indexArtikel Lainnya



Podium


Pesan Kebebasan Al-Quran

Jumat, 10 Juli 2015 | dibaca: 5140

Banyak hal di bicarakan dalam al-Quran, selain bagaimana tatacara beribadah, juga tentang manusia dan aspek-aspeknya.

Bulan Ramadan disebut juga dengan bulan al-Quran, karena pada bulan inilah pertama kali kitab suci umat Muslim ini  diturunkan. Peristiwa turunnya al-Quran kemudian diperingati sebagai Nuzulul Quran (turunnya al-Quran).

Nuzulul Quran menjadi salah satu momentum yang sangat penting dalam perjalanan sejarah agama Islam, karena dengan turunnya al-Quran, umat Muslim di seluruh dunia memiliki pedoman baku yang tunggal. Tidak ada versi lain al-Quran kecuali yang diturunkan pertama kali saat bulan Ramadan.

Akan tetapi, yang membuatnya istimewa bukan karena peristiwa turunnya itu melainkan al-Quran itu sendiri yang diakui sebagai kitab suci yang memiliki pengaruh besar tidak hanya di kalangan umat Islam melainkan bagi seluruh umat manusia. James Albert Michener, penulis pemenang Pulitzer Prize for Fiction tahun 1948 menyebutkan al-Quran sebagai kitab yang paling banyak dibaca di muka bumi dan mungkin yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari dari umat yang percaya kepadanya (Hashem, 1983: 56).

Banyak hal di bicarakan dalam al-Quran, selain bagaimana tatacara beribadah, juga tentang manusia dan aspek-aspeknya. Di antara aspek penting yang menarik adalah kebabasan manusia untuk mengatur hidupnya sendiri, termasuk kebebasan untuk beriman atau tidak beriman kepada Allah yang menciptakannya.

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yunus [10] : 99)

Untuk beriman atau tidak beriman; untuk menjalankan atau tidak menjalankan perintah Allah; adalah pilihan bebas manusia. Kebebasan ini, selain dijamin oleh hak-hak asasi manusia (HAM), juga dijamin oleh Allah SWT.  Dalam ayat al-Quran tadi jelas disebutkan bahwa Allah tidak pernah memaksa manusia untuk beriman atau tidak beriman.

Hanya saja, perlu digaris bawahi bahwa setiap pilihan bebas manusia pasti ada konsekuensinya. Apa pun pilihannya, akibatnya akan kembali pada dirinya. Manusia yang beriman dan taat kepada Allah dijanjikan kebahagiaan di akhirat kelak. Sebaliknya yang tidak beriman dan tidak taat akan menerima sanksi dan hukuman yang berat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, setiap manusia punya kebebasan, namun yang perlu disadari bahwa kebabasan manusia pada dasarnya dibatasi oleh etika pergaulan hidup antar manusia. Prinsipnya, apa pun yang kita perbuat ada imbalannya, jika baik akan mendapat imbalan yang baik, dan jika buruk akan mendapatkan balasannya pula. Maka kebebasan harus diekspresikan secara proporsional dan positif, sepanjang bisa bermanfaat bagi dirinya atau orang lain, atau minimal kebebasan itu tidak sampai menggangu kebebasan orang lain.

Filsuf Inggris yang menjadi pelopor paham liberalisme modern, John Stuart Mill (1806-1873), dalam bukunya yang sangat terkenal, On Liberty (Perihal Kebebasan), memberitahu kita bahwa yang membatasi kebebasan seseorang adalah dampaknya yang mungkin akan mengancam, baik dirinya maupun orang lain. Kebebasan individu, kata Mill, akan berakhir manakala kebebasan itu mengancam hak hidup atau hak orang lain.

Itulah sebab, mengapa kita dilarang (tidak diberi kebebasan) melukai atau membunuh orang lain, sama seperti dilarang mengkonsumsi narkotika, kokain, pil ekstasi, dan zat-zat adiktif lainnya. Karena dengan melukai atau membunuh, hak hidup orang lain terancam dan terampas, dan dengan mengkonsumsi barang-barang yang mengandung zat adiktif, sama artinya dengan mengancam hak hidup diri kita sendiri.

Dengan demikian, andaikan Allah tidak memberitahu kita akan konsekuensi dari setiap tindakan yang kita pilih pun pada dasarnya setiap manusia yang memiliki akal sehat pasti mengetahui setiap konsekuensi yang akan diperoleh akibat dari pilihan-pilihan yang diambilnya.

Dalam diri setiap manusia, menurut Allah, terdapat potensi kejahatan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Setiap manusia punya kebebasan penuh untuk mengikuti dan mengembangkan potensi mana yang akan dipilih: fujur atau taqwa. Allah hanya memberitahu bahwa apa pun pilihannya akan memperoleh imbalan yang setimpal.

Bagi yang mengikuti nafsunya untuk berbuat jahat dan merugikan orang lain (fujur) akan mendapat imbalan yang buruk di kemudian hari. Walaupun mungkin ia mampu menutupi kejahatannya itu dengan serapih-rapihnya, tetap akan menerima imbalannya. Ibarat kata pepatah, sepandai-pandai membungkus bangkai, bau (busuknya) tercium juga. Atau sepandai-pandai tupai melompat akhirnya gagal juga.

Sebaliknya, bagi yang mampu mengembangkan potensi takwanya, akan mendapatkan keberuntungan. Meskipun untuk mengembangkan ketakwaan itu terkadang harus menghadapi rintangan dan godaan yang bertubi-tubi seolah tak ada jalan lagi untuk bisa bangkit, Tuhan berjanji akan tetap memberinya jalan keluar, termasuk melalui peristiwa dan kejadian-kejadian yang tak disangka-sangka.

Namun adakalanya manusia kehilangan kecermatan untuk memilih. Entah karena kebodohan atau keangkuhan yang menutupi akal sehatnya, manusia kehilangan perspektif dalam membedakan antara pilihan-pilihan yang baik dengan yang buruk. Karena itulah diperlukan aturan main (berupa syariat agama dan hukum positif), agar manusia tidak salah mempergunakan kebebasan yang dimilikinya.

Syariat agama dan hukum positiflah yang memagari manusia agar tetap menggunakan kebebasannya secara proporsional, agar manusia terjaga dari kemungkinan ancaman yang menimpa baik dirinya sendiri maupun orang lain.

   Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online