indexArtikel Lainnya



Podium


Lee Kuan Yew dan Ajaran Moral Ki Hajar

Jumat, 10 April 2015 | dibaca: 5349

Pemimpin hakikatnya adalah pembimbing yang tak mengenal batas ruang dan waktu. Kehadirannya dibutuhkan seluruh rakyat tanpa kecuali.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, dan seorang tokoh politik wafat meninggalkan nama besar juga pelajaran berharga. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kepergian Lee Kuan Yew (LKY) baru-baru ini?

LKY wafat dalam usia 91 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi pemimpin dan rakyat Singapura. Sebagai pemimpin, LKY tampil nyaris tanpa cela dan berhasil mengantarkan Negeri Singa menjadi negara paling maju di Asia, sejajar dengan negara-negara maju di dunia.

Saat mengiringi pemakaman ayahnya, Minggu, 29 Maret 2015, Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong dengan suara bergetar mengatakan, “Cahaya yang membimbing kita selama bertahun-tahun telah padam.”

Bagi BG Lee, demikian panggilan akrab PM Singapura itu, LKY tidak hanya sosok ayah baginya, tapi juga “ayah” bagi seluruh rakyat Singapura yang senantiasa memberi cahaya sepanjang hayatnya. 

LKY adalah founding father, pemimpin, sekaligus pembimbing para pemimpin Singapura. Inilah saya kira pelajaran paling berharga yang ditinggalkan LKY, tak hanya bagi rakyat Singapura, tapi bagi para pemimpin di mana pun di belahan dunia.

Pemimpin pada hakikatnya adalah pembimbing yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Kehadirannya dibutuhkan seluruh rakyat tanpa kecuali. Mungkin karena ketidaksempurnaannya, ada yang tidak suka, atau bahkan membenci. Namun, itu bukanlah alasan bagi pemimpin untuk mengabaikan, apalagi menistakannya.

Di Indonesia, pemimpin semacam ini bukan tidak ada, banyak, tapi pada umumnya mereka sudah mendahului kita, yakni para founding father yang berjuang tanpa pamrih untuk memerdekakan bangsa dan memajukan negara. Kecintaannya kepada rakyat, kepada negara, benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan cara hidup sederhana dan pantang menggunakan fasilitas negara, kecuali dalam menjalankan tugas-tugas yang memang mengharuskannya menggunakan fasilitas negara.

Cara hidup dan karakter seperti itulah yang ditunjukkan Muhammad Hatta, Muhammad Natsir, Djuanda, Kasman Singadimedja, Ignatius Joseph Kasimo, Jenderal Soedirman, dan lain-lain. Mereka pemimpin yang mau mengorbankan apa pun yang dimilikinya demi kemajuan bangsa dan negara.

Namun, untuk era modern sekarang ini sangat sulit mencari pemimpin serupa. Kita justru saksikan sebaliknya, bukan pemimpin, melainkan penguasa yang gaya hidupnya glamor dan lebih mementingkan keluarga, partai, atau golongannya. Bahkan, banyak di antara mereka yang menyalahgunakan jabatan, mengorupsi uang negara, sehingga harus mendekam dalam penjara.

Bagi rakyat Singapura, LYK sama seperti Soekarno, Hatta, Natsir, dan lain-lain bagi Indonesia; pemimpin yang patut diteladani karena ketulusan perjuangannya, dan keutuhan pengabdiannya bagi rakyat dan kemajuan bangsanya. Bahkan, ketika tak lagi menjadi pemimpin formal, dedikasi dan pengaruhnya tetap sama. Karismanya tetap menyala sepanjang masa.

Ajaran Moral Ki Hajar
Indonesia memiliki ajaran moral yang pernah diwariskan Ki Hajar Dewantara, yakni Tut Wuri Handayani. Ajaran moral inilah yang kemudian menjadi semboyan dalam logo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang juga menjadi lambang yang harus menempel pada setiap seragam sekolah, terutama sekolah negeri (milik pemerintah).

Kalimat asli dari ajaran moral ini adalah, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani; yang artinya “di depan memberi teladan atau contoh yang baik, di tengah memberikan prakarsa atau ide, dan di belakang memberi dorongan/arahan”. Ajaran moral ini wajib menjadi pegangan setiap pendidik seperti guru dan dosen.

Dalam politik pemerintahan, dalam memimpin negara, warisan dari bapak pendidikan nasional Indonesia benar-benar dipraktikkan LKY. Mungkin terinspirasi, mungkin juga tidak, yang pasti ajaran moral Ki Hajar Dewantara ini berlaku universal, bisa dipraktikkan setiap pemimpin di mana pun.

LKY adalah di antara pemimpin yang berperilaku sebagaimana ajaran Ki Hajar. Saat tampil di depan, ia memberi teladan. Saat di tengah, ia memberi prakarsa (ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa).

Sebagai pemimpin dari negara kaya, LKY bisa saja memperkaya diri dan keluarganya, sebagaimana—maaf—seperti Soeharto di Indonesia. Namun, LKY tidak melakukannya. Ia malah memberi contoh bagaimana seharusnya menjadi pemimpin yang bersih. Cara hidup bersihnya itu ia transformasikan dalam bentuk aturan main, dalam mengelola negaranya, yang kemudian menjadikan Singapura negara terbersih di dunia. Bersih dari korupsi, juga bersih dari sampah-sampah yang mengotori tanah dan lingkungannya.

Dalam memimpin, LKY tak mau serakah, apalagi tanpa batas. Pada saat yang dinilai tepat, ia memutuskan berhenti untuk digantikan generasi berikutnya, yang dianggap mampu melanjutkan kepemimpinan.

Namun, meskipun sudah tidak lagi menjadi PM, kiprahnya tetap terjaga. Dari belakang, ia memberi dorongan dan arahan (tut wuri handayani) dengan bersedia menjadi menteri senior pada era PM Goh Chok Tong (1990-2004), dan menteri mentor (2004-2011) pada era putra sulungnya, BG Lee menjadi PM.

Oleh karena peranan, pengaruh, dan karismanya yang begitu besar, sangat wajar jika PM BG Lee dan segenap rakyat Singapura benar-benar merasa kehilangan. Seluruh media cetak, televisi, dan jaringan media sosial tak hentinya memuji keberhasilan LKY memimpin Singapura selama 31 tahun. 

Para pemimpin dunia, termasuk Presiden Barack Obama dan Presiden Joko Widodo, ikut merasakan duka cita mengiringi kepergiannya. Tak kurang dari 15 kepala negara dan kepala pemerintahan ikut hanyut dalam kesedihan saat menghadiri pemakamannya. (*)


Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding. 






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online