Laba PGN Anjlok 69,87 Persen

Selasa , 20 Agustus 2019 | 13:33
Laba PGN Anjlok 69,87 Persen
Sumber Foto: Istimewa
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)
POPULER

JAKARTA - Laba bersih PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) pada semester I-2019 turun 69,87% menjadi US$ 54,04 juta jika dibandingkan dengan laba bersih PGAS semester pertama tahun lalu yang mencapai US$ 179,39 juta.

Berdasarkan laporan keuangan PGAS yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), penurunan laba bersih itu terjadi di tengah penurunan pendapatan perusahaan sebesar 6,77% menjadi US$ 1,79 miliar dari sebelumnya US$ 1,92 miliar.

Pendapatan PGAS tersebut setara dengan sekitar Rp 25,4 triliun (kurs rata-rata semester I tahun 2019 Rp 14.195/US$). Pendapatan tersebut berasal dari hasil penjualan gas sebesar US$ 1,33 miliar, penjualan minyak dan gas sebesar US$ 196,2 juta, transmisi gas sebesar US$ 163,4 juta dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$ 97,19 juta.

Selama semester I 2019, PGN mencatatkan laba operasi sebesar US$ 252,03 juta. Namun, selama periode ini juga, perseroan mencatatkan beban non-cash di antaranya impairment dan selisih kurs, yang mempengaruhi kinerja keuangan di semester 1-2019.

Adapun EBITDA atau laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi sebesar US$ 472,31 juta.

"Di tengah tantangan bisnis domestik dan global yang sangat dinamis, perseroan mampu meningkatkan pangsa pasar gas bumi melalui penambahan jumlah pelanggan dan perluasan infrastruktur sebagai Sub-Holding Gas," kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama, dalam siaran pers, Selasa (20/8/2019).

Selama periode Januari-Juni 2019, PGN berhasil menyalurkan gas bumi sebesar 2.938 BBTUD. Rinciannya, volume gas distribusi sebesar 932 BBTUD, dan volume transmisi gas bumi sebesar 2.006 BBTUD.

Melayani lebih dari 350.000 pelanggan dengan cakupan infrastrukur pipa gas bumi sepanjang lebih dari 10.000 km termasuk jaringan gas untuk melayani sektor rumah tangga sepanjang lebih dari 3800 km.

Rachmat menjelaskan, sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional di berbagai sektor bisnis, PGN juga akan terus membangun dan memperluas infrastruktur gas bumi yang berkesinambungan.

Tingginya kebutuhan energi di dalam negeri merupakan peluang bagi PGN untuk mengoptimalkan penggunaan gas bumi dan pemanfaatan gas bumi di berbagai daerah di Indonesia yang berkelanjutan. Menurut Rachmat, kebijakan pemerintah membangun berbagai infrastruktur telah mendorong munculnya sentra- sentra perekonomian baru di berbagai wilayah di Indonesia.

Sebagai sub-holding gas, katanya, PGN akan mengambil peran untuk menyediakan energi gas bumi yang terbukti efisien, ramah lingkungan dan sumbernya berada di dalam negeri.

"Kebutuhan energi di dalam negeri yang semakin besar menjadi tantangan bagi PGN untuk menyediakan gas bumi yang akan menciptakan multiplier effect luas bagi sektor industri dan ekonomi nasional," katanya.

Infrastruktur akan tetap menjadi fokus PGN untuk mengalirkan gas bumi dari hulu hingga ke konsumen.

"Selain itu, untuk mewujudkan komitmen penggunaan dan pemanfaatan gas bumi di berbagai daerah di Indonesia yang berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak konsumen dalam mewujudkan bauran gas bumi di 2025 sebesar 22%, kami terus berupaya untuk meningkatkan kehandalan kepada pelanggan " jelas Rachmat.

Di sisi lain, saham PGAS di Bursa Efek Indonesia pada sesi I ditutup minus 3,26% di level Rp 1.930/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 46,79 triliun. Nilai transaksi saham ini mencapai Rp 99,96 miliar dengan volume perdagangan 51,66 juta saham

KOMENTAR

End of content

No more pages to load