indexArtikel Lainnya



Podium


Imlek dan Keindonesiaan

Kamis, 30 January 2014 | dibaca: 6876

Perayaan Imlek bukan hanya milik etnis Tionghoa, tapi menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia.

SH dok

Di Indonesia, perayaan Imlek bisa dikatakan sebagai salah satu berkah dari gerakan reformasi, karena sebelum ada gerakan reformasi, perayaan Imlek tidak diperkenankan, hanya bisa dilakukan secara diam-diam, tertutup, dan terbatas di lingkungan masyarakat keturunan Tionghoa.

Setelah gerakan reformasi berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Baru di bawah pimpinan Suharto, barulah perayaan Imlek diperkenankan.

Keputusan Presiden (Kepres) No.6 Tahun 2000 yang dikeluarkan Presiden Abdurrahman Wahid memberikan kebebasan kepada etnis Tionghoa untuk kembali menjalankan acara-acara keagamaan dan adat-istiadat, termasuk merayakan Imlek.

Setelah sekian puluhan tahun mendapatkan diskriminasi, etnis Tionghoa dapat secara leluasa mengekspresikan budayanya dan bisa merayakan Imlek seperti umat Muslim merayakan Idul Fitri, Idul Adha, dan tahun baru Hijriyah; umat Kristen dan Katolik merayakan Natal dan Paskah, umat Hindu merayakan Nyepi, dan umat Budha merayakan Waisak.

Selanjutnya, melalui Kepres No.19 Tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan perayaan Tahuh Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak saat itu perayaan Imlek bukan hanya milik etnis Tionghoa, tapi telah menjadi milik seluruh masyarakat Indonesia.

Apalagi, jika Imlek dipahami bukan sebagai ajaran agama, melainkan tradisi (kebudayaan) yang bisa dirayakan oleh semua pemeluk agama, maka jadilah Imlek sebagai perayaan yang bisa dilakukan siapa saja.

Secara politik, dua Presiden: Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputeri, telah meninggalkan legacy yang patut dicatat dengan tinta emas dalam perjalanan sejarah perayaan Imlek di Indonesia. Jika tak ada keputusan dari kedua presiden ini, bisa jadi perayaan Imlek masih dilakukan secara diam-diam, sebagaimana sudah berlangsung puluhan tahun, terutama sejak Orde Baru berkuasa.

Semangat Perayaan Imlek

Sebagai bagian dari kebudayaan, Imlek merupakan tradisi yang berusia ribuan tahun. Bahkan bisa dirujuk hingga 2000 SM (pada masa Dinasti Xia), ketika petani-petani di China melakukan upacara, bersuka cita menyambut datangnya musim semi.

Para petani menandai awal satu siklus, bahwa musim dingin segera berlalu dan datanglah masa menamam bagi mereka. Namun, penanggalan dari Dinasti Xia ini baru diresmikan pada masa Dinasti Han (220-206 SM) dengan kelahiran Khonghucu (551 SM) sebagai tahun pertama.

Setiap Imlek tiba, ada suasana kemeriahan dan kebersamaan. Meriah dengan berbagai ornamen yang tampak mencolok mata mulai dari lampion, gambar para dewa, hio dan dupa, patung naga, barongsai, dan ucapan Gong Xi Fat Chai yang bertebaran.

Mirip seperti saat Idul Fitri tiba yang diwarnai mudik (pelang ke rumah, ke pangkuan orang tua), pada Imlek ada tradisi berkumpul bersama keluarga, anak-anak sungkem kepada orang tua, yang lebih tua berbagi hadiah pada yang lebih muda. yang terpisah karena kesibukan menjadi berkumpul dalam suka cita.

Dengan demikian, kemeriahan dan kebersamaan menjadi ciri khas dari perayaan Imlek. Ada nilai-nilai kasih sayang, rela berbagi, sikap saling memaafkan dan penghormatan yang tinggi kepada orang tua. Sebagaimana Idul Fitri, pada perayaan Imlek pun terkandung semangat baru bagi seseorang.

Setelah masa pelapukan di musim gugur dan nyaris mati di musim dingin, Imlek menjadi titik balik yang menandai datangnya musim semi dengan penuh suka cita, yang disambut dengan kesenangan dan aneka hidangan untuk dinikmati bersama-sama.

Dalam setiap perayaan Imlek, kita sudah terbiasa mengirim (juga menerima) ucapan: Gong Xi Fat Chai yang artinya “semoga Anda kaya” atau "semoga kemakmuran menyertai Anda". Meskipun terkesan vulgar, doa ini sungguh baik. Sangat cocok bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang masih jauh dari kesejahteraan.

