Ziarah


MALIN KUNDANG

Selasa, 03 Nopember 2015 | dibaca: 4331

sikap para ibu yang benar-benar mengasihi anak-anaknya tanpa pamrih

Konon, Malin Kundang dilahirkan di kampung nelayan di Sumatera Barat. Malin Kundang hidup bersama ibunya yang seorang janda yang siang-malam membanting tulang demi mengisi perut mereka berdua. Pekerjaan apa pun dilakukan sang ibu asalkan halal. 

Perempuan itu sangat menyayangi Malin Kundang.  Bertahun-tahun mereka lewati sehingga Malin Kundang beranjak remaja. Si Malin Kundang sudah mulai bisa bekerja dan membantu ibunya mencari nafkah.  

Hingga suatu hari, seorang nakhoda kaya raya berlabuh di pantai di kampung nelayan itu. Ia mengajak Malin Kundang untuk ikut berlayar. Dengan berat hati, ibu Malin Kundang melepaskan kepergian anaknya. Ia hanya mengharapkan anaknya itu selalu ingat padanya dan kampung halamannya jika telah sukses merantau.   

Dalam perantauannya, Malin Kundang tiba di sebuah desa yang sangat subur dan sangat maju. Di desa itu, Malin Kundang memulai hidup baru dengan bekerja giat dan keras. Maka, dengan cepat Malin Kundang menjadi saudagar kaya raya. Ia menikah dengan seorang putri saudagar yang juga kaya raya.  

Di kampung halamannya, berita tentang keberhasilan Malin Kundang telah sering didengar ibunya yang kini telah tua renta. Perempuan tua itu sangat merindukan anaknya. Ia yakin suatu saat anaknya yang gagah dan kaya akan menjemputnya. Setiap hari, ia duduk di dermaga desa untuk menanti kedatangan putranya.  

Pada suatu hari, sebuah kapal besar merapat ke dermaga tempat ibu Malin Kundang duduk setia menanti. Ketika si saudagar kaya pemilik kapal dan istrinya tampak berdiri di haluan kapal, yakinlah ibu Malin Kundang bahwa saudagar kaya itu adalah anaknya. Ibu Malin Kundang langsung memeluk anaknya ketika saudagar itu turun dari kapal bersama istrinya. Ia meluapkan kegembiraannya karena Malin Kundang telah menjadi orang berhasil. 

Akan tetapi, Malin Kundang malu memiliki ibu tua renta dengan baju yang compang-camping. Di hadapan istrinya, ia mengatakan bahwa ia bukanlah anak perempuan tua itu. Sungguh amat terluka hati ibu Malin Kundang.  Ia berusaha meyakinkan Malin Kundang bahwa ia memang ibunya, tetapi Malin Kundang malu mempunyai ibu yang buruk rupa dan terus menyanggah. Bahkan, Malin Kundang membentak dan mendorong ibunya hingga terjatuh ke tanah. 

Sambil menangis, perempuan tua itu menadahkan tangan dan berdoa.  “Ya Allah, jadikanlah anak durhaka ini sebagai kisah untuk pelajaran berharga di masa datang. Jadikanlah ia batu karena telah durhaka kepada ibu kandungnya sendiri.”. 

Si Malin Kundang yang makin kesal dan marah itu segera mengajak istrinya naik ke kapal. Mereka segera berlayar, tetapi hanya sekejap, badai datang menerjang. Ombak samudera bergulung-gulung.  Kapal Malin Kundang yang besar dan kuat diombang-ambingkan hingga pecah terbelah. Malin Kundang jatuh ke laut dan terdampar di pantai. Ia berusaha meminta ampun kepada ibunya, tetapi kutukan telah datang. Ketika ia bersimpuh, petir menyambar. Malin Kundang berubah menjadi batu. 

Cerita Rakyat Malin Kundang berasal dari sebuah desa nelayan di Sumatera Barat, tepatnya di Pantai Air Manis, Padang Selatan. Di sana, terdapat batu yang mirip orang sedang bersujud. Batu berwujud manusia bersujud tersebut dikaitkan dengan kisah Malin Kundang. Saya sangat mengagumi cerita rakyat Malin Kundang. Kisah itu merupakan pelajaran dan peringatan bagi saya untuk senantiasa menghormati ibu saya. 

Namun, episode yang menutup kisah dengan kutukan sang ibu terhadap putra durhakanya selalu merisaukan lubuk sanubari saya. Ada sesuatu yang kurang sesuai dengan kenyataan yang saya lihat pada sikap para ibu yang benar-benar mengasihi anak-anaknya tanpa pamrih, bahkan tanpa kompromi apa pun. 

Pada suatu hari, saya bertanya kepada ibu saya mengenai apabila saya durhaka seperti Malin Kundang, apakah beliau akan mengutuk saya menjadi batu. Saya tidak pernah lupa bagaimana sambil tersenyum akibat sudah terbiasa menghadapi pertanyaan-pertanyaan jahil saya, ibu saya menegaskan bahwa sedurhaka apa pun diri saya, mustahil Ia sampai hati mengutuk menjadi batu. 

Saya lanjut bertanya “Loh, kenapa, Bu?”. “Sebab ibu sayang kamu”kata ibu saya. Sejak itu, dari lubuk sanubari terdalam dan tertulus, saya makin mencintai, menyayangi, dan menghormati ibu saya.

Penulis adalah pembelajar makna kasih sayang.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online