Harapan Jaya Suprana


Kerukunan Umat Beragama

Kamis, 23 Juli 2015 | dibaca: 5706

Saya benar-benar merasa bangga menjadi warga bangsa dan negara Indonesia yang cinta damai.

Sebagai warga Indonesia, lubuk sanubari saya benar-benar terpukul akibat peristiwa kerusuhan yang diberitakan telah menimpa masyarakat Papua, bertepatan pada perayaan Hari Raya Idul Fitri 2015.

Kantor berita Antara memberitakan, salat Idul Fitri yang digelar di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara, Papua, pada Jumat (17/7) pagi, diwarnai kericuhan seiring aksi pelemparan oleh sejumlah pihak yang tak bertanggung ke lokasi ibadah.

Akibatnya, jemaah muslim yang sedang menggelar salat id ketakutan dan membubarkan diri. Langsung pada hari Jumat tersebut, Menteri Agama Lukman Saifuddin, meminta Direktur Jenderal Bimas Kristen Kementerian Agama dan kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Papua segera mengambil langkah-langkah menyelesaikan masalah.  

Sehari setelah peristiwa tragedi, Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Fransen G Siahaan, dan Kapolda Papua, Irjen Yotje Mende, meninjau lokasi kebakaran kios dan musala di Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, usai rapat mediasi di kediaman bupati. Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Teguh PR, mengatakan rombongan meninjau lokasi kejadian. Tercatat 38 rumah dan 63 kios terbakar serta 153 jiwa mengungsi.

Salah satu informasi penting yang disampaikan adalah musala di sana ikut terbakar, bukan sengaja dibakar massa. Pihak yang menjadi korban tak hanya warga muslim, tetapi umat Nasrani maupun masyarakat asli Papua. Pangdam dan kapolda siap membangun kembali musala dan kios/rumah yang ludes terbakar.

Pada hari yang sama di Jakarta, Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengecam keras pembubaran salat Idul Fitri dan pembakaran musala di Karubaga. Menurut PGI, tindakan kekerasan dalam bentuk dan alasan apa pun tidak dapat dibenarkan. Ketua Umum PGI, Pdt DR Henrietta Tabita Hutabarat Telebang, sangat menyesalkan terjadinya peristiwa kerusuhan Karubaga. Peristiwa ini melukai keutuhan sebagai bangsa dan tidak mencerminkan sikap mengasihi semua orang yang diajarkan Yesus Kristus.   

Pater Neles Tebay, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar  Timur dan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP), sangat menyesalkan peristiwa tragedi Tolikara baik dilakukan secara sengaja atau tanpa direncanakan. Tindakan itu tidak dapat diterima dan dibenarkan setiap orang beriman. Menurut Romo Neles, budaya Papua tidak mengajarkan orang untuk mengganggu, apalagi membakar tempat ibadah.  

Tradisi budaya mengajarkan orang Papua tidak boleh mengganggu tempat-tempat yang dipandang keramat menurut budaya setempat. Tempat-tempat suci dalam budaya adalah tempat-tempat yang menurut keyakinan orang setempat, dihuni oleh roh-roh. Ketika agama-agama besar seperti Kristen dan Islam masuk ke Tanah Papua, tempat ibadah dari agama-agama ini, seperti gereja dan masjid, dipandang sebagai tempat keramat.  

Oleh karena itu, orang Papua, entah apa pun agamanya, tidak pernah mengganggu, apalagi membakar entah gereja atau masjid. Daun rumput selembar saja tidak pernah diganggu dan dipetik dari halaman gereja atau masjid.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa kampanye Papua Tanah Damai masih terbatas hanya pada tingkat para pimpinan agama-agama. Konsep Papua Tanah Damai  ternyata masih harus dimasyarakatkan hingga di tingkat akar rumput. Rakyat perlu dilibatkan dalam diskusi, refleksi, dan bekerja sama untuk membangun Papua Tanah Damai. Jadi, mereka berperan serta dalam mengupayakan dan memelihara perdamaian di tempat masing-masing.

Hal yang juga sangat mengharu-birukan lubuk sanubari saya adalah sikap masyarakat Islam di Indonesia yang meski menyesalkan tragedi Karubaga, tetap tulus dan ikhlas menunaikan jihad al nafs. Mereka menaklukkan diri sendiri masing-masing demi tidak melakukan perilaku angkara murka kebencian dan kekerasan merusak suasana kerukunan umat beragama di Indonesia.

Suatu sikap dan perilaku luhur bangsa Indonesia yang sudah menjadi suri teladan kerukunan umat beragama bagi seluruh bangsa dan negara di planet Bumi masa kini.

Sebagai warga Indonesia, saya mengucapkan terima kasih dan menyampaikan penghormatan dan penghargaan setingi-tingginya bagi segenap pihak yang telah konsisten dan konsekuen menegakkan pilar-pilar kerukunan umat beragama di persada Nusantara dengan ketulusan semangat kasih sayang menyambut Lebaran 2015.

Saya benar-benar merasa bangga menjadi warga bangsa dan negara Indonesia yang cinta damai dan selalu tulus berupaya mewujudkan ajaran kasih sayang. Bukan sekadar sebagai slogan, melainkan nyata pada kenyataan sikap dan perilaku.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Penulis adalah budayawan pemerhati kasih sayang.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online