Harapan Jaya Suprana


SALIM KANCIL

Kamis, 22 Oktober 2015 | dibaca: 4727

Renungan Jaya Suprana

Republika.co.id memberitakan nasib nahas Salim, petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, yang sempat dihajar di depan anak bungsunya, Dio, di halaman rumah mereka. Salim yang juga dikenal dengan julukan “Kancil” itu tewas di hutan sengon dekat kuburan, tak jauh dari rumahnya.  Ditemui di rumahnya, Senin (29/9), Dio yang baru berusia 13 tahun itu bercerita bahwa Sabtu (27/9), di rumah hanya ada ia dan bapaknya. Sementara ibunya, Tijah, sedang mencari rumput di tegalan semak jauh dari rumah. Saat itu, kata Dio, bapaknya sedang mengeluarkan motor hendak pergi bersamanya untuk ikut demonstrasi menolak tambang pasir. Sekitar pukul 07.30 WIB, rombongan sepeda motor menyerbu ke halaman rumahnya. Lebih dari 30 orang menghambur ke arah sang bapak. "Bapak diteriaki, dipukul. Tangannya dipegangi, dipukul pakai batu kepalanya," ujar Dio.   Dio saat itu mengaku kalut dan menangis, lalu berlari ke arah samping menuju rumah pamannya. Ia berteriak memanggil pamannya untuk keluar.  Namun, salah seorang preman meneriakinya agar tidak macam-macam. "Kon ojo rame, tak pateni pisan (kamu jangan teriak, kubunuh sekalian)," kata Dio menirukan teriakan si preman.   Dio mengaku hanya sanggup menangis melihat sang bapak diikat tangannya ke belakang lalu diboyong dengan sepeda motor ke balai desa. Dio sempat mengejar hingga jalan raya sambil menangis sejadi-jadinya. Terus terang, semula saya mengharap berita itu sekadar hoax alias berita bohong demi meramaikan pemberitaan di Tanah Air. Namun, berita yang diberitakan Republika.co.id itu tidak jauh beda dari berita-berita yang diberitakan koran-koran lain ataupun segenap stasiun televisi swasta Indonesia. Bahkan, kasus Salim di abad ini dianggap setara dengan kasus Marsinah di abad lalu. Berita tersebut menjadi makin mengerikan karena nyaris pada waktu bersamaan, diberitakan bahwa seorang pejabat tinggi mengeluarkan pernyataan ancaman tindakan kekerasan terhadap mereka yang berani menghambat pembangunan infrastruktur. Berita tentang terbunuhnya Salim akibat menolak pembangunan tambang pasir terkesan ada kaitannya dengan berita ancaman pejabat tinggi itu. Seolah kasus terbunuhnya kasus Salim merupakan peringatan menjerakan agar jangan ada yang berani menghambat pembangunan infrastruktur yang konon demi menyejahterakan rakyat Indonesia. Terlepas benar atau tidaknya berita tentang Salim Kancil, akhir-akhir ini terasa ada gejala pergeseran nilai kerakyatan di Tanah Air tercinta ini. Apabila di masa lalu, Bung Hatta menggelorakan semangat ekonomi kerakyatan, sementara Bung Karno mengumandangkan marhaeinisme demi meletakkan harkat dan martabat rakyat di jenjang tertinggi, di masa kini kerakyatan dianggap anakronis alias tertinggal zaman yang disebut modern ini. Dalam pembangunan, rakyat yang semula adalah subjek, kini dianggap sekadar objek, bahkan kalau perlu dituduh sebagai penghambat yang hukumnya wajib digusur dan dibunuh demi memuluskan lajur gelora pembangunan. Seorang pejabat tinggi lainnya sesumbar akan membunuh dua ribu orang demi kepentingan sepuluh juta orang di wilayah kekuasaan dirinya. Mirip sesumbar Hitler ketika bersemangat membasmi ras Yahudi atau sesumbar Stalin ketika bersemangat mendirikan Uni Soviet. Mashab kemanusiaan yang menghalalkan pembinasaan sesama manusia mulai merambah masuk ke sukma peradaban dan kebudayaan Nusantara membuat saya terpana. Saya tidak mampu berkata-kata apa pun kecuali “Mengerikan!”.

(Penulis adalah pembelajar makna asas kemanusiaan yang adil dan beradab)






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online