Digadang Rakyat Kok Kalah?

Banyak caleg yang telah berbuat nyata untuk rakyat ternyata gagal mewakili rakyat.

Pin It
Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 telah dilaksanakan. Sejumlah nama yang bakal terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk tingkat kabupaten/kota hingga DPR, mulai bisa diendus. Ada nama baru, tetapi tidak sedikit yang merupakan nama lama yang telah beberapa kali duduk sebagai wakil rakyat.

Sejumlah nama baru yang bermunculan dalam penghitungan sementara, tidak semua diterima bulat oleh masyarakat. Alasannya, beberapa orang yang sangat dipercaya masyarakat untuk mewakili aspirasi mereka ternyata malah gagal duduk di kursi empuk dewan. Sebaliknya, mereka yang tidak digadang-gadang malah lolos menempati peringkat teratas perolehan suara.

Dalam laporan edisi ini, SH menjaring suara warga apa adanya tanpa berpretensi buruk mengenai penyebab kekalahan dan kemenangan sang calon anggota legislatif (caleg). Warga Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, misalnya, mengaku kecewa karena beberapa caleg yang mereka yakini akan menyuarakan kepentingan rakyat ternyata gagal terpilih.

“Kami kecewa karena mereka yang telah berbuat banyak malah perolehan suaranya sedikit sehingga gagal menjadi anggota DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) atau DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kota/Kabupaten),” kata Khalidin, warga Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Ia mencontohkan nama Taufik Almubarak yang berupaya naik sebagai anggota DPRA melalui Partai Hanura pada Daerah Pemilihan (Dapil) Pidie Jaya dan Pidie. “Ia gagal. Padahal, ia masih muda usia, yakni 32 tahun dan selama ini banyak berbuat untuk masyarakat, bahkan jauh sebelum Aceh damai,” ujar Khalidin yang sangat mengenal anak muda yang berprofesi sebagai penulis dan jurnalis tersebut.

Taufik membela rakyat Aceh sejak konflik bersenjata masih berkecamuk di Provinsi Aceh. Khalidin mengenalnya melalui media massa karena Taufik banyak menulis opini dan memberikan komentar terkait konflik Aceh. Taufik sering mendesak agar GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan pemerintah Indonesia segera berdamai karena telah banyak warga yang menjadi korban.

Penulis buku Aceh Pungo (Aceh Gila) tersebut sangat dibanggakan Khalidin. Hal itu karena meskipun masih muda usia, saat konflik berkecamuk di Aceh, ia rela dikejar TNI dan polisi hanya demi membela rakyat.

Hal yang sama disampaikan Wahidah, seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Pidie. Ia berujar, Taufik tidak pernah memberikan janji ini-itu jika terpilih sebagai wakil rakyat.

“Saat kampanye ia hanya menjelaskan apa itu anggota dewan dan apa saja tugasnya. Ia tidak bisa menjanjikan apa pun karena anggaran dipegang oleh pemerintah, sedangkan anggota dewan hanya bertugas sebagai pengawas panganggaran dan membuat aturan atau qanun,” ucap Wahidah.


Anti-obral Janji
Selama ini caleg lain yang datang ke desanya lebih banyak menebar janji pembangunan, tetapi setelah terpilih lupa akan janji tersebut. “Namun, saat ada anak muda yang baik dan tidak obral janji malah tidak terpilih,” tuturnya.

Taufik mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk bersaing ke kursi dewan. Mantan aktivis Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) ini mencalonkan diri sebagai anggota DPR dengan tujuan ingin mengajarkan bagaimana berpolitik yang benar kepada masyarakat. “Saya tidak mau berkampanye di tempat orang meninggal,” kata pemuda yang hanya menghabiskan uang Rp 5 juta untuk membuat kartu nama tanpa memasang spanduk di pohon atau tempat lain ini.

Caleg untuk DPRK Aceh Jaya, Isra Safril, bernasib sama. Meskipun termasuk caleg yang diharapkan masyarakat, ternyata ia harus menelan pahitnya kekalahan karena minim pemilih. Dominasi partai lokal yang didirikan mantan petinggi GAM sangat kuat di Kabupaten Aceh Jaya.

Padahal, aktivis antikorupsi yang dipinang Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut dinilai rakyat sudah menyumbang upaya pemberantasan korupsi di Aceh. “Pengaruh partai lokal sangat kuat di Aceh Jaya sehingga partai nasional harus mundur teratur. Partai Aceh mendominasi suara di daerah pemilihan saya,” ujar pria yang lahir tahun 1985 ini.

Isra berprinsip bahwa membeli suara masyarakat merupakan kesalahan yang tidak boleh dilakukan siapa pun. “Bermain politik uang itu kesalahan besar dan tidak patut dilakukan caleg, tidak hanya melanggar aturan negara, tapi juga aturan agama,” katanya.

Ia pun sependapat dengan Taufik. Masyarakat harus diajarkan cara berpolitik yang bersih sehingga lebih cerdas dan paham cara berpolitik. “Namun, hal tersebut hanya dilakukan beberapa orang. Masih banyak caleg yang rela mengeluarkan banyak uang demi mendapat suara dari pemilih,” tuturnya.

Perilaku yang menodai citra lembaga legislatif dikomentari Martinus Sudarno, anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Menurutnya, citra legislatif menjadi hak masyarakat untuk menilai. Namun masalahnya kemudian, sangat tergantung dari perilaku anggota DPR dan DPRD.

