Harapan Jaya Suprana


Madagaskar

Rabu, 11 Nopember 2015 | dibaca: 4290

Pengaruh besar Indonesia terhadap Madagaskar

Usai saya berbicara tentang kebudayaan Indonesia di World Culture Forum di Bali, Duta Besar Madagaskar menjumpai saya. Beliau mengundang saya berkunjung ke Madgaskar agar dapat melihat dengan mata kepala sendiri, betapa besar pengaruh Indonesia terhadap Madagaskar. 

Undangan Dubes Madagaskar itu mengingatkan saya kepada tulisan Hendri F Isnaeni yang dimuat situs jaringan Historia pada 30 Maret 2012, tentang biolog molekuler Universitas Massey Selandia Baru, Murray Cox, yang memimpin penelitian DNA mitokondria. Penelitian itu menyebutkan, yang diwariskan lewat ibu dari 2.745 orang Indonesia yang berasal dari 12 kepulauan dengan 266 orang dari tiga etnis Madagaskar (Malagasi): Mikea, Vezo, dan Andriana Merina. 

Menurut Cox, seperti dikutip The Australian (21/3), hasil riset tersebut menyimpulkan sekitar 30 perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun silam. Mereka disertai beberapa lelaki yang jumlahnya lebih sedikit. Penelitian DNA ini memperkuat penelitian-penelitian sebelumnya. Secara arkeologis dibuktikan dengan temuan perahu bercadik ganda, peralatan besi, alat musik xylophone atau gambang, serta makanan tropis seperti tanaman ubi jalar, pisang, dan talas.

Dari sisi linguistik, kebanyakan perbendaharaan kata Madagaskar berasal dari bahasa Ma’anyan yang digunakan di daerah lembah Sungai Barito di tenggara Kalimantan, dengan beberapa tambahan dari bahasa Jawa, Melayu, atau Sansekerta. Kemiripan ini kali pertama dikemukakan misionaris-cum-linguis Norwegia, Otto Dahl, pada 1929; setelah ia meneliti kamus Ma’anyan karya C Den Homer (1889) dan Sidney H Ray (1913).  Kemiripan itu tak membongkar semua misteri bahasa Malagasi. Terdapat beberapa unsur dalam Malagasi yang mengarah Sulawesi, terutama suku Bajo dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung.

Nenek moyang dari suku-suku inilah yang kemungkinan besar adalah para pelaut Indonesia, yang telah berhasil menjelajah lautan hingga ke Afrika. Bahkan, menurut S Tasrif dalam Pasang Surut Kerajaan Merina, mereka kemungkinan campuran dari ras Sumatera, Jawa, Madura, Sulawesi, atau orang-orang Indonesia Timur. Di sana, mereka berbaur membangun kebudayaan Malagasi. Para pendatang itu kemudian dominan di Madagaskar karena penduduk aslinya sangat sedikit. Pada kemudian hari, datang pendatang baru dari Arab, Pakistan, India, dan orang-orang Prancis yang membawa buruh-buruh Afrika hitam.

Jadilah Madagaskar sebuah negeri multiras. Banyak ahli sejarah Madagaskar menyimpulkan telah terjadi pergerakan manusia dalam jumlah besar, yang datang secara sukarela dan bertahap dari Indonesia, pada abad-abad permulaan milenium pertama. Sebuah pergerakan yang dalam istilah Malagasi kuno disebut lakato (pelaut sejati) karena mereka tidak berasal dari satu etnis tertentu. 

Pada peresmian Lembaga Pertahanan Nasional di Istana Negara, Jakarta, 20 Mei 1965, Sukarno, mengemukakan bangsa Indonesia secra ras terkait dengan bangsa-bangsa yang mendiami Kepulauan Pasifik, Indocina, sampai Madagaskar. Dalam sambutan Kongres Indonesia Muda, tokoh pergerakan Kuncoro Purbopranoto menyatakan, Indonesia merupakan satu negeri dengan satu bangsa, dari Madagaskar hingga Filipina, dengan satu sejarah, sejarah Sriwijaya dan Majapahit.

“Tan Malaka dulu membayangkan wilayah Republik Indonesia Raya itu akan terbentang dari Pulau Madagaskar melintasi seluruh semenanjung Melayu, kepulauan Filipina, seluruh Hindia Belanda, termasuk Timor-Timur sampai ke ujung Timur Papua,” tulis Sultan Hamengkubuwono X dalam Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. 

Undangan Dubes Madgaskar menyadarkan saya (kembali), betapa akbar dan agung bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. Fakta tentang betapa besar pengaruh Indonesia terhadap Madagaskar mengingatkan saya kepada syair awal lagu mahakarya Ismail Marzuki, “Indonesia Tanah Air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dahulu kala, selalu dipuja-puja bangsa.”

Di tengah kemelut sosioekonomi-politis yang sedang merundung Tanah Air tercinta kita, dengan penuh kerendahan hati saya memohon kepada para pemimpin bangsa, negara, dan rakyat Indonesia berkenan mengesampingkan kepentingan partai, golongan, kelompok, apalagi pribadi demi bersatu padu, bergotong royong, bersama membangun Indonesia sebagai tempat lahir kita, “dibuai dibesarkan bunda, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata.” MERDEKA! (*)

Penulis adalah budayawan.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2017 Sinar Harapan Online