Ziarah


Pahlawan: Refleksi dan Proyeksi

Rabu, 04 Nopember 2015 | dibaca: 4327

Keadaan Indonesia dari waktu ke waktu harus diakui terus maju

Banyak makna yang ditangkap dari menyaksikan tayangan upacara di layar televisi. Kepala sama hitam, tapi isi pikiran berlainan, termasuk yang agak lain adalah apa yang ada dibenak Anies Baswedan. Sosok yang sekarang menjadi seorang doktor dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

“Dulu, dalam upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka pada 17 Agustus, tampak banyak orang berseragam dengan peci warna kuning kunyit (seragam legiun veteran),” kata mendikbud dalam pidatonya saat menyerahkan anugerah kepada sejumlah sesepuh yang dianggap berjasa di kantornya pada 27 Agustus.

“Semakin ke mari, jumlah orang berseragam itu semakin sedikit, diganti wajah-wajah yang lebih muda”, ujar Anies, yang berpidato dalam kapasitasnya sebagai Ketua  Komite Nasional UNESCO, Indonesia. Anies benar, jumlah veteran semakin susut secara alami karena meninggal dunia, dimakan usia. 

Anies menduga, apa yang ada di benak para veteran ketika mengikuti upacara bendera itu adalah sebuah refleksi, sedang bagi peserta muda adalah sebuah proyeksi. Refleksi artinya kenangan atau kilas balik, sedangkan proyeksi adalah impian atau harapan.  Dugaan itu bisa betul. Keadaan Indonesia dari waktu ke waktu harus diakui terus maju. Itu berkat kerja, pengabdian, dan pengorbanan banyak orang. Jangan dihitung besarnya biaya kerusakan sumber daya alam, lingkungan, dan mental-spiritual para koruptor.

Apa yang ada di benak saya sedikit berbeda dengan dugaan Anies. Saya menduga, di samping refleksi  para veteran, mungkin mereka frustrasi. Mereka kecewa karena Indonesia pada waktu itu (era orba) belum seperti yang mereka cita-citakan saat berjuang menyambung nyawa mempertahakankan proklamasi 17 Agustus 1945. Bisa jadi, sebagian kecewa karena yang paling menikmati hasil kemerdekaan bukan rakyat banyak, termasuk veteran, melainkan orang lain.  

Untuk kekecewaan jenis ini, ada obat mujarab yang disediakan pemerintah, yakni bintang tanda jasa, bintang gerilya, dan hak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP). Tapi, tak semua pejuang mau dimakamkan di TMP. Di antara mereka adalah mantan Kapolri, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso. Pak Hoegeng, yang terkenal antikorupsi sampai mati, menolak di makamkan di TMP dengan alasan tidak mau jenazahnya terbaring bersama para koruptor. Sesuai keinginannya, jenazah Pak Hoegeng dimakamkan di TPU (Taman Pemakaman Umum) Tonjong, Parung, Bogor. 

Seperti dimaklumi, banyak veteran angkatan 45 sampai tua hidup sederhana, bahkan tergolong miskin. Dari mereka jarang terdengar keluh kesah. Berkat ditempa zeitgeist (semangat jamanya), mereka tetap berdisiplin tinggi dan dengan kepala tegak, berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yakni masyarakat adil dan makmur.

Sekali pun sudah sepuh, para veteran menunjukkan loyalitas tinggi kepada NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.  Salah satu di antaranya adalah  Prof Dr Subroto, mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Menteri Pertambangan dan Energi (Mentamben), dan Sekjen OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) zaman orba.  Pak Broto, yang kini sudah berusia di atas 90 tahun, tetap aktif menghadiri pertemuan-pertemuan yang membicarakan masalah kebudayaan, jati diri bangsa, dan pemantapan ideologi Pancasila.

Masih ada lagi obat untuk menghibur para veteran. Mereka disebut pahlawan, yang oleh sejumlah orang, diartikan sebagai “pahalawan”.  Maksudnya, orang yang dijamin mendapat pahala. Mendengar istilah “pahalawan”, saya sering tertawa geli karena langsung ingat paha sendiri.






 

 

Tentang Kami | Agen Berlangganan (Unduh PDF) | Berita Hari Ini

©2018 Sinar Harapan Online