indexArtikel Lainnya



Podium


Mengenang Pejuang Tanpa Dendam

Jumat, 13 Desember 2013 | dibaca: 5626

Rekonsiliasi tak mungkin bisa dibangun tanpa didahului proses saling memaafkan.

antara dok

Banyak pejuang terlahir tak lepas dari rasa dendam pada kejahatan yang telah diperbuat musuh-musuhnya. Tapi, dalam panggung sejarah ternyata ada juga pejuang yang tampil tanpa dendam. Nelson Mandela salah satunya.

Mantan Presiden Afrika Selatan dan peraih Nobel Perdamaian yang akrab disapa Madiba itu, memang inspirator utama perjuangan melawan kejahatan masa lalu tanpa rasa dendam. “If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner,” katanya suatu ketika.

Kamis, 5 Desember 2013, sang inspirator ini mengembuskan nafas terakhir di Johannesburg, setelah menjalani perawatan intensif selama kurang lebih setahun karena penyakit kronis infeksi paru-paru yang dideritanya.

Mandela meninggal dalam usia 95 tahun. “Bangsa kami kehilangan putra terbaiknya,” kata Jacob Zuma, Presiden Afrika Selatan.

Rasa kehilangan tak hanya dialami Zuma, semua warga dunia merasa kehilangan. Message of condolence yang disediakan laman www.nelsonmandela.org penuh dengan ungkapan beragam orang dari beragam negara, semuanya menyatakan kesedihan dan duka mendalam atas kepergian Mandela.

Mengenang Mandela adalah mengenang perjuangan penuh risiko. Pada 1944 Mandela bergabung dengan Partai Kongres Nasional Afrika (ANC).

Di partai ini dan di kantor pengacara yang didirikannya bersama Oliver Tambo, tokoh yang lahir di Umtata, Afrika Selatan, 18 Juli 1918, ia sangat aktif memperjuangkan nasib warga mayoritas berkulit hitam yang mendapat perlakukan diskriminatif dari negara dan partai yang berkuasa saat itu, Partai Nasional Afrika Selatan yang hanya beranggotakan warga kulit putih.

Risiko apa saja yang dialami Mandela? Pada 1956, bersama 155 aktivis ia didakwa berkhianat pada negara. Dengan pembelaan yang terus-menerus dalam sidang pengadilan selama empat tahun, akhirnya dakwaan ini dicabut.

Bebas dari dakwaan tak membuatnya hidup tenteram. Ia terus diburu hingga harus berjuang lewat jalur bawah tanah, terutama setelah ANC dilarang pemerintah pada 1960. Yang mencabik rasa kemanusiaan Mandela, pada tahun ini pula, sekitar 70 warga kulit hitam yang tak berdosa dibantai polisi di Sharpeville.

Pembantaian Sharpeville membuat Mandela kehilangan kesabaran. Sebagai wakil presiden ANC, ia menggalang kampanye sabotase ekonomi yang membuatnya ditangkap dengan tuduhan sangat serius, menggulingkan pemerintah dengan kekerasan.

Tahun 1964 Mandela dijatuhi hukuman seumur hidup dan dibuang ke Pulau Robben—semacam Nusa Kambangan di Indonesia, atau Alcatraz di Amerika Serikat sebelum menjadi pulau wisata pada 1971.

Di Pulau Robben inilah, selain diawasi dengan tingkat maksimum, para tahanan termasuk Mandela, kerap disiksa tanpa mengenal perikemanusiaan. Setelah 18 tahun mernghuni Pulau Robben, pada 1982 Mandela dipindahkan ke Penjara Pollsmoor.

Mandela tidak berjuang sendirian. Sahabatnya, Oliver Tambo, gigih mengampanyekan antidiskriminasi dan mendesak dunia internasional untuk ikut mengupayakan pembebasan Mandela. Akibat tekanan dunia yang terus-menerus, akhirnya pada 1990, FW de Klerk (Presiden Afrika Selatan waktu itu) mencabut larangan terhadap ANC dan mengeluarkan Mandela dari penjara.

Membentuk KKR

Yang menarik, bebas dari penjara yang penuh siksaan dan hampir membuatnya kehilangan kesadaran, tak membuat Mandela dendam pada pemerintah. Setelah memimpin ANC yang kemudian mengantarkannya ke kursi kepresidenan pada 1994, ia tak mau menggunakan kekuasaan untuk menistakan lawan-lawan politiknya.

Alih-alih balas dendam, Mandela membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang kepemimpinannya diserahkan pada tokoh agama karismatik yang ikut berjuang menentang diskriminasi ras, Uskup Desmond Tutu.

Sesuai namanya, KKR berupaya melakukan rekonsiliasi nasional tanpa melupakan kejahatan-kejahatan yang diperbuat rezim sebelumnya. KKR mengidentifikasi semua kejahatan dan diklasifikasi dalam tingkatan ringan, sedang, dan berat.

Kejahatan ringan langsung dimaafkan. Kejahatan sedang dan berat diadili secara terbuka dan divonis sesuai tingkat kesalahan masing-masing. Setelah divonis, dengan hak prerogatif presiden, Mandela memberikan pengampunan (grasi).

Tak sedikit kalangan menganggap Mandela naif. Tapi, tokoh humoris yang gemar memakai batik ini beralasan, kejahatan memang harus diungkap agar publik tahu dan tidak mudah melupakannya, tapi bukan berarti tak bisa dimaafkan.

Mengapa dimaafkan? Karena rekonsiliasi tak mungkin bisa dibangun tanpa didahului proses saling memaafkan antarberbagai pihak yang sebelumnya saling bermusuhan. Selamat jalan Madiba. Selamat jalan pejuang tanpa dendam.

*Penulis adalah Founder The Indonesian Institute.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online