indexArtikel Lainnya



Podium


Ketika Orisinalitas Jokowi Memudar

Jumat, 27 Juni 2014 | dibaca: 34582

Bagi “swing voters”, visi, misi, dan program kerja tak begitu menarik.

Salah satu ciri khas pemilihan umum di era modern adalah adanya keterlibatan lembaga survei yang sejak jauh-jauh hari sudah bekerja, bahkan sebelum tim sukses seorang kandidat bekerja.

Prediksi lembaga survei, meskipun kerap kontroversial karena terkadang jauh dari kenyataan, toh tetap diikuti dan dijadikan salah satu patokan dalam melihat peluang menang atau tidaknya seorang kandidat.

Karena itulah, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) yang selalu unggul dalam survei-survei, diberi mandat oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri untuk maju sebagai calon presiden (capres).

Seperti Jokowi, Jusuf Kalla (JK) juga ditetapkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) karena dari sekian banyak kandidat cawapres, dialah yang paling tinggi elektabilitasnya saat dipasangkan dengan Jokowi.

Namun, perlu segera dicatat bahwa dukungan politik yang tercermin dalam elektabilitas seorang kandidat tidak bersifat konstan. Itulah yang terjadi pada keunggulan Jokowi-JK atas Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Lambat laun elektabilitas Jokowi-JK menurun dan membuat selisihnya semakin kecil saat dibandingkan dengan pasangan Prabowo-Hatta.

Hingga kolom ini ditulis, keunggulan Jokowi-JK sudah memasuki “lampu kuning” karena jarak elektabilitasnya tidak lagi signifikan.

Jarak tingkat elektabilitas dikatakan signifikan saat selisihnya melampaui margin of error (ME), yakni sekitar 10 persen atau lebih dengan asumsi ME yang ditetapkan sekitar 1-5 persen.

Terus menurunnya elektabilitas pasangan Jokowi-JK sudah bisa diprediksi, terutama karena dua faktor. Pertama, sudah menjadi semacam “hukum besi” survei bahwa menurunnya elektabilitas seorang kandidat yang awalnya sudah berada di puncak tidak bisa ditarik lagi ke puncak. Artinya, akan terus menurun walau tingkat penurunannya bisa cepat bisa juga lambat.

Kedua, keunggulan Jokowi sejauh ini terletak pada orisinalitas tampilannya yang bersahaja: sederhana, lemah (tidak berdaya), ndeso, tanpa balutan pencitraan, dan tak punya ambisi.

Tampilan semacam ini menjadi antitesis dari sosok Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang selalu ingin tampil sempurna, penuh pencitraan, dan ambisius.

Orisinalitas Jokowi menjadi magnet bagi rakyat untuk menyukai dan memilihnya karena ia dianggap benar-benar lahir dari tengah-tengah mereka.

Jika umumnya capres mengklaim berasal dari rakyat dan maju untuk memperjuangkan aspirasi rakyat, Jokowi justru dianggap bagian dari rakyat itu sendiri. Saat orisinalitas itu mulai memudar maka mulai berkurang pula dukungan rakyat pada dirinya.

Memudarnya orisinalitas itulah yang menurut saya membuat Jokowi bisa kalah oleh Prabowo. Itu karena Jokowi sekarang bukan lagi sosok yang tak berdaya, tidak lagi ndeso, bahkan lebih tampak sebagai sosok yang kuat, menjadi sang pemenang, pintar, dan atribut-atribut keunggulan lainnya.

Coba kita perhatikan, dalam perdebatan-perdebatan di televisi, baik saat tampil bersama dengan cawapresnya maupun sendirian, Jokowi atau Jokowi-JK selalu unggul dan membuat surprise. Umumnya para pengamat independen yang bisa menilai secara objektif.

Kita tahu, sebelum perdebatan terjadi, umumnya pengamat menduga Jokowi yang tidak pandai berpidato akan kalah telak oleh Prabowo yang orator. Begitu pun pasangannya, JK, bukan sosok yang fasih berpidato, seperti Hatta Rajasa yang menjadi pasangan Prabowo. Nyatanya, dalam perdebatan-perdebatan mengenai isu-isu yang krusial, Jokowi-JK selalu unggul dibandingkan Prabowo-Hatta.

Meskipun unggul dalam perdebatan, tampaknya “hukum besi” kecenderungan penurunan elektabilitas sudah tak bisa lagi di-rebound atau dikembalikan kembali pada posisi semula.

Jalan satu-satunya—untuk memenangkan pasangan Jokowi-JK—adalah dengan menghambat penurunan elektabilitas itu hingga sampai pada titik yang tidak tersalip saat pilpres digelar.

Ada yang berpendapat, penurunan elektabilitas Jokowi-JK, selain disebabkan kedua faktor di atas, juga karena faktor imbas kampanye negatif yang terus-menerus diembuskan, baik oleh lawan politik secara langsung maupun oleh pihak-pihak yang tidak menyukai kehadiran Jokowi-JK di panggung politik.

Pendapat ini tidak salah karena implikasinya jelas, dalam banyak kesempatan berbicara di hadapan publik, baik Jokowi maupun JK tampak sibuk dengan upaya-upaya klarifikasi.

Selain mengurangi kesempatan untuk mengampanyekan program-program yang konstruktif bagi rakyat, kesibukan klarifikasi juga membuat Jokowi-JK tampak bukan lagi menjadi sosok yang nrimo dan patut “dikasihani”.

Jokowi-JK menjadi sosok yang kuat, berani, dan mampu menangkis setiap serangan kampanye hitam yang ditujukan pada keduanya.

Orisinalitas Jokowi pun memudar atau bahkan hilang karena kesibukannya melakukan klarifikasi. Padahal orisinalitas itulah, yang apabila terus dipertahankan, akan lebih menarik bagi para pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters).

Bagi para swing voters, visi, misi, dan program kerja tidak begitu menarik karena antara keduanya tidak ada perbedaan yang signifikan.

Hal yang menarik bagi mereka adalah watak dan kepribadian capres-cawapres. Siapa di antara kedua pasangan yang unggul dalam kebersahajaan dan kejujuran (keluguan) itulah yang menarik bagi mereka.

Sayang, dua watak ini sekarang “direbut” Prabowo saat tampil di atas panggung debat dengan cara “menyetujui” dan “memuji” program dan penampilan Jokowi. Jika Jokowi-JK dan tim kampanyenya tetap membiarkan hal ini terjadi, bukan tidak mungkin pasangan ini akan benar-benar kalah pada 9 Juli nanti. Wallahu a’lam!

*Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online