Harapan Jaya Suprana


Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi

Kamis, 16 April 2015 | dibaca: 5275

Kami memberanikan diri untuk memohon perkenan Bapak Presiden memberikan tugas kepada yang terhormat para penyusun RAPBN 2016. 

Bapak Presiden Jokowi yang kami hormati. Mohon maaf karena amat sulit menghadap Bapak Presiden maka kami memberanikan diri menulis surat terbuka di Sinar Harapan ini untuk mengajukan sebuah permohonan. 

Dari beberapa wawancara pribadi dengan Bapak, saya menyadari bahwa Bapak sangat mengutamakan kesejahteraan rakyat. Baru saja kami menghadiri acara Urun-Rembug Kelirumologi  Pengejawantahan Kasih-Sayang dengan tiga pejuang kemanusiaan Wardah Hafidz, Sandiawan Sumardi, dan Hong Tjhin (Yayasan Buddha Tzu Chi)  yang mengejawantahkan kasih sayang ke tindakan nyata. 

Kami terharu bukan hanya atas gelora semangat pengabdian kemanusiaan para beliau tersebut, namun terutama atas kenyataan bahwa kemiskinan masih hadir di persada Nusantara dalam skala dan dimensi yang tidak layak diabaikan. Kesimpulan yang timbul dari sarasehan kasih sayang yang dihadiri para tokoh seperti Frans Magnis Suseno, Natan Setiabudi, Salim Said, HS Dillon, Erna Surjadi, dan Idwan Suhardi adalah bahwa masih banyak yang dapat dilakukan dalam perjuangan menanggulangi kemiskinan di Indonesia. 

Memang banyak cara pengentasan kemiskinan, namun sesuai dengan UUD 1945 Pasal 34 ayat pertama: fakir miskin dan anak-anak yang telantar dipelihara oleh negara maka peran pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan tetap utama. Secara kelembagaan, pemerintah memiliki Kementerian Sosial yang bertugas sebagai ujung tombak penegakan pilar-pilar kesejahteraan sosial sesuai yang tersirat dan tersurat dalam UUD 1945. Untuk pelaksanaan tugas kepemerintahan termasuk pengentasan kemiskinan jelas dibutuhkan dukungan dana. 

Kami bersyukur bahwa di dalam APBN 2015 telah teranggarkan dana sebesar Rp 88,3 triliun untuk Kemendikbud dan Rp 56,4 triliun untuk Kementerian Agama. Hal tersebut membuktikan kesungguhan semangat Bapak menyejahterakan rakyat Indonesia. Di sisi lain, kami melihat bahwa anggaran belanja yang disediakan untuk Kementerian Sosial sebagai ujung tombak penyejahteraan rakyat meliputi  Rp 8,1 triliun yang berarti sekitar 14,3 persen anggaran Kementerian Agama dan belum sampai 10 persen Kemendikbud. Berarti Kemensos menerima anggaran biaya Rp 48,3 triliun lebih rendah dari Kemenag dan Rp 80,2 triliun lebih rendah dari Kemendikbud. 

Dengan penuh kerendahan hati, kami memberanikan diri untuk memohon perkenan Bapak Presiden memberikan tugas kepada yang terhormat para penyusun RAPBN 2016 untuk meningkatkan anggaran belanja Kementerian Sosial dari Rp 8,1 triliun menjadi misalnya Rp 20 triliun saja yang berarti masih 35 persen anggaran belanja 2015 Kemenag dan masih jauh di bawah Kemendikbud. Dengan Rp 20 triliun berarti anggaran belanja Kemensos masih belum separuh anggaran biaya 2015 Kementerian Kesehatan yang meliputi Rp 47,8 triliun. 

Tentu saja, jangan sampai permohonan kami mengurangi anggaran kementerian terkait kesejahteraan rakyat lain-lainnya yang malah jika bisa ikut dinaikkan tentu lebih indah. Sejauh kami mengenal Mbak Kofifah Indar Parawansa, pasti beliau sebagai mensos Kabinet Kerja didukung para LSM kemanusiaan akan benar-benar tepat sasaran mendayagunakan dana Rp 20 triliun itu untuk memperbaiki nasib kaum miskin. 

Dengan sendirinya peningkatan anggaran belanja harus diimbangi dengan peningkatan anggaran pendapatan yang dapat diusahakan Presiden Jokowi beserta segenap kementerian bidang ekuin, dengan semangat kepedulian terhadap upaya pengentasan kemiskinan. Kami sadar bahwa permohonan kami tidak profesional, namun sekadar emosional akibat keprihatinan atas kemiskinan masih hadir di persada Nusantara. Kami ikhlas menyerahkan terkabul tidaknya permohonan kami ini kepada pertimbangan kebijaksanaan Bapak Presiden Jokowi yang kami hormati. 

Kami yakin Bapak Presiden beserta segenap jajaran kementerian Kabinet Kerja memiliki wawasan pandang jauh lebih luas dan mendalam mengenai masalah penanggulangan kemiskinan ketimbang kami yang hanya mampu prihatin saja ini. 

Terima kasih dan hormat dari Jaya Suprana. 


Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online