Harapan Jaya Suprana


Nasib Menjadi Pahlawan Devisa

Rabu, 22 April 2015 | dibaca: 4876

Sebanyak 228 WNI terancam hukuman mati di negeri orang

Pojok Vivere Pericoloso Sinar Harapan 16 April 2015 menulis “Sebanyak 228 WNI terancam hukuman mati di negeri orang. Nasib menjadi pahlawan devisa”.

Dua hari sebelumnya, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (RI) di Jeddah menerima informasi dari pengacara Arab Saudi, mengenai telah dilaksanakannya hukuman mati terhadap warga negara Indonesia (WNI) bernama Siti Zainab binti Duhri Rupa.

Siti Zainab dihukum mati di Madinah pukul 10.00 waktu setempat. Siti Zainab, kelahiran Bangkalan, 12 Maret 1968, merupakan buruh migran di Arab Saudi. Ia dipidana atas kasus pembunuhan istri majikannya, 16 tahun lalu. 

Berita itu makin memprihatinkan akibat pernyataan Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Muhammad Iqbal, bahwa kini total WNI yang terancam hukuman mati di seluruh dunia ini berjumlah tidak kurang dari 228 orang. 

WNI yang terancam hukuman mati di kerajaan Arab Saudi tidak kurang dari 37 orang, menunggu giliran. WNI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi tersangkut kasus pidana seperti pembunuhan, zina, dan sihir.

Untuk kasus zina dan sihir, terpidana bisa meminta pengampunan kepada raja karena merupakan hak umum. Namun, yang memberikan pengampunan untuk kasus pembunuhan harus ahli waris. Bahkan, raja tidak bisa memberi pengampunan untuk kasus pembunuhan.

Apa pun alasan dan dalihnya, jelas nasib para “pahlawan devisa Indonesia” yang mencari nafkah di perantauan benar-benar memprihatinkan. Bayangkan, bagaimana perasaan 228 WNI yang sedang menunggu hukuman mati di negeri perantauan. Bayangkan pula bagaimana perasaan keluarga mereka. 

Dapat dipastikan tidak ada seorang pun (termasuk para pendukung hukuman mati), yang setuju bila hukuman mati dijatuhkan pada dirinya atau sanak keluarganya. Memang, mungkin seorang anak durhaka yang sedang menunggu warisan ayahnya bisa saja mengharap sang ayah segera dihukum mati.

Namun, mustahil seorang anak yang masih waras pikiran dan dapat menahan angkara murka kehartabendaan akan rela sang ayah dihukum mati.
Andai ayah saya yang sangat saya hormati dan cintai akan dihukum mati, sebagai anak yang tidak mampu membalas budi sang ayah (meski atau justru karena beliau bukan ayah kandung tetapi ayah yang sudi mengangkat saya sebagai anak), saya akan menawarkan diri kepada sang penghukum untuk menghukum mati saya saja sebagai pengganti ayah saya.

Menurut saya, setelah 66 tahun menempuh perjalanan hidup, sebenarnya hukuman mati sudah anakronis dengan peradaban, yang telah menyadari bahwa membunuh sesama manusia dengan alasan apa pun seyogianya tidak dibenarkan. Namun, saya tidak memiliki pengaruh apalagi kekuasaan politik apalagi militer apa pun. Jadi, saya memang tidak berdaya memohon apalagi memaksa negara-negara (termasuk negara saya sendiri) untuk tidak melakukan hukuman mati.

Saya tidak berdaya apa pun kecuali berdoa kepada Yang Maha Kuasa, agar para pemimpin negara, yang akan menghukum mati 228 WNI, diberikan anugerah gugahan nurani untuk berkenan membatalkan hukuman mati, yang secara hakiki sudah tidak sesuai dengan peradaban umat manusia masa kini.

Di sisi lain, saya memohon Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenhukham) untuk bukan saja berjuang menyelamatkan para WNI yang sudah telanjur divonis mati di negeri orang. 

Segenap kementerian politik dan keamanan secara terstruktur, sistematis, dan masif berkenan merancang dan menatalaksana langkah-langkah preventif dan promotif; demi mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dilakukan, agar para “pahlawan devisa” jangan sampai terkena hukuman mati.

Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online