Pungli, Kapolres Kediri Dicopot

Kamis , 13 September 2018 | 10:45
Pungli, Kapolres Kediri Dicopot
Sumber Foto detik.com
Satpas Polres Kediri

JAKARTA - Polri tegas menindak anggotanya yang masih bermain-main dengan korupsi. Itulah yang dialami
Ajun Komisaris Besar ER. Ia dicopot dari jabatan sebagai Kapolres Kediri. ER dimutasi sebagai perwira menengah Pelayanan Masyarakat (Yanma) Polri.

Pencopotan Ajun Komisaris Besar ER tertuang dalam Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2282/IX/KEP./2018 tanggal 12 September 2018 dan ditandatangani Asisten Kapolri bidang SDM Irjen Eko Indra Heri atas nama Kapolri."Ya yang bersangkutan sudah dimutasikan ke Mabes," ujar Eko, Kamis (13/9/2018).

Dalam surat tersebut tertera nama Ajun Komisaris Besar Roni Faisal menggantikan Ajun Komisaris Besar ER. Ajun Komisaris Besar Faisal sebelumnya menjabat sebagai Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Surabaya.

Terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menuturkan, mutasi terhadap Ajun Komisaris Besar ER bersifat demosi (penurunan jabatan). Dedi menuturkan saat ini yang bersangkutan masih diperiksa Divisi Propam Polri terkait kasus pungutan liar (pungli) di Satpas Polres Kediri.

"Bahwa mutasi yang bersifat demosi seperti halnya Kapolres Kediri sudah dilaksanakan melalui mekanisme wanjak (dewan jabatan dan karier) dan kasusnya sedang ditangani internal oleh Divisi Propam," katanya seperti dikutip detik.com.

Penangkapan Kapolres Kediri Ajun Komisaris Besar ER ini berawal ditemukan pungli di Satpas Polres Kediri, Sabtu (18/8/2018). Diketahui, ada penarikan biaya penerimaan negara bukan pajak (PNBP), sementara biaya penarikannya beragam, mulai Rp 500 ribu hingga Rp 650 ribu.

Dari hasil tersebut, setiap hari uang Rp 300 ribu disetorkan kepada pegawai ASN berinisial AN. Lalu, uang tersebut dikumpulkan AN kepada oknum personel Polres Kediri berinisial Bripka IK. Selanjutnya, Bripka IK mengumpulkan uang dan diduga didistribusikan setiap minggunya ke kapolres sebesar Rp 40-50 juta.

Tak hanya kepada kapolres, uang itu diduga disetorkan kepada kasat lantas Rp 10-15 juta. Lalu, untuk Baur SIM dan KRI, mereka diduga memperoleh setoran mulai Rp 2-3 juta setiap minggunya.

KOMENTAR