Harapan Jaya Suprana


Surat Terbuka kepada Ibu Menlu

Rabu, 13 Mei 2015 | dibaca: 5504

Kami berterima kasih bahwa Ibu sebagai menlu langsung melakukan protes tegas dan keras atas serangan bom terhadap KBRI Sana.

Ibu Menlu RI yang terhormat, kami berduka karena istri Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Pakistan, Heri Listyawati Burhan, meninggal dalam kecelakaan helikopter di Pakistan, Jumat (8/5). Kami juga prihatin karena dua staf KBRI dan seorang warga negara Indonesia (WNI) terluka akibat serangan bom yang memorak-porandakan gedung Kedutaan Besar (Kedubes) RI di Sana, Yaman, 20 April 2015 pagi waktu setempat. 

Menurut paparan Ibu saat serangan bom terhadap gedung KBRI di Sana, terdapat belasan staf KBRI Sana, anggota tim evakuasi WNI dari Jakarta, dan para WNI yang sedang mengungsi.  Kami berterima kasih bahwa Ibu sebagai menlu langsung melakukan protes tegas dan keras atas serangan bom terhadap KBRI Sana. Ibu juga mendesak semua pihak segera menghentikan aksi kekerasan di Yaman.   

Secara pribadi, saya merasa prihatin atas tragedi perang yang kembali melanda Yaman, yang memiliki jalinan hubungan peradaban dan kebudayaan cukup erat dengan Indonesia. Mayoritas teman-teman warga Indonesia keturunan Arab berasal dari Yaman, terutama dari Hadramaut.  

Sejak lama, saya pribadi mengidamkan dapat berkunjung ke Sana sebagai kota tertua yang lestari dihuni di Bumi ini. Kota Sana dengan keindahan eksterior permukiman tiada dua di Bumi sudah diresmikan sebagai situs warisan kebudayaan dunia oleh UNESCO. 

Karena itu, tragedi perang yang kembali menimpa Yaman memprihatinkan hingga saya sampai tergerak khusus mengundang sahabat saya, Hilmi Panigoro, Komisaris Utama PT Medco Energi International Tbk  yang memiliki hak pengeboran minyak bumi di beberapa kilang minyak di Yaman, berkenan menjadi narasumber diskusi Pusat Studi Kelirumologi tentang tragedi yang sedang melanda Yaman masa kini. 

Kebetulan, mantan Menlu RI Profesor Alwi Shihab, nenek moyangnya berasal dari Yaman, kini menjadi penasihat Timur Tengah bagi Medco. Mas Hilmi berkisah, sejak akhir Maret 2015, memang Medco terpaksa menghentikan segenap aktivitas kilang minyak di Yaman akibat suasana lingkungan sudah tidak kondusif. 

Mengenai latar belakang kemelut Yaman  2015, Ibu Menlu tentu jauh lebih mengetahuinya ketimbang kami yang awam. Ibu Menlu juga pasti mengetahui bahwa sehari setelah bom memorak-porandakan KBRI Sana, pemerintah Arab Saudi sebagai pemuka koalisi sembilan negara Arab menyatakan akan menghentikan intervensi militer ke Yaman. Namun Ibu Menlu pasti tahu juga, pada kenyataannya, ancaman angkara murka kekerasan masih mencengkeram Yaman. 

Dalam kesempatan ini kami melaporkan, dalam acara Urun-rembug Kelirumologi pada 7 Mei 2015, Mas Hilmi sempat berkisah, pada ujung akhir abad XX, kemelut perang saudara yang memecah-belah Yaman sempat didamaikan atas intervensi perdamaian Kesultanan Oman. Sultan Oman sempat mengundang para pemimpin kedua pihak yang bertikai di Yaman datang ke Oman guna duduk bersama dan mencari solusi perdamaian. 

Ternyata, misi perdamaian Oman berhasil mempersatukan Yaman. Terinspirasi kisah kilas-balik Mas Hilmi, timbul gagasan mengidamkan  Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia dapat berperan sebagai pendamai kemelut perang yang kembali melanda Yaman. Sebagai sesama negara dengan mayoritas penduduk Islam yang memiliki jalinan tali persahabatan dari dahulu kala sampai masa kini, alangkah indahnya apabila Indonesia dapat  membantu menghadirkan perdamaian di Yaman. 

Apabila idaman ini dianggap berlebihan atau muluk-muluk, silakan surat terbuka ini diabaikan saja. Namun, apabila Ibu Menlu merasa harapan ini layak dipertimbangkan, saya bersama Mas Hilmi Panigoro dan Profesor Alwi Shihab yang banyak tahu tentang kemelut geopolitik Timur Tengah  siap menghadap Ibu Menlu. Tentunya itu untuk memberikan paparan lebih merinci tentang gagasan idaman Indonesia yang dapat berperan dalam membangun perdamaian dunia. 

Hormat kami, Jaya Suprana.

Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online