Harapan Jaya Suprana


G 30 S

Kamis, 01 Oktober 2015 | dibaca: 4757

.

Gerakan 30 September yang juga disebut sebagai G 30 S atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau Gestok (Gerakan Satu Oktober), adalah tragedi yang terjadi sejak malam hari tanggal 30 September 1965 sampai dini hari; saat tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu upaya kudeta.

Pada saat itu, saya masih remaja dan sekolah di Kota Semarang, belum mampu menangkap makna yang sebenarnya sedang terjadi di Tanah Air tercinta ini. Saya cuma mendengar berita lewat radio, bahwa di Jakarta terjadi pembunuhan terhadap beberapa jenderal. Selanjutnya saya tidak jelas mengenai apa yang terjadi sebab berita pun simpang-siur ke sana ke mari.
Saya baru sadar bahwa ada tragedi nasional sedang berlangsung ketika rakyat turun ke jalan sambil bersorak-sorai anti-PKI termasuk anti-Republik Rakyat Tiongkok dan semua yang beraroma Tiongkok di Indonesia. Kebetulan, pada masa itu saya sekolah di Sekolah Karangturi yang mayoritas siswanya keturunan Tionghoa. Kebetulan guru kepala sekolah Karangturi adalah anggota Baperki yang dianggap dekat dengan PKI. Meski saya dan keluarga bukan anggota parpol apa pun, akibat hanya fokus jualan jamu, sekolah saya dengan mayoritas siswa keturunan Tionghoa terancam diserbu kaum demonstran anti-PKI.

Namun, kepala sekolah langsung menghibur kami semua bahwa pasti pemerintah RRT di Peking nun jauh di sana tidak akan tinggal diam, dan akan mengirimkan bala tentara ABT (Angkatan Bersenjata Tiongkok) untuk menyelamatkan warga keturunan Tionghoa di Indonesia, sesuai politik diaspora RRT terhadap kaum keturunan Tionghoa di perantauan. Sementara bala tentara RRT yang djanjikan ternyata tak ada kabar-beritanya, kaum demonstran anti-PKI sudah telanjur menyerbu Sekolah Karangturi.
Para siswa, termasuk saya, terpaksa tunggang langgang melarikan diri karena tidak berani melawan para demonstran anti-PKI. Syukur Alhamdulillah, nyawa saya selamat meski sekolah saya hancur berantakan, hangus dibakar para anti-PKI. Sebab masih remaja, saya masih dianggap anak bawang yang tidak diperhitungkan untuk masuk daftar mereka yang wajib ditangkap, bahkan dibunuh dengan alasan dianggap anggota, atau sekadar pro PKI dan parpol-parpol yang dekat dengan PKI. Namun, apa yang terjadi setelah itu justru luar biasa mengerikan.

Kepala sekolah saya ditangkap lalu dijebloskan ke kamp tahanan politik tanpa proses hukum apa pun kecuali hukum rimba. Menarik tapi tragis, adalah kenyataan Sekolah Karangturi justru dijadikan kamp tahanan politik bagi para teranggap komunis.
Beberapa sanak-keluarga saya di Solo dan sekitarnya mendadak hilang-lenyap diculik oleh entah siapa. Ada yang berhasil ditemukan, namun sudah dalam kondisi sebagai jenazah termutilasi dan teraniaya, dengan cara yang tidak layak saya kisahkan di Sinar Harapan yang beradab dan berbudaya ini. Ayah kandung saya yang berdomisili di Denpasar, Bali juga pada suatu malam diculik lalu diangkut truk oleh entah siapa, dibawa entah ke mana.

Sampai kini, belum diketahui bagaimana nasib ayah kandung saya. Ibu kandung dengan beberapa saudara kandung saya kemudian melarikan diri dari Pulau Bali untuk mengungsi ke Kota Semarang, yang dianggap relatif lebih aman ketimbang Pulau Dewata, yang pada masa itu lebih layak disebut sebagai “Pulau Dedemit”, akibat angkara murka yang membinasakan tak terhitung nyawa warga bangsa Indonesia, termasuk ayah kandung saya yang sebenarnya tidak pernah tergabung di parpol apa pun, apalagi PKI. Dapat disimpulkan satu-satunya “dosa” ayah saya sampai diculik dan sampai kini tak jelas nasib beliau, adalah dilahirkan di Indonesia sebagai warga keturunan Tionghoa belaka.

Memang pada 1965 merupakan lembaran hitam dalam perjalanan hidup saya. Namun, segenap musibah itu tidak mengurangi , malah justru memperkuat dan memperkokoh rasa cinta saya kepada Tanah Air. Saya sadar yang melakukan angkara murka bukanlah bangsa, negara, dan rakyat Indonesia; melainkan segelintir orang yang pada masa itu kerasukan sukma jahat sehingga tega membinasakan saudara-saudari sesama warga Indonesia.

Saya selalu berdoa kepada Allah Yang Maha Kasih untuk senantiasa menganugerahkan kesadaran dan kekuatan batin kepada bangsa Indonesia, demi selalu bersatu padu mecegah tragedi angkara murka G 30 S, jangan sampai terulang kembali terjadi di persada Nusantara. Amin. (*)

Penulis adalah budayawan Indonesia.







 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online