indexArtikel Lainnya



Podium


Optimisme Awal Tahun

Jumat, 09 January 2015 | dibaca: 5182

Optimisme yang dibangun lebih dari sekadar upaya melarikan diri dari masa lalu yang buruk.

Tahun baru, selain datang membawa harapan, juga menyajikan cerita tentang masa lalu. Baik buruk dan segala dinamika yang menyertainya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Karena itu, melupakan masa lalu, yang diinginkan banyak kalangan, hanya sebatas harapan yang tak pernah benar-benar terwujud.

Mengapa demikian? Ini karena hidup kita hakikatnya ibarat melaju dengan kendaraan di jalan raya. Selain fokus ke depan mengejar tujuan, sesekali kita juga harus melirik kaca spion untuk melihat yang terjadi di belakang. Dalam laju kendaraan, selalu ada residu di belakang, entah karena asap yang keluar dari knalpot ataukah karena tebaran debu yang terusik akibat gerak roda kendaraan.

Residu dalam rentang waktu adalah seluruh peristiwa kelabu yang mewarnai hidup kita, entah yang berasal dari perbuatan sendiri ataukah karena kejadian-kejadian lain yang berdampak buruk bagi kehidupan kita. Semua akan ikut memberi warna, memberi pengaruh?dalam batas minimal atau maksimal?terhadap masa depan. Ini sebab masa depan adalah bagian dan cermin masa lalu.

Dari residu itulah kita mengenal istilah trauma, yakni jebakan masa lalu yang terus menghantui dan berdampak buruk bagi kehidupan saat ini dan masa-masa mendatang. Sebagai contoh, ada seseorang yang trauma dengan ketinggian karena ia pernah terjatuh dari ketinggian. Ada pula yang trauma dengan kegelapan karena pernah punya pengalaman buruk dalam kegelapan. Banyak orang bisa move on dari trauma masa lalunya, tapi ada juga sebagian (kecil) yang gagal menghindari.

Selama 2014, banyak hal buruk yang terjadi di Indonesia, entah disebabkan ulah warga negaranya sendiri ataukah akibat bencana alam yang sulit dihindari. Banyak yang menjadi korban karena konflik komunal/horizontal. Di samping itu, banyak juga yang menjadi korban akibat musibah/bencana alam dan kecelakaan.

Pada pengujung 2014 misalnya, ada konflik di Papua, perang antarsuku di sejumlah daerah, juga bencana tanah longsor di Banjarnegara dan kebakaran Pasar Klewer di Solo �keduanya di Jawa Tengah. Ada pula kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501 dalam rute perjalanan Surabaya-Singapura yang paling banyak menyita perhatian publik hingga memasuki awal tahun 2015.

Secara politik, 2014 benar-benar menjadi tahun yang melelahkan bagi semua warga negara. Dalam tahun ini, ada dua pemilu secara nasional; pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres). Kedua peristiwa ini melelahkan karena diwarnai kejadian-kejadian yang seyogianya tidak terjadi jika kita benar-benar berpegang ke prinsip-prinsip demokrasi.

Dalam pileh, ada kecurangan dan money politics yang terjadi secara masif. Tapi, ibarat kentut, bau busuknya bisa dirasakan, namun sulit dilihat dan dibuktikan.

Dalam pilpres, ada tebaran kampanye hitam, fitnah, dan provokasi yang tidak menyehatkan. Semua berlalu, sebagian ada yang bisa dibuktikan dan sebagian besar tidak bisa dibuktikan.

Karena itu, tak perlu heran jika banyak kalangan memaknai 2014 sebagai tahun tergerusnya etika politik. Tahun ini ada yang menganggapnya menandai runtuhnya sebagian pilar kebangsaan.

Sebab itu, memasuki tahun baru menjadi refleksi penting agar apa pun yang terjadi pada masa lalu benar-benar memberi kita pelajaran. Semua yang buruk dijadikan rambu-rambu untuk bertindak preventif agar tidak terulang pada masa mendatang. Sementarta itu, yang baik bisa dijadikan modal untuk meraih kebaikan yang lebih banyak lagi.

Menghadapi 2015, secara politik kita layak optimistis karena mempunyai pemimpin baru yang berkomitmen kuat utnuk maju. Optimisme tidak dibangun di atas angan-angan, namun di atas keyakinan yang bersumber dari kerja konkret pemerintah.

Awalnya, banyak yang pesimistis karena ada perasaan underestimate terhadap pemimpin yang ada. Namun setelah beberapa saat memimpin, keraguan itu sedikit demi sedikit hilang.

Pemimpin yang lahir dari Pilpres 2014 adalah pemimpin yang tidak hanya puas dengan berpangku tangan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah man of action, begitu pun Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla.

�Kerja, kerja, dan kerja� adalah moto yang diperkenalkan Jokowi. Moto ini mencerminkan gairah dan optimisme dalam menatap masa depan, tidak ada waktu yang disia-siakan.

Sementara itu, �lebih cepat, lebih baik� adalah moto yang diperkenalkan Jusuf Kalla. Ini menggambarkan kegesitan, cepat tanggap, dan usaha keras mencari jalan keluar dari berbagai persoalan.

Optimisme pemimpin adalah kemaslahatan yang menjadi modal tak ternilai harganya bagi seluruh anak bangsa. Refleksi kita pada awal tahun yang paling penting adalah menyalakan optimisme itu, bahwa waktu-waktu yang tersaji di hadapan kita akan bisa dimanfaatkan jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Optimisme yang kita bangun lebih dari sekadar upaya melarikan diri dari masa lalu yang buruk dan menutupnya dengan harapan baru. Lebih penting dari itu, kita membangun kebersamaan menanggulangi semua persoalan yang dihadapi pada masa lalu, kemudian merenda masa depan dalam irama orkestra yang menggairahkan, saling melengkapi dan menyahuti satu sama lain.

Itulah inti keindonesiaan kita yang harus kita jaga keutuhan dan dinamikanya, yang terus melaju menuju lahirnya negara yang adil, demokratis, dan menyejahterakan rakyat. (*)






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online