indexArtikel Lainnya



Podium


Beban Berat Capres Konvensi Demokrat

Jumat, 21 February 2014 | dibaca: 5555

Sampai saat ini konvensi tampak masih belum bisa menarik perhatian publik.

antara dok

Belum lama ini Gita Wirjawan mundur dari jabatannya sebagai menteri perdagangan untuk berkonsentrasi pada Konvensi Calon Presiden (Capres) Partai Demokrat (PD). Langkahnya untuk menghindari konflik kepentingan antara tugas-tugasnya sebagai anggota kabinet dengan peserta konvensi patut kita apresiasi.

Namun, apakah perlu sikap semewah itu sekadar untuk mengikuti konvensi capres yang hingga saat ini prospeknya belum jelas. Harus diakui, Konvensi Capres PD tidak secemerlang yang kita bayangkan. Untuk menuju Istana Negara, para peserta konvensi pun mengemban tugas yang sangat berat. Mengapa demikian?

Pertama, ada asumsi yang mengatakan Konvensi Capres PD merupakan upaya mengangkat citra partai yang terpuruk akibat keterlibatan sejumlah kader utamanya dalam kasus korupsi. Asumsi ini bukan tanpa alasan.

Ada preseden, menjelang Pemilu 2004, popularitas Partai Golkar jatuh akibat ketua umumnya saat itu, Akbar Tandjung tersangkut kasus menyelewengkan dana non-budgeter Bulog sebesar Rp 40 miliar. Namun, dengan menggelar konvensi, popularitas Golkar naik dan berhasil meraih suara terbanyak dalam Pemilu 2004.

Faktanya, saat ide konvensi muncul, PD memang ramai diperbincangkan. Namun, menurut sejumlah survei, elektabilitas PD terus merosot. Menurut survei Kompas Juni 2013 (saat konvensi ramai dibicarakan), elektabilitas PD ada di angka 10,1 persen.

Setelah konvensi dijalankan, pada Desember 2013, elektabilitas PD turun hingga 7,2 persen. Bahkan baru-baru ini Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memprediksi PD anjlok hingga 4,7 persen. Kondisi ini cukup memprihatinkan.

Kedua, ada asumsi yang mengatakan, konvensi akan membuka peluang yang sama dan seluas-luasnya bagi semua anak bangsa yang berpotensi ikut serta dalam konvensi. Jika ini benar, PD akan dicatat dengan tinta emas sebagai satu-satunya partai yang mau membuka diri bagi kader-kader dari luar dirinya, atau bahkan dari kader nonpartai untuk berkesempatan menjadi capres.

Faktanya, Komite Konvensi Capres PD sudah menentukan beberapa nama. Seperti kita ketahui, komite “hanya” meloloskan 11 nama peserta konvensi dan di antaranya malah ada yang ikut karena mendapat undangan khusus dari Presiden SBY.

Ketiga, asumsinya, yang menentukan hasil konvensi adalah pilihan rakyat, baik melalui voting maupun polling. Siapa yang mendapatkan dukungan terbesar dari rakyat, dialah yang akan jadi pemenang.

Faktanya, yang akan menentukan kemenangan konvensi adalah Majelis Tinggi PD dengan memilih dari beberapa nama yang dihasilkan dalam survei/polling. Artinya, terbuka peluang adanya perbedaan antara pilihan rakyat dengan pilihan majelis tinggi.

Dengan ketiga asumsi positif yang beriringan dengan fakta negatif inilah, kita sudah bisa menilai Konvensi Capres PD memang tidak sehebat yang diperkirakan. Wajar jika tokoh-tokoh populer, seperti Jusuf Kalla dan Mahfud MD yang awalnya mau ikut konvensi, membatalkan niatnya karena menganggap konvensi hanya main-main.

Beban berat

Konvensi berjalan tanpa perhatian publik, tak ada antusiasme media. Berita yang mengulas jalannya konvensi ala kadarnya.

Bahkan, saat deklarasi yang mestinya menjadi salah satu puncak kemeriahan, tidak ada liputan media yang memadai. Siaran tunda TVRI bukannya menambah kemeriahan malah menjadi blunder bagi lembaga penyiaran publik yang dibiayai rakyat ini karena diangagap melanggar UU No 32/2002 tentang Penyiaran.

Sebenarnya, kalau konsep penyelenggaraannya menarik, televisi sudah pasti akan memberitakan. Tapi yang menjadi masalah, citra PD saat ini sedang mengalami penurunan menuju titik nadir. Setiap kreativitas yang muncul dari PD, bisa jadi akan dipandang sebelah mata.

Saya kira, faktor degradasi citra partai inilah yang membuat konvensi tak bisa berbuat banyak untuk mengupayakan pemberitaan yang maksimal. Coba kita perhatikan, berita apa yang muncul pada hari-hari ini tentang PD.

Berita yang muncul tentang korupsi anggota-anggotanya; tentang pemecatan para loyalis Anas Urbaningrum dari jabatannya; tentang Ruhut Sitompul yang melontarkan puja-puji pada SBY dan keluarganya; tentang Sutan Bhatoegana yang dicekal bepergian ke luar negeri oleh KPK karena diduga menerima dan membagi-bagikan uang suap SKK Migas; dan hal-hal lain yang secara umum bernada negatif.

Peserta konvensi punya beban yang sangat berat. Itu karena semakin buruk citra PD, akan semakin sulit mengangkat citra dirinya sebagai capres. Bahkan bisa jadi, mengikuti konvensi akan sia-sia jika citra PD akan terus terpuruk seperti saat ini.

Mengapa sia-sia? Ini karena yang sedang dijaring dalam konvensi adalah capres. Tapi jangan lupa, untuk menjadi capres ada syarat-syarat yang harus dipenuhi, salah satunya harus diajukan partai politik atau gabungan partai politik yang meraih suara signifikan pada pemilu legislatif (20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah tingkat nasional). Hal ini menjadi pengecualian jika Yusril Ihza Mahendra berhasil memenangi judicial review di MK, terutama yang menyangkut presidential threshold.

Turun Pangkat

Siapa pun yang terpilih dalam konvensi, masih harus berjuang ikut memenangkan PD dalam pemilu legislatif. Kalau ternyata perolehan suaranya tidak bisa mencapai ambang batas persyaratan itu, capres hasil konvensi bisa berhenti pada statusnya sebagai bakal capres. Bisa juga “turun pangkat” menjadi cawapres jika harus bergabung dengan partai lain yang suaranya lebih tinggi.

Dibutuhkan kerja ekstra keras untuk menaikkan suara PD. Hanya berharap pada efek positif dari konvensi tampaknya akan sia-sia karena konvensi hingga saat ini masih belum tampak bisa menarik perhatian publik. Jika perhatian publik saja tidak ada, bagaimana mungkin konvensi mampu meningkatkan popularitas dan elektabilitas PD.

Melihat kondisi seperti itu, wajar jika hingga saat ini popularitas dan elektabilitas capres peserta Konvensi PD masih jauh di bawah, jika dibandingkan popularitas dan elektabilitas capres-capres lain yang bukan peserta Konvensi PD.

*Penulis adalah Direktur Utama PT Sinar Harapan Media Holding.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online