Apakah Smartphone Membuat Kita Semakin Gemuk?

Selasa , 16 April 2019 | 09:57
Apakah Smartphone Membuat Kita Semakin Gemuk?
Sumber Foto: Canva.
Multitasking dan risiko obesitas dipengaruhi oleh bagian otak yang merespons pada godaan terhadap sesuatu.

HOUSTON - Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Brain Imaging and Behavior, pekerja yang menggunakan banyak gawai dengan kebiasaan multitasking cenderung memiliki massa lemak di tubuh yang jauh lebih besar daripada pekerja yang tidak melakukan kebiasaan multitasking.

Peneliti dan psikolog dari Rice University di Houston, Richard Lopez mengatakan kemungkinan gawai mengakibatkan perubahan perilaku pada otak kita. Saat menghadapi gawai, otak menjadi kurang memiliki kontrol. Hal ini selaras pula dengan cara diri kita menghadapi makanan yang mungkin ada di depan mata.

Pada penelitian ini, Lopez dan kolega-koleganya melakukan penelitian pada 132 mahasiswa berusia 18 sampai 23 tahun. Mereka ditanyai mengenai seberapa banyak mereka melakukan multitasking dan seberapa mudahnya fokus mereka terpecah.

Pada penelitian ini, mahasiswa-mahasiswa dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan untuk mendeteksi perilaku kompulsif dan penggunaan ponsel berlebihan. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah Anda mengecek ponsel Anda ketika berbicara dengan orang lain?

Hasil penelitian menunjukkan mahasiswa yang memiliki skor akhir lebih tinggi cenderung lebih gemuk dibandingkan dengan mahasiswa yang skornya rendah. Dari penelitian ini, bisa disimpulkan ada kaitan antara keduanya.

Penelitian selanjutnya dilakukan Lopez pada 72 mahasiswa dengan pemeriksaan MRI. Dalam pemeriksaan ini, mahasiswa peserta penelitian diperlihatkan gambar-gambar serius yang dikombinasikan dengan foto-foto makanan lezat dan berlemak tinggi.

Ketika foto makanan diperlihatkan, aktivitas yang meningkat di bagian otak yang merespons godaan terhadap makanan segera tampak. Partisipan-partisipan yang menampakkan hal ini juga cenderung lebih gemuk dan menghabiskan lebih banyak waktu di kafe kampus, kata peneliti.

Tentu saja, hasil penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa orang yang melakukan banyak multitasking cenderung gemuk—hanya saja ada hubungan yang bisa ditarik. Namun, Lopez mempercayai penemuan antara multitasking dan risiko obesitas dipengaruhi oleh bagian otak yang merespons pada godaan terhadap sesuatu.

“Kami belum tahu apa efek dari semua perilaku ini atau bagaimana kami harus merespons berbagai aspek lainnya. Akan tetapi, saat ini yang bisa ditarik kesimpulan adalah berhati-hatilah pada kebiasaan multitasking. Melakukan multitasking secara sembrono kemungkinan memiliki efek tidak baik pada kita secara kognitif dan mungkin mendorong perubahan perilaku kita,” ungkap Lopez.

Dr David Kratz dari Yale University mengatakan studi ini memperlihatkan sebab akibat. “Studi ini memperbesar perhatian kita pada ‘asosiasi’ dan mengundang kita untuk makin banyak bertanya antara ‘koneksi dan jawaban’ dalam studi-studi lainnya. Kita sudah mendengar bahwa pola makan yang terganggu merupakan sumber segala masalah mulai dari makan berlebihan, keputusan-keputusan buruk, serta kenaikan berat badan.” Ia percaya, makan dengan sadar adalah cara untuk menghindari makan berlebih atau mengonsumsi makanan berlemak terlalu banyak. (E-4)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load