indexArtikel Lainnya



Podium


Menghambat Jokowi?

Jumat, 07 February 2014 | dibaca: 6190

Terasa sangat aneh jika masalah banjir dan macet hanya ditimpakan pada (kesalahan) Jokowi.

SH dok

Jalan menuju Istana benar-benar berliku, penuh ombak dan duri. Siapa pun yang ingin menuju ke sana akan menghadapi tantangan yang sangat berat, tak terkecuali Joko Widodo alias Jokowi, yang sejatinya belum pernah sekal ipun secara terang-terangan menyatakan diri siap menjadi presiden.

Meskipun belum secara tegas menyatakan diri siap menjadi presiden, bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tempatnya bernaung juga belum mengambil keputusan mencalonkannya sebagai calon presiden (capres), toh nama Jokowi sudah telanjur melambung sebagai capres.

Dalam setiap survei yang dirilis belakangan ini, tak ada satu pun yang tidak menempatkannya di urutan teratas. Artinya, jika pemilihan presiden dilakukan saat ini, Gubernur DKI ini sudah hampir pasti terpilih menjadi presiden. Inilah yang membuat gentar para capres lain, berikut para pendukung dan tim suksesnya.

Namun sekali lagi, menjadi presiden bukan perkara gampang. Sebelum rakyat memilih, ada persyaratan-persyaratan administratif yang harus dipenuhi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Pilpres.

Selain secara teknis, UU-nya tengah menghadapi uji materi (judicial review) yang diajukan Yusril Ihza Mahendra. Secara nonteknis, Jokowi menghadapi tantangan berat, baik secara internal (dalam tubuh PDIP) maupun eksternal.

Dalam internal PDIP, Jokowi menghadapi keinginan para loyalis keluarga Bung Karno yang tidak mau melepas tiket capres, kecuali pada anaknya (Megawati Soekarnoputeri), kepada cucunya (Puan Maharani), atau kepada keturunan Bung Karno yang lain, bukan pada kader PDIP yang tak memiliki “darah biru” Bung Karno, seperti Jokowi.

Dalam sebuah talkshow politik yang digelar salah satu televisi swasta, Megawati mengingatkan Jokowi agar tidak berbangga dengan hasil survei.

Megawati menegaskan, untuk menjadi presiden tak cukup hanya dengan popularitas. Dibutuhkan kemampuan yang mumpuni dan juga “garis tangan”. Pernyataan itu cukup menohok bagi Jokowi dan para pendukungnya.

Apalagi ketika ditanya apakah Megawati masih ingin maju sebagai capres, secara diplomatis Ketua Umum PDIP itu menjawab, ia ingin melihat rakyat Indonesia bisa hidup sejahtera. Artinya secara tersirat, Megawati masih ingin maju sebagai capres.

Saya kira di sinilah syarat terberat Jokowi, yakni restu Megawati. Sementara itu, mantan Wali Kota Solo ia sudah berketetapan hati tidak akan maju sebagai capres, kecuali atas seizin Megawati.Namun jika Megawati masih ingin maju, bagaimana mungkin Jokowi mendapatkan restunya.

Tantangan lain berasal dari luar PDIP yang terus-menerus berupaya menghambat Jokowi. Berbagai isu negatif dilontarkan, seperti adanya upaya pencitraan yang didanai para konglomerat sehingga menjadikan Jokowi sebagai capres boneka dan politisasi banjir sebagai cermin kegagalan Jokowi di Jakarta. Selain itu, masih banyak isu negatif lain yang sengaja dimunculkan untuk memperburuk citra Jokowi.

Bergeming

Uniknya, dalam menghadapi berbagai isu negatif itu, Jokowi cuek saja. Tak ada satu pun yang ia tanggapi. Pada saat didesak-desak wartawan pun, Jokowi bergeming dan memilih fokus menghadapi masalah-masalah Jakarta, terutama yang berkaitan dengan banjir dan kemacetan, dua isu yang terus-menerus diproduksi lawan-lawan politik untuk menjatuhkan namanya.

Namun, apakah nama Jokowi benar-benar jatuh? Nyatanya tidak. Di mata rakyat, popularitas Jokowi tetap menanjak. Rakyat tampaknya punya cara sendiri dalam menilai para calon pemimpin. Mereka tak bisa dibohongi dengan berita-berita sumir yang tak jelas sumbernya. Rakyat sudah cerdas memilih dan memilah berita mana yang akurat dan yang dibuat-buat.

Di mata rakyat, Jokowi tetap menjadi idola baru yang tak terkalahkan capres-capres lain. Apalagi, soal banjir dan kemacetan yang kerap dipolitisasi itu, nyatanya tak hanya dihadapi Jakarta. Para pemimpin daerah lain pun menghadapi masalah yang sama. Tentu terasa sangat aneh jika masalah banjir dan macet hanya ditimpakan pada (kesalahan) Jokowi.

Ada yang mengatakan, dukungan terhadap Jokowi hanya fenomena bubble alias gelembung udara yang mudah kempis diterpa angin.

Ada juga yang mengibaratkan seperti buih di laut yang mudah lenyap bersamaan dengan datangnya gelombang. Popularitas Jokowi melambung karena ia menjadi media darling. Masih banyak lagi sebutan-sebutan lain yang intinya ingin menunjukkan Jokowi bukan pemimpin yang autentik.

Padahal, autentik atau tidaknya seorang pemimpin sejatinya bukan terletak pada penilaian-penilaian pengamat atau isu-isu negatif yang diembuskan lawan-lawan politik. Justru pada saat ia tetap bersahaja di tengah pujian dan tidak goyah diterpa berbagai cobaan, itulah watak pemimpin sejati yang autentik.

Kita lihat saja, apakah Jokowi benar-benar pemimpin autentik yang dihendaki rakyat? Waktu yang akan menjawabnya. Selain itu, tentu dibutuhkan kerelaan dan kebesaran hati Megawati untuk memberi restu pada Jokowi.

*Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online