Harapan Jaya Suprana


“Verzichtisme” dan Mumpungisme

Rabu, 08 April 2015 | dibaca: 4947

Bagi saya, Prabowo Subianto adalah seorang kesatria penganut mazhab verzichtisme.

Dari beberapa narasumber yang layak dipercaya, saya beruntung memperoleh sebuah informasi beraroma harum. Dari sekian banyak informasi busuk yang merajalalela berkeliaran di masyarakat, informasi khusus ini semerbak harum seolah setangkai bunga mawar di atas lahan tumpukan sampah busuk.

Informasi khusus ini terkesan makin harum baunya di tengah banjir informasi busuk tentang tuduh-menuduh, fitnah-memfitnah, curiga-mencurigai, jegal-menjegal, jerumus-menjerumus, saling membunuh karakter, caci maki, dan cemooh-mencemooh.

Memang jauh sebelum naskah ini saya tulis, saya sudah pernah menulis tentang aura kekesatriaan yang memancar dari tokoh yang sama, seperti yang dikisahkan para narasumber info harum. Namun, terus terang saya tidak menyangka sang tokoh ternyata tetap konsisten dan konsekuen mempertahankan kekesatriaan dirinya.

Bahkan, tokoh ini bersikap kesatria justru saat sebenarnya ia bisa menanggalkan prinsip kekesatriaan dirinya demi merobohkan lawan politiknya. Kebetulan sang lawan politik sedang dalam kondisi terhuyung-huyung akibat kadar popularitas merosot sedemikian tajam, sampai para pendukung mulai mempertanyakan dukungan mereka. 

Ini merupakan kesempatan emas bagi sang tokoh kekesatriaan untuk secara politis melakukan serangan habis-habisan demi menggugurkan sang lawan. Alih-alih menyerang, sang tokoh malah menegaskan kembali bahwa ia tetap mendukung lawan politiknya, sebab sudah terpilih oleh rakyat untuk memimpin negara dan bangsa Indonesia. 

Terus terang, semula saya tidak percaya atas informasi harum itu, bukan karena saya tidak percaya para narasumber, melainkan karena daya dengar saya memang kini sudah makin merosot, seperti kadar popularitas tokoh yang dibela sang tokoh kekesatriaan. Jadi, secara khusus saya bertanya ulang kepada para narasumber.

Ternyata para narasumber tetap memberikan informasi yang sama. Saya jadi teringat mazhab verzichtisme yang bertolak belakang dengan mazhab mumpungisme. Seorang mumpungis sejati, bila melihat ada kesempatan emas untuk melakukan korupsi, pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk korupsi dengan menghalalkan segala cara. Pokoknya harus melakukan korupsi habis, mumpung ada kesempatan korupsi. Seorang mumpungis sejati, yang kebetulan politikus sejati, pasti maksimal memanfaatkan kesempatan untuk menggulingkan lawan politiknya.

Bila Prabowo seorang mumpungis, apalagi karena ia cerdas, pasti mampu menangkap makna kesempatan emas untuk menggoyang kuda-kuda politis Presiden Jokowi saat Jokowi sedang dalam kondisi terhuyung-huyung akibat terpaan badai berbagai masalah, mulai dari Kapolri, KPK, harga beras, harga BBM, rupiah merosot, polemik hukuman mati, Poso, Papua, dan gejolak di Aceh. 

Lebih penting lagi bukan hanya menangkap makna, melainkan langsung melakukan tindakan-tindakan politis nyata; kalau perlu sampai yang paling tidak halal pun, demi menggulingkan Jokowi dari takhta kepresidenan. Seorang mumpungis lazimnya akan gigih berjuang sampai tujuannya tercapai, mumpung ada kesempatan.

Namun, seorang penganut mazhab verzichtisme (verzicht adalah istilah Jerman untuk penolakan kesempatan), bila melihat ada kesempatan emas untuk melakukan korupsi, justru tidak akan melakukan korupsi. Bahkan, ia akan membenahi sistem agar korupsi tidak bisa dilakukan.

Seorang penganut mazhab verzichtisme lazimnya bukan seorang politikus, melainkan negarawan. Seorang verzichtis tidak akan memanfaatkan kesempatan untuk menggulingkan lawan politik atau siapa pun. 

Bagi saya, Prabowo Subianto adalah seorang kesatria penganut mazhab verzichtisme; meski cukup cerdas menangkap makna kesempatan emas, ia tidak memanfaatkan kesempatan emas itu untuk menggulingkan Presiden Jokowi.

Bisa saja sikap Prabowo Subianto itu dinilai konyol menyia-nyiakan kesempatan, sandiwara pencitraan politis, serigala berbulu domba. Namun, saya pribadi siap dinilai naif untuk menilainya sebagai suatu sikap kekesatriaan dan kenegarawanan sejati. 


Penulis adalah pengagum verzichtisme.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online