Menteri Siti Nurbaya Klaim Kualitas Udara Jakarta Masih Sehat

Kamis , 11 Juli 2019 | 12:25
Menteri Siti Nurbaya Klaim Kualitas Udara Jakarta Masih Sehat
Sumber Foto Merdeka.com
Kualitas udara di Ibu Kota Jakarta.

JAKARTA - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengklaim bahwa kualitas udara Jakarta masih dalam kategori bagus atau sehat. Kualitas ini berdasarkan perbandingan dengan baku mutu udara ambien nasional atau ukuran batas unsur pencemar yakni 65 ug/Nm3.

Hal ini bertolak belakang dengan situs pengukuran udara airvisual.com yang menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota dengan kualitas udara paling buruk atau berstatus Very Unhealthy pada 25 Juni lalu.

"Berdasarkan hasil pemantauan udara kota Jakarta, jika dibandingkan dengan baku mutu udara ambien nasional yaitu 65 ug/Nm3 maka kualitas udara Jakarta masih bagus atau sehat," kata Siti saat memberikan sambutan dalam acara Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2019 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Namun jika dibandingkan dengan standar WHO pada angka 25 ug/Nm3, kata Siti, kualitas udara Jakarta masuk kategori sedang. Sementara jika menggunakan data gabungan Air Quality Monitoring System (AQMS) KLHK dan pemerintah provinsi DKI Jakarta, kualitas udara ibu kota berada pada konsentrasi 39,04 ug/Nm3 atau pada kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif, dalam hal ini bayi dan usia lanjut.

Kendati demikian, Siti mengakui bahwa kualitas udara di Jakarta cenderung tak membaik. Menurutnya, kualitas udara di ibu kota cenderung konstan sejak tahun 2015 dalam kualitas sedang."Bila kita gunakan data Air Visual tahun 2017, kualitas udara di Jakarta memang berada di kategori sedang," katanya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Siti mengatakan, selama ini pemerintah bersama Pemerintah Provinsi DKI telah berupaya meningkatkan kualitas udara dengan menyediakan transportasi massal berbahan ramah lingkungan, serta membangun dan mengembangkan taman kota, mengembangkan Hari Bebas Kendaraan Bermotor, menyediakan fasilitas parkir, hingga jalur pejalan kaki.

"Sementara untuk industri, dilakukan pengawasan pemenuhan baku mutu emisi, pelaporan emisi secara kontinyu yang terintegrasi dengan sistem pelaporan di kementerian," ucapnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menilai kualitas udara yang buruk menunjukkan kemajuan ekonomi di suatu wilayah."Apa yang digambarkan tentang polusi di perkotaan, udara itu semua, juga akibat ekonomi yang semakin maju karena semua orang memiliki mobil, motor, yang asapnya jadi polusi udara," ucapnya.

Namun ia tak menampik perlu alternatif transportasi lain untuk mengembalikan agar kualitas udara tetap bersih. Di antaranya dengan penggunaan transportasi umum atau mobil listrik."Jadi mobil yang baik lagi, dalam upayanya ada jalan keluar yang harus dilaksanakan bersama-sama," tuturnya.

Dinas LH dan Kebersihan DKI sebelumnya menyebut 75 persen kontribusi polusi udara di Jakarta berasal dari transportasi. Selain itu polusi juga paling banyak dihasilkan dari sektor ekonomi dan industri.

 

KOMENTAR

End of content

No more pages to load