indexArtikel Lainnya



Podium


Mengapa Jokowi Diminati?

Jumat, 04 Oktober 2013 | dibaca: 5516

Jokowi dianggap sebagai simbol yang mewakili wajah rakyat yang sesungguhnya.

antara dok

Semakin banyak dikritik, semakin menjulang popularitasnya. Itulah Joko Widodo alias Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang menurut berbagai survei paling potensial menjadi Presiden Republik Indonesia pasca-Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Maka pada saat Amien Rais meragukan nasionalismenya, publik justru membalikkan keraguan nasionalisme itu pada diri Amien Rais.

Begitu pun saat mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyamakan Jokowi dengan Joseph Estrada, mantan Presiden Filipina yang naik takhta semata-mata karena popularitas, alih-alih menurunkan pamornya, malah Amien Rais sendiri yang dinilai banyak kalangan semakin kehilangan pamor di hari tuanya.

Mengapa Jokowi semakin diminati? Inilah pertanyaan yang paling banyak mengemuka, saat banyak calon presiden yang begitu getol berkampanye dengan biaya yang sulit dikalkulasi saking banyaknya, meskipun popularitasnya tinggi namun elektabilitasnya tetap tak sesuai harapan.

Atau bahkan ada capres anggota kabinet SBY yang sudah banyak mengabaikan tugas-tugasnya sebagai menteri hanya untuk berkampanye, elektabilitasnya juga tetap tak beranjak dari nol koma sekian persen dan masih jauh dari kemungkinan menjadi Presiden RI.

Sejumlah Faktor

Jokowi semakin diminati karena sejumlah faktor. Pertama, publik sudah apriori dengan pemimpin, atau lebih tepatnya pejabat, yang membangun popularitas semata-mata bertumpu pada citra. Penampilan Jokowi yang apa adanya, bahkan disebut lawan politiknya dengan “kampungan”, menjadi antitesis dari pola kepemimpinan yang mengandalkan citra.

Kedua, selain apa adanya, Jokowi juga tampil sederhana dengan kendaraan dan pakaian yang nyaris tanpa brand. Kontras dengan penampilan capres-capres yang pada umumnya berkendaraan supermahal, perlente, necis, dengan pakaian-pakaian yang branded seperti “hermes” dan yang sejenisnya.

Saat publik muak dengan penampilan “konsumeristis” di tengah-tengah sebagian besar kondisi masyarakat yang berjuang mati-matian untuk sekadar mempertahankan hidup, Jokowi dianggap sebagai simbol yang mewakili wajah rakyat yang sesungguhnya.

Ketiga, Jokowi tidak ambisius. Umumnya publik Indonesia memegang teguh budaya ketimuran yang tidak menyukai penonjolan ambisi. Coba perhatikan, dalam setiap perhelatan yang mengagendakan pemilihan ketua/pemimpin, kandidat yang terlihat ambisius atau bahkan terlalu ambisius, biasanya tidak akan terpilih.

Popularitas boleh menjulang, elektabilitas boleh paling tinggi di antara capres-capres yang lain, tapi saat wartawan bertanya soal itu, Jokowi selalu menjawab. “Saya gak mikir.” Saat wartawan terus mendesak, jawaban Jokowi tetap saja. “Saya gak mikir capres. Ngurus Jakarta saja sudah repot...”

Bedakan misalnya dengan capres-capres lain yang tampak begitu ambisius, atau yang berambisi namun pandai membungkus ambisinya dengan ungkapan “jika rakyat menghendaki.....bla-bla-bla”.

Publik percaya ungkapan-ungkapan Jokowi bukan kamuflase untuk menutupi ambisinya; dan inilah yang membuat rakyat semakin “jatuh hati” pada Jokowi.

Keempat, kebiasaannya blusukan, diyakini publik sebagai bentuk kedekatan dengan rakyat tidak sekadar fisik, tapi menunjukkan bahwa Jokowi memang benar-benar dekat dengan rakyat karena ia menjadi bagian dari mereka, memiliki ketulusan hati yang sama dengan mereka.

Sebenarnya sudah ada beberapa pejabat, atau capres lain yang gemar blusukan, tapi penilaian publik berbeda dengan apa yang dilakukan Jokowi. Mengapa demikian? Karena selain Jokowi, dianggap sebagai bentuk kepura-puraan mendekati rakyat. Mau mendekati rakyat karena ada maunya. Seperti kata pepatah, ada udang di balik batu. Bukan karena ketulusan hatinya.

Kelima, diakui atau tidak, Jokowi memiliki rekam jejak yang mengesankan sebagai pemimpin. Meskipun lawan-lawan politiknya tidak mengakui prestasi Jokowi pada saat menjadi Wali Kota Solo, toh dunia mengakuinya sebagai salah satu dari wali kota terbaik di dunia. Publik tentu lebih percaya pada pengakuan dunia ketimbang penilaian para politikus yang tidak menyukai Jokowi.

“Media Darling”

Selain karena kelima faktor di atas, banyak kalangan meyakini bahwa popularitas dan elektabilitas Jokowi sangat dipengaruhi pemberitaan media yang cenderung membingkainya dalam perspektif positif. Dalam pemberitaan-pemberitaan yang tidak resmi di media sosial, opini tentang Jokowi juga sangat positif.Sebagai media darling, Jokowi tak ada duanya.

Ada yang mengatakan, prestasi Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya yang juga masuk kategori salah satu wali kota terbaik di dunia, tak kalah jika dibandingkan dengan Jokowi, atau mungkin lebih baik karena (antara lain) berhasil meraih Piala Adipura secara berturut-turut (2011, 2012, 2013) dan berhasil mengubah wajah Surabaya yang asri dan manusiawi.

Cuma, karena arsitek lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini bukan media darling maka prestasi-prestasinya yang luar biasa itu jarang diberitakan secara luas.

Apa pun penyebabnya, Jokowi paling diminati untuk menjadi Presiden RI. Banyak kalangan boleh “keki”, tidak percaya pada kemampuannya sebagai pemimpin, bahkan dianggap nihil pengalaman internasional yang menjadi modal penting pemimpin nasional, toh sebagian besar publik tetap percaya pada Jokowi, setidaknya untuk saat ini.

Percayalah, jika rakyat sudah menghendaki, siapa pun tak bisa membendungnya. Apalagi, dalam demokrasi, banyak kalangan meyakini bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Wallahu a’lam!

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online