indexArtikel Lainnya



Podium


Pelajaran dari Bob Sadino

Jumat, 23 January 2015 | dibaca: 6034

Banyak orang pintar tidak sukses karena sudah merasa terisi penuh dan tidak menyisakan ruang untuk diisi orang lain.

Bob Sadino merupakan sosok entrepreneur sukses unik dan nyentrik. Popularitasnya menjulang bukan semata karena kesuksesan bisnisnya di bidang pangan dan peternakan, melainkan juga karena gaya hidup dan gagasan-gagasannya cenderung di luar kewajaran.
Salah satu keunikannya, di mana pun berada dan ke mana pun pergi, ia selalu mengenakan kemeja lengan pendek dipadu celana pendek. Bahkan, dengan pakaian khas inilah ia menemui Presiden Soeharto, saat penguasa Orde Baru ini sangat disegani seluruh penduduk negeri pada 1980-an.

Bernama lengkap Bambang Mustari Sadino, pemilik gerai Kemfood dan Kemchick ini lahir di Bandar Lampung, 9 Maret 1933, dari keluarga berkecukupan. Sepeninggal orang tuanya, ia gunakan harta warisan untuk ongkos pergi jalan-jalan ke Eropa. Ia sempat menetap di Belanda selama embilan tahun dengan bekerja di Djakarta Lylod di Kota Amsterdam.

Sepulang dari Eropa, Bob membawa serta dua mobil Mercedes. Satu mobilnya ia jual untuk membeli sebidang tanah di daerah Kemang, Jakarta Selatan, dan satu lagi ia gunakan untuk modal berbisnis, dengan menyewakannya kepada orang lain, tapi tetap ia sopiri sendiri.
Usaha “sewa mobil” Bob tidak berjalan mulus karena mobilnya rusak parah akibat kecelakaan. Tak mampu memperbaiki mobilnya, Bob banting setir menjadi kuli bangunan dengan upah “hanya” Rp 100 per hari. 

Suatu saat, karena tawaran seorang kawan, ia memulai bisnis peternakan ayam negeri, saat ayam kampung masih mendominasi seluruh pasar. Sebagai peternak ayam negeri petelur, Bob sukses menggeser dominasi ayam kampung, tentu dengan melalui jalan penuh onak dan penuh liku. 

Hal yang membuatnya istimewa, setelah meraih kesuksesan, ia tak segan membagikan ilmunya kepada siapa pun, dengan cara-cara unik. Ia menjadi motivator untuk semua kalangan.

Kata-kata motivasinya cenderung memutarbalikkan fakta-fakta yang banyak dikemukakan motivator pada umumnya. Di antara kita, misalnya, tentu sering mendengar ungkapan-ungkapan hebat dari motivator ternama, Mario Teguh, yang terus-menerus menganjurkan “pemantasan diri” untuk meraih kesuksesan. Hanya yang berprestasi yang layak meraih sukses. Begitulah kira-kira rumusannya.

Bagi Bob Sadino, rumus itu bisa ia balik. Perilaku yang dianggap orang tidak pantas, ia bisa lakukan dan bahkan anjurkan kepada orang lain, sebagai “cara lain” menuju kesuksesan. Apa yang dianggap orang (maaf) goblok, ia buktikan bisa meraih kesuksesan. Tak ayal, salah satu peninggalan Bob yang paling populer adalah “Goblok Manajemen”.

“Goblok manajemen” bisa dikatakan anomali yang menentang nalar pada umumnya. Banyak ungkapan Bob, misalnya, yang secara frontal menentang kewajaran, berbanding terbalik dengan kata-kata yang sering diungkapkan Mario Teguh, yang terus-menerus mendorong orang lain untuk meraih prestasi, prestasi, dan prestasi.

Bagi Bob, prestasi bukanlah segalanya, bahkan boleh dikatakan bukan ukuran kesuksesan. Mereka yang berprestasi di sekolah justru menjadi pertanda akan menjadi karyawan, atau menjadi anak buah mereka yang tidak berprestasi. Indeks prestasi komulatif (IPK) di atas tiga koma, menurut Bob, menjadi alamat calon karyawan. Kenapa demikian? 

“Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnya tidak ada satu pun yang menjadi kenyataan. (Sedangkan) orang goblok cuma punya satu ide dan itu menjadi kenyataan,” ujarnya.

Banyak orang pintar tidak sukses karena sudah merasa terisi penuh dan tidak menyisakan ruang untuk diisi orang lain. Padahal, menerima masukan-masukan dari orang lain itulah awal dari kesuksesan. 

“Setiap ketemu orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu,” kata Bob Sadino.

Orang pintar karena berpikir ribuan mil, jadi terasa berat. Orang goblok tak pernah mikir, tapi terus melangkah hingga langkahnya jauh meninggalkan orang pintar. “Orang goblok tak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah.” 

Siapa pun boleh tidak percaya dengan kata-kata ini, yang pasti Bob Sadino telah membuktikannya sendiri. Menggoblokkan diri terlebih dahulu, menjadi syarat mutlak sebelum menggoblokkan orang lain. Menggoblokkan orang lain, dalam arti positif, adalah menjadikan orang lain karyawan, menjadikan orang lain sebagai staf yang digaji dan disuruh bekerja, sesuai keinginan kita.

Orang pintar banyak menjadi karyawan orang goblok, karena orang goblok sulit mendapatkan pekerjaan sehingga dia membuka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, ia banyak merekrut orang pintar menjadi karyawannya. “Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok berjuang keras untuk sukses biar bisa membayar para pelamar kerja.”

Pada umumnya, orang berbisnis mencari untung. Namun, Bob Sadino mencari rugi karena dengan merugi, ia mendapatkan lebih banyak semangat. Jika beruntung, ia menambah rasa syukur pada Tuhan.

Itulah Bob Sadino, kata-katanya provokatif dan terkadang di luar nalar. Itu bukan tidak disadarinya. Banyak orang menggangapnya gila sampai akhirnya dapat melihat kesuksesannya karena hasil kegilaannya.

Bob Sadino kini telah tiada. Senin (19/1) lalu, Allah telah memanggilnya. Selain warisan harta kekayaan untuk dua anak dan cucu-cucunya, ia mening­galkan banyak pelajaran berharga untuk kita semua. Selamat jalan Om Bob!

Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding. 






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online