Ziarah


Indonesia Raya: Di Sinilah Aku Berdiri...

Rabu, 28 Oktober 2015 | dibaca: 4342

Indonesia telah merdeka 70 tahun, tapi masyarakat adil dan makmur belum terwujud

/Indonesia, tanah airku/tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri, menjadi pandu Ibuku/

Demikian bunyi syair pembuka lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Karya komponis Wage Rudolf Supratman itu diperkenalkan pertama kali dalam permainan biola tanggal 28 Oktober 1928 pada Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda. “Di sanalah aku berdiri” membuktikan bahwa WR Supratman dan para peserta Kongres Pemuda II adalah visioner. Mereka mempunyai visi atau impian jauh ke depan bagi terwujudnya satu negara Indonesia Raya. Sebuah Indonesia yang besar. Peserta kongres itu mewakili organisasi pemuda kedaerahan, termasuk Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan Jong Celebes. Visi mereka baru terwujud 17 tahun kemudian dengan diproklamasikannya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno dan Hatta. Wilayah RI ditetapkan seluruh bekas jajahan pemerintah kolonial Belanda. “Di sanalah ...” dipergunakan, karena waktu itu “Indonesia Raya” masih sebuah angan-angan. Para pemuda Angkatan 1928 bermimpi sesuatu yang besar, melampaui zamannya. Setelal 17 tahun, mimpi itu menjadi kenyataan. Bung Karno dalam pidatonya 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), menyampaikan konsep sebuah “nationale staat”, sebuah “nation-state” atau negara bangsa. Sebuah negara yang mencakup penduduk dari seluruh pulau yang mendiami wilayah yang kini disebut NKRI. “Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya yang telah berdiri sejak Sriwijaya dan Majapahit,” kata Bung Karno dalam pidatonya yang kemudian lebih dikenal sebagai ”Lahirnya Pancasila” itu. Pidato itu disampaikan tanpa naskah dengan semangat berapi-api dan disambut tepuk tangan meriah menurut notulen stenografis. Era Sriwijaya dan Majapahit sering dikenang sebagai “zaman keemasan Nusantara” (kepulauan di antara dua benua dan dua samudra). Menyitir Ernest Renan, sejarawan Prancis dan Otto Bauer, politikus/negarawan Austria, Bung Karno menjelaskan apa yang disebut sebuah bangsa. Menurut Renan, bangsa adalah kehendak untuk bersatu. Sementara itu, Bauer berpendapat bangsa adalah suatu karakter bersama yang tumbuh dari persamaan nasib. Kedua tokoh itu dinilai telah ketinggalan zaman, karena memisahkan orang dan tempat, hanya melihat orangnya. Waktu itu belum ada ilmu yang disebut geopolitik. Padahal, kata Bung Karno, orang dan tempat itu menyatu dalam apa yang disebut “tanah air”. Bangsa Indonesia, katanya, adalah seluruh manusia yang menurut geopolitik yang ditentukan Allah Swt tinggal dalam kesatuan masing-masing di pulau-pulau dari utara Sumatera sampai Irian. Mereka punya keinginan bersatu dan telah tumbuh menjadi satu karakter Indonesia (seperti bunyi Sumpah Pemuda). Geopolitik Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Menurut Lemhannas, Wawasan Nusantara adalah suatu cara pandang atau keyakinan yang memandang rakyat, bangsa, negara, dan wilayah Nusantara (darat, laut, dan dirgantara) sebagai satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan, yang meliputi satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan sosial budaya serta satu kesatuan pertahanan keamanan. Indonesia telah merdeka 70 tahun, tapi masyarakat adil dan makmur belum terwujud. Masih perlu banyak kerja keras, cerdas, dan ikhlas. Mungkin, biar lebih cepat terwujud, syair “Indonesia Raya”, jika boleh, perlu sedikit diubah, karena Indonesia sudah merdeka. Kata “Di sanalah“ diganti menjadi “Di sinilah” aku berdiri menjadi pandu Ibuku.  






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online