Melasma: Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahannya

Jumat , 20 September 2019 | 16:24
Melasma: Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahannya
Sumber Foto: Medical News Today.
Melasma merupakan salah satu penyakit hiperpigmentasi dengan ciri bercak coklat yang simetris pada area wajah.

JAKARTA – Pigmentasi menjadi momok yang menakutkan bagi kaum pria maupun wanita. Pasalnya, pigmentasi merupakan masalah kulit yang di mana bercak gelap muncul di sebagian daerah kulit. Bercak gelap ini menyebabkan warna kulit secara keseluruhan menjadi tidak merata sehingga membuat kepercayaan diri penderitanya menurun.

Pigmen adalah zat pewarna tubuh manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Banyak atau sedikitnya pigmen memengaruhi warna kulit seseorang. Warna kulit manusia dipengaruhi oleh zat pigmen tubuh yang disebut melanin. Jika melanin dalam tubuh terlalu banyak, warna tubuh akan semakin gelap.

Begitu pula sebaliknya, jika tubuh memproduksi sedikit melanin maka warna kulit pun menjadi lebih pucat. Menurut dokter SKINDA Medical Skin Care & Dermatology Center, dr. Sammy Yahya, Sp.KK, pigmentasi merupakan warna pada kulit yang dipengaruhi oleh jumlah pigmen melanin yang diproduksi oleh sel penghasil pigmen (melanosit).

Pigmen bergantung pada beberapa faktor antara lain ras/genetik, paparan sinar UV, dan juga sering dikaitkan dengan hormon. Kelainan pigmentasi dapat terjadi sejak lahir atau pigmentasi yang lebih gelap (hiperpigmentasi) maupun terang (hipopigmentasi). Namun, kasus hiperpigmentasi lebih sering dijumpai, salah satu contohnya melasma.

“Melasma merupakan salah satu masalah kulit yang sering dijumpai, berupa bercak cokelat ke abuan simetris pada area wajah. Kebanyakan orang memiliki masalah tersebut pada area pipi, dahi, hidung, dan diatas bibir,” kata dr. Sammy Yahya, Sp.KK, saat ditemui di SKINDA Medical Skin Care &Dermatology Center, Jl. Sultan Iskandar Muda No.9F, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019).

“Melasma lebih sering terjadi pada wanita. Setiap ras manusia dapat terkena melasma namun melasma lebih sering terjadi pada individu dengan tipe kulit yang lebih gelap. Melasma jarang terjadi pada usia pubertas namun umum terjadi pada usia reproduksi berkisar antara usia 20-30 tahun,” imbuh dr. Sammy.

Lebih jauh, dr. Sammy juga mejelaskan, melasma terjadi karena beberapa faktor, di antaranya faktor genetik, paparan sinar UV, kehamilan, terapi hormonal, obat-obatan, dan kosmetik. Bahkan, penyakit tiroid juga bisa dikaitkan dengan masalah kulit melasma. Penanganan melasma, membutuhkan kombinasi obat topikal, oral, dan prosedur penggunaan obat topikal/oles yang tepat. Menghindari paparan sinar matahari yang berlebihan merupakan langkah pertama pengobatan melasma.

“Selain itu, terapi dengan peeling kimiawi dan laser yang tepat juga diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Kombinasi perawatan di atas merupakan pilihan terbaik untuk hasil maksimal. Follow-up yang rutin juga sangat diperlukan terutama untuk mengevaluasi perkembangan penyakitnya karena melasma sering rekurens (terbentuk kembali),” ujar dr. Sammy.

Untuk mencegah melasma, hindari paparan sinar matahari yang berlebihan, gunakan tabir surya secara rutin dengan SPF minimal 30, topi, atau penutup kepala lain, serta aplikasikan skin care yang tidak menimbulkan iritasi kulit Anda. “Saya berpesan agar masyarakat bisa lebih peduli dengan kulitnya. Perawatan kulit dapat dilakukan sejak dini dan perlu disesuaikan dengan jenis kulit, kondisi kulit, serta keadaan penyakit yang menyertainya.”

Mengingat melasma merupakan salah satu kelainan kulit yang sulit diobati dan dapat berlangsung lama bahkan sepanjang usia. Terkadang, pasien baru mengobati melasma saat sudah berat atau mengganggu secara penampilan. Hal ini membuat Anda perlu merogoh kocek lebih dalam dan waktu lebih lama untuk memperbaiki kondisi kulit Anda. (M-1/E-4)

KOMENTAR

End of content

No more pages to load