Harapan Jaya Suprana


Tak Kenal Ampunisme

Selasa, 21 Juli 2015 | dibaca: 4685

Pengampunan pada hakikatnya merupakan bagian hakiki dari ajaran setiap agama.

Dalam Alkitab di Perjanjian Baru pada nats Lukas 15: 11-32, ada kisah mengenai seseorang yang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.”  

Ayahnya kemudian membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian, anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya dengan hidup berfoya-foya.

Setelah dihabiskan semuanya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu. Si bungsu mulai melarat. Ia kemudian pergi dan bekerja kepada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi.  

Si anak ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, namun tidak seorang pun yang memberikannya. Si bungsu akhirnya menyadari keadaannya.

Ia mengatakan, “Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya, ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’”

Bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkannya, lalu merangkul dan menciumnya.

Kata anak itu kepadanya, “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak Bapa.”

Akan tetapi, ayah itu malah berujar kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik. Pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya  dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah makan dan bersukacita sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali. Ia telah hilang dan didapat kembali.”

Mulailah mereka bersukaria. Anaknya yang sulung berada di ladang. Ketika ia pulang dan mendekati ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya mengenai arti semuanya.

Hamba itu menjawab, “Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.”  

Marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengannya. Si sulung menjawab ayahnya, “Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa. Tetapi, kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.”  

Ayahnya berujar kepadanya, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku. Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali. Ia telah hilang dan didapat kembali."  

Pada kenyataan kehidupan, kerap terjadi adegan peristiwa yang selaras dengan kisah anak yang hilang dari Alkitab itu. Sering terjadi beberapa insan masyarakat yang meninggalkan jalur yang benar untuk menempuh jalan yang kurang benar alias keliru. Mereka bahkan bertindak kriminal.

Alhasil, sang insan yang tersesat jalan itu terpaksa masuk penjara demi menebus kesalahan atau tindak criminal yang pernah dilakukannya. Apabila tidak dihukum mati atau dihukum seumur hidup meringkuk dalam penjara, suatu saat sang narapidana bisa keluar dari lembaga pemasyarakatan (LP) untuk kembali hidup bermasyarakat setelah masa hukumannya selesai.

Banyak pihak bersikap seperti sang ayah dari kisah anak yang hilang itu. Banyak anggota masyarakat dengan tulus dan ikhlas menerima para bekas terpidana dan terhukum di LP untuk kembali hidup bersama masyarakat.

Namun, tidak sedikit pula pihak-pihak yang bersikap seperti sang anak sulung. Seolah para mantan narapidana berstigma kriminal memang tidak layak diampuni. Jadi, mereka tidak boleh bergabung kembali ke kehidupan masyarakat di luar penjara.

Ini suatu sikap tiada ampun bagimu yang berbeda sama sekali dari sikap pengampunan berdasarkan kasih sayang. Padahal, pengampunan pada hakikatnya merupakan bagian hakiki dari ajaran setiap agama.

Seharusnya, para penganut mazhab tak kenal ampunisme perlu sejenak menyimak yang diucapkan sang ayah kepada sang anak sulung itu. Ayahnya berkata,” Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali. Ia telah hilang dan didapat kembali."

 Penulis adalah budayawan pembelajar pengampunan.







 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online