indexArtikel Lainnya



Podium


Memilih dengan Kesadaran

Jumat, 18 Oktober 2013 | dibaca: 5441

Di tangan orang bejat, jabatan bisa sangat merusak segalanya.

ist dok

Banyaknya pejabat negara yang tersandung kasus korupsi, kalau kita mau jujur mengakui, bisa jadi bukan karena kesalahan mereka belaka, tapi juga—walau dalam batas yang sangat minimal—karena yang memilih para pejabat negara itu.
 
Bukan berarti saya menyalahkan rakyat yang memilih, hanya sekadar mengingatkan bahwa setiap pilihan memiliki pertanggungjawaban.

Menjelang pemilihan umum (Pemilu) adalah kesempatan emas untuk mengingatkan kita semua agar berhati-hati dalam memilih pejabat negara.

Karena setiap pejabat yang kita pilih, dengan kewenangan yang dimilikinya, bisa berbuat apa saja, apakah karena dorongan nafsunya, ataukah karena perintah undang-undang/karena tugas negara yang diembankan padanya.

Jabatan ibarat pisau bermata dua, bisa untuk kebajikan, tapi bisa juga untuk berbuat kejahatan, tergantung siapa yang memegangnya.

Memang ada aturan main seperti undang-undang atau kode etik yang mengatur perilaku pejabat, yang bisa menjadi pagar agar pejabat tak berbuat jahat. Namun ada kalanya, sebaik apa pun aturan main, di tangan pejabat yang bejat, bisa direkayasa sedemikian rupa justru untuk melindungi kejahatannya.

Sikap Autentik

Jadi sekali lagi, berhati-hatilah dalam memilih pejabat negara karena di tangan orang bejat, jabatan bisa sangat merusak segalanya. Dampak buruknya bahkan akan dirasakan, terutama oleh rakyat yang justru telah memilihnya menjadi pejabat.

Untuk menghindari keburukan itu, kita harus memilih pejabat negara dengan penuh kesadaran, dengan pertimbangan-pertimbangan nalar yang objektif.

Kesadaran merupakan sikap autentik yang dititiskan Sang Pencipta pada diri setiap manusia yang hanya dengan kesadaran itulah manusia bisa selamat dari berbagai bencana. Saat hilang kesadaran, kejahatan seburuk apa pun bisa menimpa seseorang. Harta atau bahkan kehormatan bisa diberikan dengan sangat mudah kepada orang lain saat kita berada dalam ketidaksadaran.

Memilih dengan kesadaran bisa dikatakan sebagai upaya preventif paling jitu untuk terhindar dari penguasaan pejabat-pejabat bejat nan jahat. Antara lain dengan cara: pertama, tidak ikut-ikutan. Dalam setiap survei yang merangkum alasan memilih pejabat publik, biasanya ada yang menjawab, karena ikut keluarga seperti orang tua atau kakek-neneknya. Biasanya dilakukan oleh para pemilih tradisional.

Tapi bukan berarti para pemilih non-tradisional bisa terhindar dari kemungkinan memilih dengan cara ikut-ikutan. Sangat mungkin, karena adanya faktor pemberitaan media, atau karena keberhasilan seorang kandidat membangun citra sehingga menimbulkan efek bandwagon.

Kedua, tidak memilih karena uang. Ada dua faktor yang membuat seseorang bisa tergerak memilih karena uang. Faktor pragmatisme yang kelewat batas dan karena impitan ekonomi membuat seseorang tidak punya pilihan. Pragmatisme yang kelewat batas bisa merusak tatanan mulia dalam berpolitik karena setiap tindakan politik semata-mata diukur dengan keuntungan-keuntungan material dan mengabaikan sama sekali idealisme.

Selain pragmatisme berlebihan, kemiskinan juga bisa membuat seseorang memilih karena uang. Ada ungkapan Rasulullah, “kefakiran bisa mengarah pada kekafiran”, artinya akibat kemiskinan yang mendera bisa membuat orang berpaling dari kebenaran.

Akibat kemiskinan, seseorang bisa diiming-imingi uang untuk memilih kandidat yang tidak ia ketahui sifat-sifatnya apakah baik atau buruk. Ibaratnya seperti memilih kucing dalam karung.

Ketiga, tidak memilih semata-mata karena popularitas, atau karena kekaguman. Seperti keberhasilan membangun citra yang positif, seorang kandidat yang populer di tengah-tengah masyarakat, apalagi jika sudah menjadi idola banyak orang, juga bisa menimbulkan efek bandwagon.

Banyaknya artis dan pesohor yang mencoba peruntungan di arena politik, salah satunya karena faktor ini. Publik harus ekstra hati-hati karena tingginya popularitas seseorang, terutama di luar karena faktor politik (karena keartisan misalnya) yang sama sekali tidak identik dengan tingginya kualitas sebagai calon pemimpin.

Investasi Kebaikan Berpolitik

Di samping, tidak identik dengan kualitas kepemimpinan, popularitas juga bisa berwajah ganda, populer karena banyak berbuat kebajikan, atau sebaliknya populer karena banyak berbuat kejahatan. Memilih semata-mata karena popularitas sangat berbahaya karena sangat mungkin bisa menjebak kita untuk memilih orang yang jahat.

Popularitas yang layak dipertimbangkan untuk menjadi pilihan adalah yang terbangun karena rekam jejak kesuksesannya dalam memimpin. Seorang kandidat yang populer karena perjuangannya dalam membela orang-orang miskin, atau karena langkah-langkahnya yang berpengaruh positif bagi kehidupan publik. Itulah yang layak kita pilih.

Selain ketiga langkah di atas, masih banyak langkah-langkah lain yang bisa membuat kita menjadi pemilih dengan kesadaran. Apa pun langkahnya, jika kita memilih dengan kesadaran, maka pada saat itulah kita tengah berinvestasi positif untuk kebaikan-kebaikan kepemimpinan politik di masa depan.

Di samping merupakan tindakan preventif untuk mencegah tampilnya pejabat politik yang jahat, memilih dengan kesadaran merupakan tindakan yang sesuai dengan kehendak Tuhan karena—seperti diuraikan di atas—kesadaran merupakan titisan Tuhan yang ada dalam diri setiap manusia. Wallahu a’lam!

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online