Perayaan Imlek bukan sekadar rutinitas pergantian tahun. Diharapkan perubahan-perubahan positif menyertai perayaan ini.

Paling tidak, seperti harapan dalam menyambut tahun baru Masehi, Hijriyah, dan tahun baru Saka, maka merayakan tahun baru Imlek hendaknya jangan  dianggap hanya sekadar menjalankan suatu tradisi belaka, melainkan  harus dijadikan sebagai momentum yang baik untuk  melakukan instrospeksi dan mawas diri.

Setiap tahun baru, sudah semestinya kita berani membuka catatan hidup, apa yang telah kita lakukan pada tahun yang lalu dan apa yang akan kita lakukan pada masa yang akan datang. Hal ini haruslah benar-benar kita hayati dan camkan, dengan demikian kehidupan kita pun senantiasa mengalami perkembangan: menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Mengapa perayaan Imlek atau Chinese New Year disebut juga sebagai perayaan menyambut musim semi? Karena petani-petani bersuka cita menyongsong musim penuh harapan.

Di hadapan mereka, musim dingin akan segera berlalu dan tibalah saat para petani untuk menanam lagi. Kebahagian petani yang tercatat sejak lebih dari 2000 tahun SM itu menjadi spirit luar biasa khususnya bagi bangsa Tionghoa, selain Jepang dan Korea.

Karena dikaitkan dengan saat musim semi tiba maka merayakan Imlek selalu identik dengan menyambut hari baru yang lebih cerah. Berbagai lambang dihadirkan sebagai upaya menangkal ketidakberuntungan dan atau mendatangkan kemakmuran.

Semua ornamen dan tradisi khas yang unik dan menarik bukan hanya sekadar tradisi turun-temurun, namun berbagai ciri khas Imlek tentu memiliki filosofi tersendiri. Misalnya, saat Imlek orang Tionghoa akan mengenakan pakaian baru berwarna merah atau terang. Ini melambangkan kebahagiaan, masa depan agar tetap terang dengan limpahan rezeki dan kemakmuran.

Perayaan Imlek juga diwarnai dengan tradisi tukar hadiah (misalnya buah jeruk) dan pemberian angpao serta reuni keluarga di rumah orang tua atau yang tertua, tentu dengan aneka kuliner yang khas pula.

Di sini Imlek menekankan pentingnya berbagi sukses, kebersamaan dan penghormatan kepada orang tua. Orang Tionghoa percaya bahwa orang tua adalah dasar dari semua keberuntungan dan keberhasilan masa depan.

Selama berabad-abad, perayaan Imlek menyediakan makna spiritual yang amat kaya, bahkan mampu berperan dalam menyatukan etnis Tionghoa dalam semangat hidup yang sama. Lebih-lebih Imlek bukan perayaan keagamaan tertentu, sehingga siapa pun dapat merayakan dan merasakan spiritnya.

Semangat Imlek dapat menjiwainya kita dalam kehidupan berbangsa. Bila ditarik lebih jauh, warna-warna cerah dalam setiap ornamen Imlek itu mengajarkan optimisme. Imlek juga mengajarkan agar kita bisa hadir dengan sikap hidup baru. Pesan moral dalam setiap Imlek selalu mengerucut pada tema: pentingnya kasih sayang, kedermawanan dan semangat untuk membahagiakan sesama.

Di tengah keluarga, puncak perayaan Imlek diungkapkan dengan kesediaan makan bersama, saling menghormati, bercerita pengalaman hidup yang membahagiakan, mengampuni, berbagi rezeki, menyampaikan salam berupa doa atau harapan untuk hidup lebih baik, dan sebagainya. Sebagai bangsa, kita harusnya lebih mudah untuk merayakan bersama capaian-capaian dan kesulitan yang dialami setiap program pembangunan.

Sayangnya perayaan Imlek di Indonesia, secara umum masih jauh dari perayaan yang benar-benar dapat membahagiakan orang-orang kecil secara layak.

Penyebabnya karena sebagian besar rakyat Indonesia masih jauh dari situasi dapat menikmati kesejahteraan, juga kebersamaan. Kita masih punya pekerjaan rumah untuk menghidupkan semangat solider kepada sesama, dan semangat berbagi terutama kepada yang lemah, miskin, dan papa.

Dengan warna dasar merah, Imlek akan selalu datang mengalirkan kebahagiaan dan semangat hidup. Dulu, para petani bersuka ria menyambut musim semi. Mereka bahagia menerima kemurahan alam. Kini, Imlek merupakan momentum kita untuk belajar bermurah hati kepada sesama. Ucapan Selamat Imlek atau “Gong Xi Fat Chai mengandung makna harapan tumbuhnya kemakmuran.

