Harapan Jaya Suprana


Mahakarya Indonesia di Carnegie Hall

Kamis, 05 Nopember 2015 | dibaca: 4452

Para seniman Indonesia ini dalam seni tari Indonesia Pusaka berhasil memecahkan beberapa rekor dunia di Carnegie Hall

Tanggal 20 Oktober 2015 merupakan hari bersejarah bagi kebudayaan Indonesia di panggung gedung kesenian paling bergengsi masa kini, Carnegie Hall, Manhattan, New York, Amerika Serikat (AS). Para seniman Indonesia yang tergabung di Laskar Kesenian Indonesia Pusaka, terdiri atas para penari ansambel seni tari Indonesia Pusaka di bawah pimpinan Ayawati Sarwono langsung di bawah bimbingan penari legendaris Dewi Sulastri, tampil memukau. Para penyanyi yang tergabung di paduan suara Armonia beserta para pianis muda berbakat Indonesia binaan Jaya Suprana yang tergabung di Laskar Pianis Indonesia Pusaka turut tampil di acara itu. 

Penampilan para seniman Indonesia ini dalam seni tari Indonesia Pusaka berhasil memecahkan beberapa rekor dunia di Carnegie Hall. Para mahaseniman kaliber alam semesta, mulai dari Vladimir Horowits sampai ke The Beatles telah memperoleh kehormatan untuk mempergelar mahakarya di sana. Rekor dunia yang pertama adalah untuk pertama kali dalam sejarah seni musik dunia, 11 pianis muda Indonesia—yang termuda baru berusia 10 tahun—mempergelar karya-karya komponis Indonesia, Jaya Suprana, antara lain Uro-uro, Fantasi Arum Dalu, Sonata Sekar Setaman, Fragmen, Tembang Alit, dan Aforisma. Lagu tersebut menggema dan membahana di Ruang Resital Carnegie Hall. 

Rekor kedua, untuk pertama kali di dunia tarian Bedayan Tembang Alit olahan koreografer Dewi Sulastri diiringi musik gamelan atas karya Jaya Suprana. Rekor dunia ketiga adalah pergelaran medley lagu-lagu daerah pulau Jawa, termasuk lagu “Gambang Suling” mahakarya Ki Nartosabdho yang digelar secara sangat memikat oleh paduan suara Armonia yang beranggotakan para perempuan lanjut usia. Sebelumnya,  Armonia pernah tampil di panggung Sydney Opera House dan UNESCO Paris. 

Pergelaran bertajuk Indonesia Pusaka ini mendapat sambutan meriah dari para penonton. Tak hanya para penonton asal Indonesia, tetapi dari pencinta musik mancanegara yang memadati Balairung Resital Carnegie Hall. Penonton tidak mau meninggalkan ruang pergelaran sebelum segenap seniman berjoget bersama diiringi satu di antara 18 komposisi untuk Ayla dalam irama dangdut yang kemudian ditutup sebuah encore dengan alunan lagu perjuangan berjudul “Indonesia”. 

Aduhai Indonesia.  
Negeri elok nan indah permai. 
Aduhai Indonesia. 
Pujaan sanubariku. Mutiara permata pusaka terbentang melingkari khatulistiwa Tanah Airku yang kucinta lestari sampai akhir hayat dikandung badan,.

Itu merupakan teks lagu “Indonesia”. Meski tidak semua hadirin menguasai bahasa Indonesia, berhasil menyentuh lubuk sanubari mereka yang cinta Indonesia. 

Gelaran seni ini ditutup secara sangat mengharukan sehingga tak sedikit hadirin di Carnegie Hall bertepuk tangan secara standing ovation tidak mampu menahan air mata mengalir di pipi masing-masing. Akhirnya, hadirin baru mau keluar ruang konser setelah diusir manajemen Carnegie Hall sebab melampaui batas waktu pukul 22.00 waktu New York.  Karena itu, resital Indonesia Pusaka menciptakan rekor dunia yang keempat yaitu pergelaran saat para hadirin harus diusir keluar ruang konser setelah pergelaran selesai. 

Dengan demikian, paripurnalah rekor dunia pada pergelaran bersejarah 20 Oktober 2014 sebagai pergelaran seni tari dan seni musik Indonesia yang baru pertama kali diselenggarakan di panggung Carnegie Hall dengan keseluruhan karsa dan karya kebudayaan Indonesia. 

Penulis adalah pianis yang pernah menggelar resital piano di Carnegie Hall.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online