melakukan kesalahan dalam memetik berita, saya muat sebuah berita yang disebarluaskan news.okezone.com. Jaya Suprana (Phoa Kok Tjiang), yang merupakan pendiri dan Ketua Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri), menulis surat terbuka di sebuah media cetak untuk Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Zhong Wanxue) alias Ahok, pada Rabu (25/3), menceritakan kekaguman sekaligus kritiknya terhadap Ahok.

Dalam surat itu, Jaya Suprana mengingatkan Ahok atas kerusuhan-kerusuhan yang berlatar belakang SARA, khususnya yang mengintimidasi keturunan Tionghoa. Dari peristiwa G30S (Gerakan 30 September), kerusuhan rasial 1980-an di Semarang, dan terakhir kerusuhan besar 1998 di Nusantara.

Menanggapi hal itu, Ahok justru mengatakan langkah Jaya Suprana itulah yang melatih dirinya sendiri untuk berbuat rasis. “Dia merasa masih kayak otak warga negara kelas dua, dia melatih merasis diri,” tuturnya kepada wartawan, Senin (30/3).

Ahok menambahkan, ia tidak perlu merasa takut terhadap risiko langkahnya selama ini. “Apa pun yang saya lakukan karena ini hak saya. Kenapa saya harus ketakutan? Kan posisinya sama warga Indonesia yang dilindungi undang-undang, waktu kerusuhan 1998, saya nggak tahu apa-apa,” katanya.

Jaya Suprana juga mengingatkan Ahok, sebagai seorang pejabat publik dari warga minoritas Tionghoa, sering dijadikan representasi atas etnisnya. Melalui surat itu, ia juga meminta Ahok menjaga kata-kata dan tingkah lakunya demi keamanan warga keturunan.

Menanggapi hal itu, Ahok mengatakan pihaknya siap menanggung risiko tanpa harus merepotkan orang lain. “Kalau ada risiko, saya sendiri dan keluarga yang menanggung . Ngapain Anda (Jaya Suprana-red) repot-repot? Dia itu otaknya status quo. Saya tidak pernah merasa minoritas. Memangnya saya mau lahir kayak gini? Kalau boleh pilih hidup, saya akan pilih jadi anak Pangeran Charles saja,” tuturnya diiringi gelak tawa wartawan.

Lebih lanjut, Ahok mengatakan langkah Jaya Suprana menulis surat terbuka di media itu adalah provokatif. “Kalau dia baik hati, ngapain provokasi lewat koran. Itu justru provokasi orang-orang, lho,” ujarnya. 

Berita tentang tanggapan Ahok itu sangat inspiratif bagi saya. Surat permohonan terbuka kepada Ahok dimuat Sinar Harapan pada 25 Maret 2015, dan memperoleh sambutan media-sosial luar biasa dahsyat. Namun, sama sekali tidak ada tanggapan Ahok. 

Bila surat terbuka saya dibaca secara teliti dan lengkap, sama sekali tidak ada kritik. Malah, pujian saya kepada Ahok sebagai seorang pejuang sejati dalam membasmi korupsi, di samping seorang pemberani yang berani menghadapi apa pun risiko dalam menunaikan perjuangan membasmi korupsi.

Surat permohonan memang sengaja saya tulis secara terbuka karena, setahu saya, mengajukan permohonan secara terbuka belum dilarang. Bahwa surat permohonan sudah telanjur dimuat Sinar Harapan, saya tidak berdaya apa pun kecuali memohon maaf atas kelancangan menulis surat permohonan terbuka tersebut.

Terus-terang, saya bingung mengenai tuduhan Ahok bahwa saya seorang provokator. Saya belum pernah dengar ada provokator memprovokasi secara memohon. Berarti, Ahok memuji saya kreatif dan inovatif menciptakan provokasi secara memohon. Saya berterima kasih bahwa Ahok mengotak-otakkan saya, sebab berarti beliau mengakui saya memiliki otak meski tidak kelas satu seperti otak Ahok.

Sayang, tuduhan bahwa saya rasis tidak benar sebab pada kenyataan saya antirasisme. Saya benar-benar makin kagum atas rasa percaya diri luar biasa dahsyat yang memang perlu dimiliki seorang pemimpin sejati seperti Ahok. Sementara Ahok ingin hidup sebagai anak Pangeran Charles, saya ingin hidup sebagai anak Ahok.

Penulis adalah budayawan yang antirasisme. 






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online