Bagian dari Keindonesiaan

“Ekonomi Indonesia dikuasai asing dan aseng”. Ungkapan ini kerap kita dengar, terutama dalam perbincangan-perbincangan tak resmi. Secara konotatif, maksudnya menunjukkan kondisi perekonomin Indonesia yang cenderung negatif. Selain bermakna ketidakmerdekaan (dikuasai asing), juga mengandung segregasi, bahwa aseng masih dimaknai, atau setidaknya dipersepsi, bukan bagian dari Indonesia.

Menurut Will Kymlica, profesor filsafat pada Queen University, Kanada, masyarakat modern sering dihadapkan pada kelompok minoritas yang menuntut pengakuan atas identitas mereka, dan diterimanya perbedaan budaya mereka.

Dalam konteks Indonesia, pengalaman demikian dialami oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak di antara mereka yang harus berjuang keras menuntut pengakuan identitas, bahkan ada di antaranya yang harus (terpaksa) mengubah nama seperti Nio Hap Liang menjadi Rudi Hartono (salah satu tokoh legenda bulutangkis Indonesia), Soe Hok Djin menjadi Arief Budiman (sosiolog), Zhong Wan Xie menjadi Basuki Tjahaja Purnama (Wakil Gubernur DKI Jakarta), dan lain-lain.

Harus diakui, posisi warga keturunan Tionghoa dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara kadangkala masih ada yang melihatnya sebelah mata. Dalam pergaulan sehari-hari masih sering terlontar rasa kekurangsukaan, atau bahkan sinisme yang dilontarkan sebagian orang terhadap mereka.

Tidak jarang mereka dipersepsi sebagai “makhluk ekonomi” yang semata-mata mengejar keuntungan dan cenderung tidak peduli pada lingkungan tempat tinggalnya. Apalagi, persepsi ini kemudian diperkuat dengan adanya klan-klan dan blok-blok yang secara khusus menjadi tempat tinggal mereka di tengah-tengah atau di sudut-sudut kota.

Jika di di kota-kota besar dunia ada “China Town”, maka di Jakarta kita mengenal “Pecinan” yang relatif tersebar dan menjadi pusat tempat tinggal dan tempat berbisnis mayoritas etnis keturunan Tionghoa seperti di Glodok, Pasar Baru, Asemka, dan lain-lain.

Di tempat-tempat inilah kita banyak menemukan komunitas yang dalam pergaulan sehari-harinya menggunakan bahasa China. Karena itulah, loyalitas mereka terhadap negara (rasa kebangsaan) terkadang diragukan, atau setidaknya menjadi bahan gunjingan. Padahal, pemusatan kelompok penduduk itu merupakan proses yang wajar, karena dilakukan secara turun temurun, dan bisa terjadi pada kelompok etnis apa pun, tidak hanya etnis keturunan Tionghoa.

Meskipun sebagian besar sudah tak punya lagi hubungan dengan “keluarga besar” mereka di negeri Tiongkok, mereka masih sering dianggap sebagai orang asing. Padahal kakek-nenek mereka pun sudah lahir dan besar di Indonesia. Berbeda misalnya dengan keturunan Arab, meskipun memiliki predikat yang sama sebagai keturunan asing, orang Arab relatif lebih dapat diterima sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Apakah hal itu terjadi karena faktor agama? Karena keturunan Arab memeluk agama yang sama dengan mayoritas warga negara? Saya kira tidak. Karena kalau kita lacak sejarah masuknya Islam di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa tak kalah besar peranannya dengan masyarakat keturunan Arab. Menurut ahli sejarah tentang China di Indonesia, Benny G. Setiono (2010), pada abad ke-15 di masa dinasti Ming (1368-1643), orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa.

Di antaranya yang bisa disebut adalah Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Kong pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang. Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit, ia juga bertujuan menyebarkan agama Islam.

Selain Laksamana Cheng Ho, sebagian besar tokoh-tokoh ulama yang menyebarkan agama Islam di pesisir pulau Jawa dan mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak adalah berasal dari etnis Tionghoa. Tokoh-tokoh ulama yang kemudian populer dengan sebutan “Wali Songo” itu antara lain Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan Ngampel (Bong Swi Hoo), Sunan Gunung Jati (Toh A Bo) dan lain-lain, semuanya diyakini berasal dari Champa (Kamboja/Vietnam), Manila dan Tiongkok. Demikian juga Raden Patah alias Jin Bun (Cek Ko Po), sultan pertama kerajaan Islam Demak, adalah putera Kung Ta Bu Mi (Kertabumi), raja Majapahit (Brawijaya V) yang menikah dengan puteri China, anak pedagang Tionghoa bernama Ban Hong (Babah Bantong).

