indexArtikel Lainnya



Podium


Konvensi Rakyat

Jumat, 29 Nopember 2013 | dibaca: 5418

Konvensi harus bisa melahirkan calon yang benar-benar punya popularitas

ist dok

Siapa tak kenal Salahuddin Wahid? Saya kira hampir semua orang Indonesia dewasa –terutama yang sudah mengikuti Pemilu 2004-- mengenal adik kandung mantan Presiden Abdurrahman Wahid ini.
 
Pada Pemilu 2004, tokoh yang populer disapa Gus Solah ini calon wakil presiden yang diusung Partai Golkar berpasangan dengan calon presiden Wiranto yang memenangi Konvensi Capres Partai Golkar.

Ada apa dengan Gus Solah? Mungkin publik belum banyak tahu, pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, ini –bersama tokoh-tokoh lain—tengah mempersiapkan penyelenggaraan Konvensi Rakyat untuk menjaring calon-calon pemimpin berkarakter yang benar-benar mendapat dukungan rakyat.

Alternatif

Setelah publik kecewa terhadap Konvensi Partai Demokrat yang ternyata makin mendekati pemilihan umum (pemilu) makin pudar auranya, bahkan yang tertinggal hanya kesan-kesan yang negatif di mata publik, munculnya gagasan menggelar Konvensi Rakyat patut kita apresiasi.

Perbedaan mendasar antara Konvensi Partai Demokrat dengan Konvensi Rakyat terletak pada penyelenggara dan output-nya. Jika yang pertama diselenggarakan oleh komite yang ditetapkan pemimpin Partai Demokrat, dan capres yang dihasilkan akan diajukan Partai Demokrat, maka yang kedua diselenggarakan oleh tokoh-tokoh independen dari kalangan civil society. Capres yang dihasilkan akan menjadi capres independen yang terbuka bagi semua partai untuk mencalonkannya.

Kita patut mengapresiasi gagasan Konvensi Rakyat minimal karena dua hal mendasar: pertama, setiap gagasan menjaring capres merupakan jalan alternatif bagi siapa pun yang punya kemampuan dan potensial menjadi pemimpin nasional yang selama ini jalannya sudah dibatasi oleh partai-partai.

Tokoh-tokoh yang sempat mau mengikuti Konvensi Partai Demokrat, namun batal karena alasan idealisme, bisa memanfaatkan Konvensi Rakyat sebagai ruang menjual gagasan dan kemampuan dirinya sebagai calon pemimpin.

Kedua, dengan adanya alternatif penjaringan capres, rakyat sebagai pemilih juga punya alternatif pilihan selain dari capres-capres yang selama ini sudah rajin mengampanyekan diri. Adanya alternatif pilihan ini penting terutama untuk mengurangi kemungkinan tingginya angka golongan putih sebagaimana yang tercermin dalam berbagai survei atau jajak pendapat.

Kendala

Tapi, selain dua hal (keunggulan) itu, harus diakui, Konvensi Rakyat masih punya dua kelemahan mendasar. Pertama, menyangkut kendala-kendala teknis dan nonteknis penyelenggaraan, dan kedua, soal kejelasan masa depan capres yang dihasilkan.

Pertama, soal kendala teknis. Untuk menggelar konvensi yang benar-benar representatif, dibutuhkan dana yang tidak sedikit karena sudah pasti akan melibatkan banyak kalangan dan butuh peliputan media yang luas.

Biaya-biaya ini tidak bisa dibebankan pada para kandidat. Jika terjadi demikian, akan menumbuhkan konflik kepentingan dan bisa melunturkan idealisme. Para kandidat hanya diperbolehkan mengeluarkan biaya untuk kepentingan sosialisasi dirinya.

Kendala nonteknis terkait dengan pamor konvensi yang sudah kian memudar di mata publik akibat preseden yang kurang baik dari dua konvensi yang sudah digelar (Konvensi Partai Golkar dan Konvensi Partai Demokrat). Kepercayaan publik pada penyelenggaraan konvensi sudah pada titik nadir dan untuk mengembalikan kepercayaan ini bukan perkara gampang.

Kedua, soal masa depan capres yang dihasilkan Konvensi Rakyat juga belum jelas mengingat hampir semua partai, terutama partai-partai besar yang diprediksi punya kans mengajukan capres, masing-masing sudah menetapkan capres dari kader partainya sendiri.

Padahal, setiap capres atau cawapres hanya bisa benar-benar maju dalam pemilu pada saat diajukan oleh partai atau gabungan partai yang memenuhi syarat sesuai undang-undang tentang pilpres.

Jalan Keluar

Bagaimana cara menanggulanginya? Untuk kendala pertama, menurut saya bisa ditanggulangi dengan memunculkan gagasan-gagasan dan konsep penyelenggaraan acara yang benar-benar berbeda dari konvensi yang sudah ada. Jika gagasannya menarik, publik pasti akan mendukungnya baik dengan bantuan finansial atau pun dengan cara lain untuk menyukseskan acara ini.

Jika gagasannya dan konsep acaranya benar-benar menarik, selain akan mendapat dukungan publik, media juga pasti akan dengan senang hati menyiarkannya, walau tanpa dipungut biaya. Kita sudah paham bagaimana kecenderungan media-media kita yang hanya mau memberitakan sesuatu yang benar-benar menarik di mata publik. Kalau tidak menarik, bahkan dibayar pun belum tentu mau memberitakan.

Untuk yang kedua, konvensi harus bisa melahirkan calon yang benar-benar punya popularitas dan dukungan luas di mata publik yang dibuktikan, antara lain dengan hasil survei yang tinggi. Kalau yang dihasilkan tidak punya dukungan, apalagi tidak populer, partai-partai tidak akan tertarik melamarnya.

Saya berharap penyelenggara Konvensi Rakyat sudah menyadari kedua kelemahan itu sehingga mereka sudah punya jurus-jurus akurat untuk mengatasinya. Jangan sampai publik dikecewakan untuk yang kesekian kalinya dengan penyelenggaraan konvensi.

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.

 






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online