Harapan Jaya Suprana


Kepedulian terhadap Rakyat

Selasa, 27 Oktober 2015 | dibaca: 4881

Tragedi kerusuhan Kampung Pulo tiga hari setelah perayaan 70 tahun proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia

Saya prihatin menyaksikan tayangan berita televisi tentang tragedi kerusuhan Kampung Pulo tiga hari setelah perayaan 70 tahun proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehari setelah tragedi Kampung Pulo 20 September, saya berkunjung ke Kampung Pulo untuk meninjau kemungkinan apa yang dapat saya lakukan bagi rakyat tergusur. Rencana berdiri di depan bulldozer penggerus rumah rakyat seperti dahulu mahasiswa berdiri depan tank di Tien An Mien dicegah pemimpin Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi.
Menurut sang mahaguru kemanusiaan saya itu, wujud kepedulian seperti itu mubazir dan memperkeruh air yang sudah keruh. Saya mengalihkan kepedulian saya ke upaya pelatihan meramu dan menjual jamu bagi warga miskin yang kehilangan sumber nafkahnya akibat tergusur.
Ternyata, kepedulian saya terhadap rakyat dihajar hujatan-hujatan lewat media sosial, seperti provokator melawan pemerintah, pahlawan kesiangan sampai tua bangka bau tanah cari popularitas. Hujatan tua bangka bau tanah memang benar sebab de facto saya memang sudah tua bangka dan bau tanah akibat memang sudah makin mendekati ajal.
Hujatan bahwa saya cari popularitas kurang benar karena apa yang disebut sebagai popularitas itu sebenarnya tidak perlu dicari karena datang dengan sendirinya. Juga hujatan pahlawan kesiangan, sama sekali tidak benar. Saya bukan pahlawan dibanding dengan Sandyawan Sumardi, Wardah Hafids, para pejuang Ciliwung Merdeka, UPC, dan lain-lain, jelas saya bukan kesiangan, malah kemalaman sebab sudah terlambat hadir pada perjuangan membela kaum miskin tergusur.
Saya memang layak dihujat, tetapi sungguh sangat tidak layak bahwa Sandyawan Sumardi, Wardah Hafids, dan para pembela kaum miskin ternyata juga dicemooh sebagai provokator, pemberontak, komunis, bahkan teroris. Rupanya, membela kaum miskin yang diwajibkan semua agama, ternyata mengalami kemerosotan nilai hingga menjadi sesuatu yang tidak terpuji, bahkan aib.
Semula, saya memang merasa berdosa akibat tidak dapat berbuat banyak dalam menolong rakyat miskin tergusur dan tertindas. Namun, di masa kini, saya justru merasa berdosa akibat berupaya menolong rakyat miskin tergusur. Terbukti, saya dihajar hujatan! Akibat dihajar hujan badai hujatan, terus terang, saya sempat ragu mengenai benar-tidaknya upaya saya menolong kaum miskin.
Saya sempat membuka kembali Alkitab untuk mencari pasal dan ayat yang tidak membenarkan upaya menolong kaum miskin. Akibat gagal menemukan pasal dan ayat tersebut, melalui jaringan milis Punakawan, saya bertanya kepada teman-teman sesama Punakawan, seperti Salim Said, Frans Magnis Suseno, Mahfud MD, Emil Salim, HS Dillon, Harjono Kartohadiprodjo, Agus Purwadianto, Christianto Wibisono, Joseph Kristiadi, Sri Edi Swasono, Laode Kamalludin, Romo Benny, Sarlito Wirawan, Moeldoko, Siti Musdah Mulia, dan lain-lain.
Ternyata, para tokoh cendekiawan dan budayawan itu tanpa kecuali menyemangati saya untuk terus peduli rakyat miskin. Saya melihat keteladanan sikap dan perilaku para tokoh pengusaha peduli kemanusiaan yang tergabung di Eka Tjipta Foundation, Djarum Foundation, Arta Graha Peduli, Buddha Tzu Chi Indonesia, Lippo Group, dan lain sebagainya, yang semua berkeyakinan bahwa menolong kaum miskin tergolong perbuatan yang baik.
Saya teringat kepada kegigihan semangat soft power Bung Hatta yang senantiasa meletakkan harkat dan martabat rakyat di atas segala-galanya. Saya juga teringat semangat marhaenisme pidato-pidato Bung Karno yang senantiasa mengingatkan bangsa Indonesia agar selalu peduli terhadap amanat penderitaan rakyat.
Saya teringat bahwa segenap asas Pancasila pada hakikatnya membenarkan kepedulian terhadap rakyat. Akhirnya, saya bersyukur bahwa kepedulian terhadap rakyat bukan tergolong sikap yang layak dihujat. Saya berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar senantiasa menganugerahkan kesadaran dan keyakinan bagi pemerintah yang dipilih dan digaji dengan uang rakyat supaya jangan sampai lupa daratan dan menganggap rakyat sebagai penghambat pembangunan. Rakyat justru pendukung pembangunan. Amin.

Penulis adalah pemrihatin nasib rakyat miskin tergusur.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online