Harapan Jaya Suprana


Kerukunan Umat Beragama

Rabu, 05 Agustus 2015 | dibaca: 6382

.

Kita semua prihatin atas kerusuhan bermula pada serangan terhadap umat Islam yang sedang menunaikan ibadah salat id yang digelar di Karubaga, ibu kota Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (17/7) pagi waktu setempat. Pada hari yang sama di Kota Malang, sebenarnya umat Islam menunaikan salat id di halaman gereja Paroki Hati Kudus Yesus dalam suasana aman, tenteram, damai, tanpa kekerasan sedikit pun. Ini sesuai suasana kasih sayang yang terkandung dalam sukma perayaan hari raya Idul Fitri.

Namun berita indah ini tenggelam ditelan gelombang berita media massa penganut mazhab good news is bad news. Bahkan di khazanah media sosial yang lebih memberi keleluasaan bagi publik untuk mengumbar perasaan tanpa batas, bermunculan reaksi bernada sinis.  

Ada yang mempertanyakan apakah Kota Malang sudah sedemikian paceklik lahan untuk penyelenggaraan ibadah salat id sampai perlu digelar di halaman sebuah gereja. Ada pula yang mencurigai peristiwa indah itu sekadar  pencitraan Gereja Hati Kudus Yesus sebagai upaya mendongkrak citra diri sebagai gereja yang toleran demi menjunjung tinggi pilar-pilar kerukunan beragama. Bahkan ada yang mempertanyakan niatan di balik keterbukaan sikap Paroki Hati Kudus Yesus bukan sebagai suatu ketulusan dan keikhlasan nurani, melainkan hanya ketakutan dan keterpaksaan kaum minoritas.

Toleransi gereja yang membuka halamannya guna menjadi tempat salat id dinilai sekadar suatu reaksi sikap dan perilaku kaum minoritas yang memilih mengalah, dikalahkan, diam, tunduk, atau berbaik hati kepada mayoritas. Ini demi menyelamatkan diri sendiri apabila dalam kehidupan bermasyarakat memang terjadi kasus-kasus kurang nyaman dalam hubungan antara pihak mayoritas dan minoritas yang mengancam keselamatan pihak minoritas.

Pendek kata, sikap toleransi gereja di Malang itu dianalisis secara keren beraroma “ilmiah” psiko-sosio-politis, bercampur mazhab public relations untuk kemudian disimpulkan sebagai suatu sikap dan perilaku yang pada hakikatnya sebenarnya penakut, bahkan pengecut sampai perlu merekayasa suatu pencitraan demi penyelamatan diri belaka.

Sinisme media sosial akibat terlalu bebas-merdeka memang kerap lepas kendali sehingga kreatif mengumbar diagnosis hiperperfeksionis “membelah serambut menjadi tujuh” sampai ke yang supramubazir, seperti “menyalahkan ayam berkokok ketika matahari terbit”.

Media sosial memang leluasa mencari bahkan mencari-cari ketidaksempurnaan dalam kehidupan yang memang mustahil sempurna.  Meski kepala gundul dan perut buncit saya mirip arca Buddha Tertawa, namun saya bukan umat Buddha. Meski bukan umat Buddha, saya sangat mengagumi ajaran-ajaran kebijakan hidup yang diajarkan Master Cheng Yen, tokoh pendiri aliran Buddha Tzu Chi.

Satu di antara sekian banyak ajaran Master Cheng Yen adalah ketika beliau ditanya apakah perbuatan baik dari seorang penjahat bukan sekadar pencitraan diri sang penjahat agar dianggap sebagai orang baik. Jawaban Master Cheng Yen terhadap pertanyaan sinis itu, sebaiknya kita tidak perlu mempermasalahkan alasan seseorang berbuat baik. Lebih baik kita menghormati dan menghargai seseorang yang berbuat baik.

Sebagai umat Nasrani yang kurang disiplin ke gereja, saya bersyukur memperoleh banyak ajaran kebijakan hidup dari Alkitab, yang antara lain berkisah tentang kesaktimandragunaan kelirumologis Yesus Kristus, seperti yang tersurat di Yohannes 8, “Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, lalu mereka kepada berkata kepada Yesus:

‘Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita merajam perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal ini?”.

Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia supaya memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi, Yesus membungkuk, lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.

Ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia akhirnya berdiri lalu berkata kepada mereka. "Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Penulis adalah budayawan pembelajar kasih sayang.








 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online