Ryamizard: Jokowi Harus Didampingi

Ryamizard memenuhi semua syarat untuk menjadi cawapres.

Pin It
JAKARTA - Lama tidak terlihat sepak terjangnya, tokoh militer yang juga dikenal sebagai “tentara profesional sejati” ini, belakangan disebut-sebut bakal come back.

 Namun, hal itu bukan di lingkungan tentara, melainkan namanya termasuk satu dari beberapa calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Jokowi sebagai capres.

 Ryamizard Ryacudu, jenderal purnawirawan TNI, memang layak dipercaya Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri, menjadi calon pendamping Jokowi. Selain dikenal sebagai loyalis, Ryamizard juga memenuhi semua syarat untuk menjadi cawapres.

Bagi Megawati, kepercayaan tersebut sekaligus bisa memupus kekecewaan atas kegagalannya menjadikan Ryamizard sebagai Panglima TNI. Menjelang akhir jabatannya sebagai presiden, pada 8 Oktober 2004 Megawati mengirim surat kepada DPR untuk mengajukan Ryamizard sebagai calon Panglima TNI menggantikan Jenderal Endriartono Sutarto.

Kenapa Mega memilih Ryamizard? Ketika itu, Megawati sudah menyetujui surat pengunduran diri Endriartono, sementara dua kepala staf (AU dan AL) memasuki masa pensiun.

 Ryamizard yang ketika itu menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat dipandang paling senior untuk menjabat Panglima TNI. Namun, Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 dimenangi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kemudian menggantikan Megawati sebagai presiden.

 Meski DPR sudah memproses pencalonan Ryamizard, atas pertimbangan tertentu, SBY justru mencabut surat pengajuan Ryamizard sebagai calon Panglima TNI. SBY malah memperpanjang masa jabatan Endriartono sebagai Panglima TNI. Kenyataan yang tentu mengecewakan karena ketiga kepala staf, termasuk Ryamizard, kemudian dipensiunkan.

Ryamizard, tentara lapangan yang sangat kaya pengalaman tempur, tampil santai dalam acara silaturahmi dengan sejumlah wartawan, peneliti, dan pengusaha di sebuah restoran di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (18/3) siang. Hadir dalam acara ini antara lain Pemimpin Umum Sinar Harapan Daud Sinjal,

Pemimpin Redaksi Indonesia Shangbao Susanto Sjahir, Joshua Halim, Tadjudin Hidayat, dan Gondo Subedjo. Meski terkesan membatasi bicara, gayanya tidak banyak berubah, ceplas-ceplos serta memperlihatkan karakternya yang kuat dan sikapnya kokoh.

 Ia ternyata sangat menjaga hubungan dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri dan berkomitmen tinggi mengamankan program yang berorientasi kerakyatan. “Memperbaiki keadaan yang sudah telanjur seperti ini memang dibutuhkan kepemimpinan yang tegas dan berani. Jangan terlalu lama berpikir dan berdebat, harus cepat bertindak,” katanya.

 Apakah Jokowi cocok dengan tuntutan tersebut? Ryamizard diplomatis berkata, “Kalau rakyat memilihnya, kita mau apa?” Hal yang penting, katanya, “Kita harus mendampingi dan menjaganya. Ada beberapa sisi kelemahannya yang harus kita perkuat.”

Ia memberikan ilustrasi berbagai kejadian yang seharusnya dengan cepat ditangani sehingga tidak makin merusak. “Misalnya saja, mengenai geng motor yang sangat merusak. Kenapa dibiarkan saja? Padahal, semua kita ketahui, anggotanya siapa saja, jaringannya di mana saja. Kalau terus dibiarkan, akan semakin merusak dan tidak terkendali.”

Demikian pula dengan penanganan atas berbagai gangguan keamanan, baik yang terkait dengan jaringan terorisme maupun separatisme. Tindakan cepat dan tepat jauh lebih baik sehingga tidak makin membesar dan merusak yang penanganannya akan lebih sulit.

Karier Sukses Sepanjang kariernya, Ryamizard mencatat berbagai sukses, terutama di lingkungan militer. Ia pernah memimpin misi perdamaian di Kamboja dalam naungan PBB dan prestasinya mendapat pujian.

Sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat, ia juga memerintahkan pasukannya terjun ke lapangan untuk memperbaiki, membangun jalan, dan jembatan yang rusak dihantam tsunami di Aceh.
“Kami membuka jalan dan membangun lebih 50 jembatan selama tiga bulan di Aceh,” katanya.

Belakangan ini, ia rajin berkeliling ke beberapa daerah untuk memberikan pencerahan kepada sejumlah kelompok masyarakat, selain kalangan perguruan tinggi. Jenderal kelahiran Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) yang teman seangkatan SBY di Akabri Magelang, sering menekankan pentingnya kepemimpinan dan keteladanan. Seraya memberikan contoh keberhasilannya dalam tugas-tugas militer, ia menekankan pemimpin akan dihormati bila bisa dijadikan contoh.