Joker, Ketika Cinta Terbuang

Sabtu , 05 Oktober 2019 | 07:09
Joker, Ketika Cinta Terbuang
Sumber Foto Dok/Warner Bros Pictures
Film Joker

JAKARTA - Pilu. Tragis. Kegilaan yang mendalam. Tiga hal tersebut ada di hampir seluruh bagian dari film Joker (2019). Untuk sebuah film yang mengangkat karakter dari komik, cerita film yang dibintangi Joaquin Phoenix ini amatlah gelap.

Joker mengisahkan beragam kekerasan baik fisik maupun mental yang terpaksa diterima dan dilalui oleh Arthur Fleck (Phoenix), seorang komedian gagal. Ia hidup di era ketika Gotham dalam titik kronis, penuh ketimpangan, kejahatan, dan kemarahan pada 1980-an.

Inilah fondasi pengembangan karakter bernama Joker yang dikenal sebagai 'Pangeran Kriminal' dan disebut 'supervillain'.

Butuh kesiapan mental untuk bisa menerima dan memahami segala hal yang dilalui oleh Fleck. Dalam konteks ini, sutradara Todd Phillips sungguh tak membuat Joker sebagai hiburan yang mudah ditelan begitu saja.

Konflik-konflik sosial seperti masalah kesehatan mental, benturan antar-kelas, hingga politik manipulatif ditampilkan secara nyata dan gamblang. Termasuk perjalanan kejiwaan Fleck, dari semula seorang yang tertindas menjadi penjahat berdarah dingin yang tidak merasakan apa-apa ketika mengambil nyawa seseorang.

Kali ini, penonton benar-benar diharapkan mematuhi aturan terkait klasifikasi usia dari lembaga sensor. Joker sungguh dibuat untuk penonton usia 17 tahun ke atas.

Peringatan ini bukan hanya terkait aksi kekerasan fisik di dalam film, tapi juga kedewasaan dalam menerima pesan di dalam film.

Selain itu, penonton yang memiliki masalah kesehatan mental atau depresi akan jauh lebih bijak menghindari film ini. Atau mintalah pendampingan dari orang terdekat bila kukuh ingin menyaksikannya.

Peringatan ini bukan sekadar menakut-nakuti atau pun berlebihan. Netizen pun mengeluhkan hal serupa. Todd Phillips bukan hanya menggambarkan segala kepiluan Fleck, namun membawa penonton ikut merasakannya.

Secara ajaib, Todd Phillips yang merangkap sebagai produser dan ikut membantu menulis naskah bersama Scott Silver, mampu membawa penonton ikut merasakan bagaimana menjadi orang yang dirundung, dimarjinalkan, mendapatkan kasih sayang yang palsu, dan tak diinginkan. Secara bertubi-tubi.

Bukan hanya itu, beragam kekerasan juga ditampilkan secara gamblang, atau setidaknya mampu membuat penonton terdiam seribu bahasa.

Di sisi lain, Joker juga menggambarkan betapa buruk dampak yang muncul terhadap seseorang yang merasakan kekurangan cinta, apresiasi, penerimaan, dan kasih sayang dari sekelilingnya. Ditambah lagi kegagalan pemerintah dalam membantu mereka yang termasuk dalam kaum marjinal - termasuk di dalamnya orang-orang yang membutuhkan bantuan psikolog profesional.

Masalah yang sebenarnya bisa terjadi dengan siapa pun di dunia ini, bukan hanya Joker.

Nahasnya, segala kondisi malang nan mengenaskan itu dialami oleh Fleck yang sebenarnya juga tumbuh dengan trauma dari masa kecil mengakar dalam kejiwaannya.

Narasi yang begitu gelap dari Todd Phillips ini juga sekaligus menjadi tamparan bagi siapa pun untuk berlaku baik kepada siapa pun, karena tak ada yang tahu ada apa di balik senyuman atau tawa seseorang.

Atas narasi dan pesan di balik cerita gelap ini, Phillips memang patut mendapatkan apresiasi luar biasa. Ia mampu menyuguhkan sebuah paket lengkap dari karya sinematik. Namun, patut diingat, film ini sendiri menjadi bahan perdebatan, terutama karena membuat penonton berempati dengan sosok penjahat berdarah dingin .

Lepas dari segala perdebatan dan pesan di dalamnya, Joker bukan hanya memiliki cerita yang kuat dan mampu membuat penonton berdecak kagum juga tercengang, tapi sinematografinya yang memukau, dengan iringan musik yang membius.

Sedangkan untuk Joaquin Phoenix, sebuah Piala Oscar amatlah layak untuk dirinya. Ia pun selama ini hanya pernah menerima nominasi sebanyak tiga kali, sekali untuk Best Supporting Actor, dan dua kali sebagai Best Actor.

Meskipun begitu, dengan penampilan Phoenix sebagai Joker, ia sejatinya telah memenangkan hati para penonton. Sorot mata, raut wajah, gerak tubuh, bahkan tawanya mampu menyampaikan kesakitan yang dialami serta tragis hidup seorang Arthur.

Bila membandingkan Phoenix dengan Heath Ledger sebagai salah satu aktor terbaik yang memerankan Joker, keduanya merupakan versi berbeda dan sulit untuk dibandingkan.

Joaquin Phoenix hebat memainkan Arthur Fleck sebelum menjadi Joker. Sedangkan Heath Ledger adalah versi terbaik setelah menjadi Joker.



Sumber Berita: cnnindonesia.com
KOMENTAR

End of content

No more pages to load