Jendela Masa Lalu di Layar "Bumi Manusia"

Rabu , 28 Agustus 2019 | 13:44
Jendela Masa Lalu di Layar
Sumber Foto: IDN Times.
Film "Bumi Manusia" mulai tayang di bioskop 15 Agustus 2019.

JAKARTA - Film yang diangkat dari buku dengan judul sama, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini menceritakan kisah tokoh Minke atau Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang diperankan oleh Iqbal. Minke adalah seorang anak bupati yang memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda. Di sekolah ini, ia memiliki teman bernama Robert Surhoof seorang anak blasteran Indonesia-Belanda.

Bagai jendela masa lalu

Upaya sutradara film ini, Hanung Bramantyo untuk menghadirkan suasana Surabaya pada zaman penjajahan memang patut diacungi jempol. Memang jelas, masih ada kekurangan-kekurangan pada latar yang tampak kurang natural. Namun, tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan Bumi Manusia mampu menaikkan standar film Indonesia saat ini.

Dialog yang terdengar berbeda dengan dialog saat ini adalah dialog khas yang membedakan penulis novel seperti Pramoedya Ananta Toer, dengan penulis lainnya. Dialog yang terdengar “asing” dan setengah berpuisi ini berhasil membawa penonton keluar dari era modern—era kekinian. Menonton film Bumi Manusia layaknya melongok ke sebuah jendela asing di mana aktivitas yang terjadi di sana bukan aktivitas yang berasal dari abad ini.

Menonton Bumi Manusia, kita benar-benar akan dibawa ke dunia lain, dunia di mana pribumi dan orang Belanda dipisahkan oleh strata dan hidup karena yang satu memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Tidak ketinggalan, film ini juga memperlihatkan bagaimana agama digunakan sebagai salah satu alat perjuangan dalam pergerakan—sebuah hal yang tidak asing dan relatable dengan kondisi politik Indonesia saat ini.

Kebencian pada penindasan

Ada banyak pesan yang dicoba disampaikan Pramoedya di film ini. Salah satunya yang sangat gamblang adalah kebencian Pram pada penjajahan yang baginya menginjak-injak harkat dan derajat bangsa. Ia jijik dan muak pada penindasan dan sistem kelas. Perbedaan kasta ditampilkan secara vulgar di layar lebar dalam intensitas yang cukup banyak sehingga amat mustahil tak terasa.

Dari sisi akting, selain dua bintang utama, Iqbaal Ramadhan yang memerankan tokoh Minke dan Mawar Eva de Jongh sebagai Anellies Mellema, akting Ine Febrianti sebagai Nyai Ontosoroh bagaikan mutiara yang mencuri perhatian. Nyai Ontosoroh di sini adalah sosok pendobrak, ia menjadi wanita yang terlalu visioner untuk ada di zamannya. Akting Ine membuat karakter Nyai Ontosoroh tampil bulat lengkap dengan sisi kemanusiaan tanpa kehilangan kelembutannya sebagai seorang ibu.

Jika Anda memiliki waktu luang atau sekadar ingin lari dari kepenatan aktivitas sehari-hari, film Bumi Manusia sangat pantas disambangi di bioskop-bioskop terdekat Anda. (E-4)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load