Ziarah


Berlaku Adil terhadap Istri-istri ala Bung Karno

Rabu, 23 September 2015 | dibaca: 4709

Sebuah persyaratan berat bagi laki-laki muslim yang mau berpoligami adalah berlaku adil kepada semua istri.

Sebuah persyaratan berat bagi laki-laki muslim yang mau berpoligami adalah berlaku adil kepada semua istri. Adil dalam memberi nafkah, baik lahir maupun batin. Adil dalam memberi waktu dan perhatian. Adil dalam segala hal adalah sesuatu yang hampir mustahil.

Bung  Karno, presiden pertama RI yang mempunyai lebih dari satu istri, punya cara untuk berlaku adil dan bijaksana dalam hal ini. Semuanya diungkapkan dengan blak-blakan dalam autobiografinya, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang terbit tahun 1965.

Dikisahkan, pada Juli 1953 satu kelompok gerakan emansipasi (wanita) berupaya memperjuangkan undang-undang antipoligami. Tepat di tengah menghangatnya masalah ini, Bung Karno menikahi Hartini. Padahal, sudah ada Fatmawati sebagai istri pertama dan ibu negara. Timbul kehebohan. 
Para perempuan yang merasa khawatir kedudukan mereka yang dominan di rumah tangga akan menjadi goyah, berbaris ke Istana, berdemonstrasi, memprotes pernikahan presiden dengan Hartini.

“Sikap militan mereka membuat aku menderita, terutama ketika  koran-koran terus menyerangku,” kata Bung Karno dalam autobiografi yang oleh seorang teman disingkat menjadi PELIR (Penyambung Lidah Rakyat) Indonesia itu.

Demonstrasi itu bukan menyerang kebijaksanaan negara, tetapi persolan pribadi presiden. Bung Karno dibuat repot karenanya.  Tapi, ia tidak menyuruh para perempuan itu untuk tutup mulut agar tidak melukai perasaan mereka. Ia berusaha keras menghindarkan persoalan dua istri ini dari masalah protokol.

Tentang alasannya mengawini Hartini ia menjelaskan, “Alasannya sederhana saja. Alasan pokok yang telah berlangsung sejak zaman dulu dan akan tetap berlangsung terus setelah aku tidak ada lagi: Aku bertemu dengannya. Aku jatuh cinta padanya. Dan begitulah yang terjadi. Tidak lebih dari itu.”

Karena sebagian perempuan itu tidak ingin ada ibu negara selain Fatmawati, Bung Karno mengambil langkah, yang dianggapnya bijaksana, yakni Fatmawati tetap tinggal di Jakarta dan Hartini bersamanya tinggal di paviliun Istana Bogor. Ini untuk menghindari percekcokan.

Bung Karno tidak memaksa perempuan-perempuan pemrotes itu menerima apa yang mereka tidak pilih. Lebih lanjut, dalam kunjungan ke luar negeri, ia memutuskan tidak satu pun dari kedua istrinya itu yang diajak.

“...dalam perjalanan ke luar negeri, aku tetap bersikap bijaksana. Aku biasanya pergi seorang diri,” katanya.

Justru pada waktu pergi ke luar negeri seorang diri itulah Bung Karno menjadi incaran para wartawan, terutama fotografer, ketika ia berkumpul dengan perempuan-perempuan cantik, hingga ia digelari ’Le Grand Seducteur’   (Sang Perayu Agung).






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online