Artinya selama berabad-abad, etnis keturunan Tionghoa sudah berperan menanamkan spirit kebangsaan dengan kapasitasnya masing-masing, dan di lingkungannya masing-masing.

Maka menjadi sangat mengherankan jika kemudian, etnis keturunan Tionghoa di Indonesia dipinggirkan secara politik, padahal sejatinya sejak berabad silam, jauh sebelum Indonesia merdeka, dalam perjalanan sejarah bangsa-bangsa yang berada, hadir, dan ikut membangun negeri ini, peranan mereka sangat besar, dan eksistensi etnis mereka tak bisa dipisahkan dari etnis-etnis lain dalam merajut sejarah keindonesiaan.

Dalam sejarah perjalanan keindonesiaan, perbedaan etnik menjadi mosaik yang menjadikan simfoni kebangsaan terasa lebih indah. Membeda-bedakan peran boleh saja dilakukan, tapi atas dasar minat, bakat, kecenderungan, dan keahlian, bukan atas dasar etnisitas.

Pembedaan status berdasarkan etnis bertentangan dengan prinsip-prinsip universal hak-hak asasi manusia (HAM), sama seperti pembedaan status atas dasar agama dan ras atau warna kulit. Semangat kebangsaan harus diarjut dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati antar perbedaan etnis, agama, dan warna kulit.

Dalam konteks kebersamaan, perayaan Imlek bisa menjadi momentum untuk menjalin keharmonisan hubungan antar sesama anak bangsa.

Dalam konteks keindonesiaan misalnya, etnis Tionghoa sudah tidak perlu lagi menutup-nutupi jati diri, dengan mengubah nama dan sebagainya. Untuk menjadi Indonesia tidak harus mengubah identitas, karena keberagaman pada dasarnya merupakan raison de’tre dari terbangunnya negara Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Setelah kebijakan segregasi dan eksklusi itu dihapus, etnis Tionghoa telah betul-betul menjadi warga negara Indonesia seutuhnya, yang memahami segenap problemnya sehingga berkesempatan luas untuk ikut mengatasinya.

Sebagai bangunan multikultural, Indonesia memang membutuhkan dukungan semua elemen yang ada di dalamnya. Setiap unsur etnis, budaya, maupun agama, harus tumbuh produktif secara bersama-sama sehingga menjadi kekuatan yang mampu mencegah dan mengatasi konflik sosial yang kerap muncul mengatasnamakan (egosentrisme) etnis dan agama.

Masing-masing entis memiliki hak untuk memperjuangkan identitas dan kepentingan politisnya. Tetapi semangat primodialisme ini tak boleh menjadi hambatan dalam menggerakkan kemajuan secara bersama-sama dalam perspektif kebangsaan.

Etnis Tionghoa misalnya, punya hak untuk mempertahaankan identitas, nama, bahasa, dan budayanya. Tapi pada saat yang sama juga punya kewajiban menjaga keutuhan Indonesia, dengan cara bekerja keras bersama-sama, bahu-membahu bersama etnis-etnis lainnya, memajukan dan menyejahterakan Indonesia.

Bangsa ini membutuhkan inklusivitas dan rasa kebersamaan dari masyarakat Tionghoa sebagaimana telah terjadi di masa lalu. Sejarah mengungkapkan tak sedikit dari tokoh Tionghoa yang punya andil besar mewarnai perjuangan kemerdekaan RI, Dalam proses perumusan UUD 1945 misalnya, setidaknya empat orang Tionghoa yang terlibat aktif, yakni Liem Koen Hian, Tan Eng Hoa, Oey Tiang Tjoe, dan Oey Tjong Hauw.

Mereka tergabung dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sementara di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) terdapat satu orang Tionghoa yaitu Drs.Yap Tjwan Bing. Dan, Bung Karno pun sempat menempatkan Oei Tjoe Tat sebagai salah satu tangan kanannya.

Sayangnya, pengekangan berlebihan oleh rezim Orde Baru membuat etnis Tionghoa tidak punya andil dalam pengembangan karakter bangsa. Setelah pengekangan itu dihilangkan, sudah tinggi saatnya bagi etnis Tionghoa untuk kembali tampil bersama-sama komponen bangsa yang lain untuk membangun solidaritas dan soliditas yang lebih kokoh.

Imlek memang berasal dari China (Tiongkok). Namun, tradisi dan peradabannya dapat digali dan menjadi inspirasi bagi siapa pun, di mana pun. Dengan mengambil inspirasi dari Imlek, kita berharap Indonesia bisa tumbuh menjadi negara yang kuat yang mampu menyejahterakan seluruh komponen warganya tanpa diskriminasi.

*Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online