Ziarah


Corruptio Optimi Pessima

Kamis, 15 Oktober 2015 | dibaca: 4319

kejahatan yang terburuk

Maksud judul tulisan ini adalah kejahatan oleh orang baik adalah kejahatan yang terburuk. Dalam bahasa Inggrisnya berarti corruption by the best is the worst. Judul tulisan ini saya pinjam dari Nurcholish Madjid dalam sambutannya untuk penerbitan ulang buku Demokrasi Kita karya Bung Hatta bertarikh Jakarta, April 2004.

Terjemahan dalam bahasa Inggris itu saya rasa lebih pas untuk menanggapi upaya DPR merevisi Komisi Pemberantasan Korupsi RUU (KPK), yang dikhawatirkan berujung ke pembubaran komisi tersebut.

Anggota DPR bisa dikategorikan orang terbaik negeri ini. Minimal, ia bisa memenuhi salah satu kriterianya, yakni terdidik atau berpendidikan. Kriteria lainnya, termasuk punya uang banyak untuk “biaya politik” guna meraih kursi DPR.

Sekelompok budayawan lintas gender, etnis, subkultur, dan agama yang tergabung dalam Mufakat Budaya Indonesia (MBI) menyatakan keprihatinan yang mendalam menanggapi perkembangan mutakhir kehidupan bangsa di semua dimensi, termasuk politik, ekonomi, hingga hukum.

Dalam pernyataan yang dibacakan budayawan Radhar Panca Dahana di Taman Ismail Marzuki di Jakarta, 13 Oktober 2015, MBI merasa priahatin dengan perkembangan keadaban kita sebagai manusia dan bangsa, yang dinilai kian menunjukkan inadekuasi dan degradasi tajam dalam melangsungkan hidup yang dijiwai nilai-nilai luhur dan keluhuran budi.

“Kami menyesali usaha sebagian golongan masyarakat, khususnya yang yang ada di kalangan elite bahkan pengambil kebijaksanaan publik, yang secara konspiratif bahkan hampir tanpa keadaban (primitif) mencoba menghancurkan upaya-upaya bersama kita untuk meraih keluhuran dan kemuliaan. Itu antara lain dengan revisi RUU KPK, pengesahan RUU Kebudayaan, dan penyusunan RUU Pengampunan,” kata pernyataan yang ditandatangani lebih dari 40 orang itu.

Semua upaya itu dinilai MBI secara nyata melawan kehendak dan harapan publik, sejarah dan konstitusi. Bahkan secara sistematis, ini berkehendak mengoyak soliditas dan kekuatan kebudayaan yang diwariskan para leluhur. MBI khawatir, upaya-upaya itu menjadi penyebab runtuhnya eksistensi bangsa.

MBI merasa turut bertanggung jawab atas semua hal tersebut. Dalam upaya bertanggung jawab, mereka menyerukan dengan kuat dan hikmat kepada semua pihak yang terlibat usaha-usaha destruktif tersebut untuk sebagai berikut.

  1. Merenungkan kembali sejarah dan jati diri bangsa ini, juga kedudukan, amanah, dan tanggung jawab besar yang dimilikinya untuk menghentikan usaha-usaha tersebut, atau bila tidak, mengembalikan amanah suci tersebut.
  2. Membatalkannya dengan hati yang besar dan pikiran yang benar semua upaya legislasi kehidupan publik yang menodai atau mengkhianati nilai-nilai luhur kebudayaan kita sendiri.
Bersamaan dengan itu, MBI menyatakan beberapa hal ini.
  1. Kami mengajak dengan sungguh-sungguh semua eksponen bangsa bekerja keras bersama untuk menghentikan krisis kebudayaan yang pasti menenggelamkan derajat, bahkan keberadaan kita sebagai manusia dan bangsa.
  2. Kami menyerukan juga seluruh lapisan masyarakat untuk membangun negeri, mengembangkan kepribadian dan keadaban bangsa demi kemuliaan hidup anak cucu kita agar jangan sampai terlaknat oleh nasib dan sejarah karena kebodohan dan ketamakan hidup yang sementara ini, hanya karena disepelekan atau tidak diacuhkannya seruan kebudayaan ini.
Para penanda tangan pernyataan itu, antara lain Radhar Panca Dahana, KH Mustofa Bisri, Profesor Dr Sri Edi Swasono, Buya Syafii Maarif, Dolorosa Sinaga, Mpu Jayapremana, Teuku Kemal Fasya, Gerson Poyk, Jean Couteau, Zawawi Imron, Bambang Umar Widodo, HS Dillon, Parni Hadi, dan Mohammad Sobary.

Setelah ini apa? Ada yang mengusulkan segera dilakukan gerakan sosial dengan perguruan tinggi sebagai ujung tombaknya. Ada yang berharap pada TNI. Ada lagi yang berucap bernada mistik seperti “Jika seruan ini tidak dihiraukan, alam akan bertindak.” Kualat, geger, revolusi? Walahualam






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online