Calon Ketum Golkar Tersisa Dua Orang

Rabu , 04 Desember 2019 | 11:31
Calon Ketum Golkar Tersisa Dua Orang
Sumber Foto antarafoto
Ridwan Hisjam

JAKARTA - Calon ketua umum (ketum) Partai Golkar yang akan bersaing di Musyawarah Nasional (Munas) X tersisa dua orang. Mereka adalah Airlangga Hartarto dan Ridwan Hisjam. Empat calon lain batal maju karena dinilai tidak memenuhi syarat atau mundur. Sementara tiga calon mundur, termasuk calon kuat Bambang Soesatyo atau Bamsoet.

Komite Pemilihan sebelumnya menggugurkan empat dari sembilan nama bakal caketum Golkar yaitu Indra Bambang Utoyo, Derek Lopatty, Achmad Annama, serta Aris Mandji. Komite Pemilihan menyatakan keempat nama itu tidak memenuhi syarat sebagaimana telah dicantumkan dalam formulir pendaftaran.

Tiga calon ketum yang mundur adalah Bambang Soesatyo, Agun Gunandjar Sudarsa, serta Ali Yahya. Ketiganya memilih mundur dari pencalonan beberapa jam sebelum Munas X Golkar dibuka kemarin.

Bamsoet mengundurkan diri setelah berdiskusi dengan tokoh-tokoh senior Golkar, seperti Luhut Binsar Pandjaitan, Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Agung Laksono.

Ketua MPR itu memilih mundur dari bursa caketum Golkar demi menjaga kondusifitas situasi politik nasional.

"Situasi nasional politik yang kondusif guna menjaga harapan, (harus) kita perjuangkan," katanya kepada wartawan usai pertemuan di Kantor Kemenko Maritim, Jakarta, Selasa (3/12/2019).

Bamsoet membantah pengunduran dirinya karena ada intervensi Presiden Joko Widodo.

Sementara itu, Agun mengungkapkan alasannya mundur karena mendapat jaminan dari kubu Airlangga bahwa hal yang akan diperjuangkannya akan diterapkan.

Agun mendapat jaminan bahwa pada kepemimpinan Golkar periode mendatang segala keputusan partai akan dilakukan secara kolektif kolegial, tidak secara sepihak."Kalau ada jaminan dari pemimpin yang akan terpilih lima tahun ke depan akan menjalankan mekanisme demokrasi berarti tujuan saya sudah tercapai. Saya (putuskan) mundur, untuk apa saya lanjutkan," kata Agun di arena Munas X Golkar, Selasa (3/12/2019).

Sedangkan, alasan Ali mundur dari bursa caketum Golkar belum diketahui. Ia juga belum memberikan pernyataan secara resmi terkait statusnya tersebut. Kabar pengunduran diri Ali baru disampaikan Ketua Pelaksana Munas X Golkar Adies Kadir."Ali Yahya juga sudah mundur," kata Adies di arena Munas X Golkar, Selasa (3/12/2019).

Kini pertarungan bakal caketum Golkar tinggal menyisakan Airlangga dan Ridwan. Sebelum ditetapkan sebagai caketum, mereka harus melewati tahap penjaringan terlebih dahulu.

Pada tahapan tersebut, masing-masing bakal caketum diwajibakan dukungan sebesar 30 persen dari pemilik hak suara. Pemilik suara sah dalam pemilihan caketum ialah 34 DPD tingkat I (provinsi), 514 DPD tingkat II (kabupaten atau kota), satu suara DPP, satu suara Dewan Pembina, dan 10 ormas sayap partai. Sehingga total suara yang diperebutkan berjumlah 560.

Airlangga adalah sosok petahana. Ia terpilih menjadi Ketum Golkar dalam Munas Luar Biasa (Munaslub) yang digelar pada 2017 silam. Ia menggantikan Setya Novanto yang kala itu terjerat sebagai tersangka dalam kasus korupsi Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP).

Selama menjabat sebagai ketum Golkar, Airlangga juga menjalankan amanat Jokowi sebagai Menteri Perindustrian periode 2016-2019, kemudian Menteri Koordinator bidang Perekonomian periode 2019 hingga saat ini.

Sementara Ridwan adalah sosok yang menjabat sebagai Ketua DPP Golkar saat ini. Karier politik Ridwan dimulai saat usianya menginjak 40 tahun setelah diajak oleh Akbar Tandjung. Ridwan kemudian menjadi pengurus DPD Golkar Jawa Timur sejak 1999 hingga 2005.

Selain sebagai Ketua DPP Golkar, Ridwan juga menduduki kursi DPR periode 2019-2024.

Ridwan pun tercatat pernah mencalonkan diri sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur berpasangan dengan Sutjipto pada 2008. Namun, duet Sutjipto-Ridwan langsung tumbang di putaran pertama. Pilkada Jawa Timur 2008 pun akhirnya dimenangkan oleh pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf.

 



Sumber Berita: cnnindonesia.com
KOMENTAR

End of content

No more pages to load