Harapan Jaya Suprana


“Saka Mese Nusa”

Kamis, 28 Mei 2015 | dibaca: 6291

.

Umat Protestan maupun Katolik menyanyikan mars dan himne Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXVI tingkat Provinsi Maluku, dalam upacara pembukaan di Piru, Ibu Kota Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), 16 Mei 2015. MTQ berlangsung hingga 24 Mei 2015.

Umat Kristen juga berperan serta menyambut para kafilah dari delapan kabupaten serta Kota Ambon dan Tual. Bahkan para raja (sapaan kepala desa di Maluku yang penduduknya beragama Kristen) berkoordinasi dengan pendeta, menyatakan kesiapan menampung para kafilah selama perhelatan MTQ.

Hal tersebut tersebut mencerminkan budaya saka mese nusa sebagai warisan leluhur Seram Bagian Barat. Berita yang datang dari Indonesia Timur tersebut benar-benar menyejukkan suasana peradaban dan kebudayaan Nusantara masa kini; berita yang layak disimak sebagai bukti, bahwa semangat kerukunan antarumat beragama di Indonesia memang layak diangkat sebagai teladan dan inspirasi, bagi segenap umat beragama di planet Bumi ini.

Peristiwa mengharukan sekaligus membanggakan ini justru terjadi di Provinsi Maluku, provinsi yang sempat mengalami masa kegelapan menjelang akhir abad XX. Masa lalu Maluku memang sempat dicemarkan noda-noda perseteruan, pertikaian yang bahkan meruncing menjadi kekerasan pertumpahan darah antarsesama masyarakat setempat. Namun, masa lalu bukanlah kendala rintangan bagi upaya memperbaiki masa kini demi masa depan yang lebih baik.

Jati diri peradaban dan kebudayaan masyarakat SBB yang sejati justru saka mese nusa; budaya yang sama sekali bukan cermin rasa kebencian dan perilaku kekerasan, melainkan murni kasih-sayang dan keramah-tamahan. Kebencian dan kekerasan di masa lalu itu semata merupakan gangguan sementara, bukan ungkapan makna peradaban dan kebudayaan masyarakat SBB, yang merupakan daerah Maluku sebagai bagian hakiki dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjunjung tinggi falsafah Bhinneka Tunggal Ika.

Jauh sebelum kaum penjajah datang merambah Nusantara demi mencari rempah-rempah, masyarakat Maluku adalah masyarakat yang cinta damai. Mereka hidup aman tenteram dan sejahtera, dengan kemahakayarayaan sumber daya alam bumi maupun kelautan yang tiada dua di planet ini.

Masyarakat Maluku hidup dari alam, karenanya dekat dengan alam, yang kala itu belum tercemar angkara murka kerakusan bendawi, yang datang bersama wabah kolonialisme dan imperialisme. Akibat eksploatasi hasil bumi dalam bentuk rempah-rempah yang memang merupakan perbendaharaan kekayaan alam Maluku, yang dikejar angkara murka kerakusan kaum kolonialis dan imperialis, terusiklah kedekatan alam masyarakat Maluku.

Paham egosentrisme dan hedonism, lambat namun pasti, menggerogoti sendi-sendi budaya saka mese nusa, yang lebih menjunjung tinggi kepentingan bersama ketimbang kepentingan kelompok, apalagi insani yang memang merupakan bulan-bulanan strategi dan taktik divide et empera kaum kolonialis. Kaum penjajah memang sengaja memecah-belah kaum terjajah agar lebih mudah dieksploitasi habis-habisan.

Kedamaian suasana kehidupan masyarakat Maluku, lambat namun pasti, berubah menjadi suasana kehidupan penuh kecurigaan; kebencian yang kemudian memuncak untuk meledak menjadi kekerasan antarkelompok. Setelah merdeka, perpecahbelahan warisan kaum penjajah masih terus berlanjut di masyarakat Maluku. Ini kemudian meledak menjadi bentrok pertumpahan darah yang sama sekali tidak sesuai dengan semangat saka mese nusa.

Kita layak bersyukur menyambut penyelenggaraan MTQ tingkat Nasional XXIV di Maluku. Ini peristiwa indah yang mustahil diselenggarakan bila suasana sosio-politik-kultural belum kondusif. Suasana kehidupan harmonis di Maluku juga kembali terbukti kondusif dengan terselenggaranya MTQ tingkat Provinsi Maluku yang dibuka di Piru, Ibu Kota Kabupaten SBB, tempat masyarakat umat Kristen berpadu suara, menyanyikan lagu mars dan himne MTQ.

Ini suatu peristiwa peradaban dan kebudayaan mengharukan, yang mustahil terjadi, bila budaya saka mese nusa belum kembali mantap secara manise hadir di tanah Maluku; suatu peristiwa peradaban dan kebudayaan indah, yang layak menjadi model teladan, untuk penanggulangan permasalahan konflik agama dan sektarian yang sedang merajalela di berbagai pelosok Bumi masa kini. (*)

Penulis adalah budayawan pencinta damai.







 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online