Selain itu, tergantung pada masyarakat. Kalau masyarakat sudah tidak suka dengan salah satu anggota dewan, taruhannya tidak akan dipilih kembali pada periode berikutnya. Menurut Martinus, perlu proses alamiah untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap lembaga wakil rakyat. Karena itu, setelah duduk di kursi legislatif, setiap anggota harus menjaga etika berperilaku.

Wajah Baru
Dari Kota Batu, Jawa Timur, dilaporkan anggota DPRD Kota Batu dari hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 bakal diwarnai wajah-wajah baru yang berpeluang menggusur incumbent anggota dewan. Salah satunya adalah HM Didik Subianto, SH caleg PKB Dapil 1 (Kecamatan Batu).


Komisi Pemilihan Umum (KPU) memang belum mengeluarkan hasil penghitungan resmi. Rekapitulasi masih berlangsung di tingkat kelurahan/desa. Namun merujuk data versi LPP DPC PKB Kota Batu, Didik Subianto, pria yang akrab disapa Bianto, menduduki peringkat teratas perolehan caleg PKB Dapil 1 sebanyak 2.886 suara. Di bawah caleg nomor urut 2 itu ada Dewi Kartika (PKB/incumbent) dengan 2.679 suara, disusul Ketua PKB Kota Batu, Nurrohman memperoleh 2.017 suara.

Mengacu suara sah dapil 1 mencapai 70 persen lebih dengan angka golput tembus 23 persen lebih, Didik berpeluang melenggang ke gedung parlemen. “Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat karena sudah memberikan amanah melalui suaranya. Suara yang resmi memang ada di KPU. Namun, dari data awal ini sudah menjadi petunjuk berapa masyarakat yang memberikan amanah kepada kami,” ujar bapak dua anak lulusan Fakultas Hukum Unmer Malang ini.

Bagi warga Batu, pria 47 tahun ini bukan sosok asing. Memilih profesi sebagai petani, Didik adalah satu-satunya pelopor penanaman buah naga di Kota Agrowisata ini sejak 13 tahun lalu. Saat ini sentra pertanian dan budi daya buah naga miliknya merupakan yang terbesar di Malang Raya.

Kesuksesan yang diraih tak menjadikannya pelit ilmu. Ketua Persatuan Penghobi Burung Kota Batu ini membina puluhan petani buah agar bisa menularkan kesuksesan yang dimiliki.

Di kalangan Nahdliyin, Didik juga bukan orang asing. Ayahnya, H Supa’at adalah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Batu. Seperti halnya etnis Madura, keluarga besarnya bermata pencarian sebagai pedagang di Pasar Induk Kota Batu.

Menariknya, Ketua Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI ) Kota Batu ini justru menyatakan rela tidak makan gaji dari dewan demi menjalankan amanah itu. Seluruh gaji yang bakal didapat, bakal digunakan sebagai operasional Bianto Centre, lembaga sosial yang segera didirikan setelah ia resmi dilantik menjadi anggota dewan.

Kegiatan Bianto Centre akan terfokus pada pelatihan bagi kebutuhan masyarakat, pengaduan, sampai masalah sosial lainnya. Lembaga ini akan dikelola masyarakat demi kepentingan umum. ”Masyarakat termasuk teman-teman wartawan juga boleh mengawasinya. Info dan persoalan apa pun dari luar (masyarakat-red) yang bisa diselesaikan di Bianto Centre akan dibantu diselesaikan,’’ ujarnya.

Untuk biaya kehidupan sehari-hari, Didik Subianto mengaku tidak perlu mengandalkan gaji dari dewan. Usahanya sebagai petani dan pedagang buah naga sudah bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Saya mencalonkan diri sebagai anggota dewan karena ingin mengabdi pada masyarakat, bukan untuk mencari gaji dari sana,’’ ucapnya.

Gedung Koruptor
Di Bandar Lampung wartawan
SH melaporkan, dengan alasan belum ada kepastian terpilih, caleg di Provinsi Lampung pelit berbicara. Jika terpilih dan ditetapkan menjadi wakil rakyat, mereka berjanji akan berbuat yang terbaik dan memperjuangkan aspirasi rakyat yang mereka wakili.


“Ya doakan saja, mudah-mudahan suaranya cukup untuk terpilih menjadi wakil rakyat di DPRD Lampung,” ujar Muswir, caleg dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk DPRD Provinsi Lampung Dapil Kota Bandar Lampung, Jumat (11/4). Informasi sementara, Muswir merupakan calon kuat yang suaranya di TPS-TPS cukup signifikan untuk terpilih menjadi anggota DPRD Lampung.


Menurut Muswir, saat ini ia belum bisa memastikan apakah terpilih atau tidak, sebab proses rekapitulasi suara masih berlangsung. Ditanya soal aspirasi rakyat, menurut Ketua Pengurus Daerah Keluarga Besar Sumatera Barat (KBSB) Kota Bandar Lampung ini, sudah diserapnya sejak mengadakan sosialisasi beberapa waktu sebelumnya. “Saya sudah melakukan sosialisasi dan pembinaan jauh hari sebelum mencalonkan diri. Rakyat meminta jalan mulus, harga sembako stabil, dan keamanan terjamin,” kata Muswir.


Karena itu, ia mengaku tidak mau melakukan politik uang. Jika main uang, rakyat juga yang rugi karena sudah pasti wakil rakyat itu akan meninggalkan konstituennya karena merasa sudah membeli suaranya. “Namun, saya tidak mau seperti itu. Kalau percaya dengan saya, ayo kita sama-sama selama lima tahun ke depan,” ucapnya.


Tokoh masyarakat Lampung, Syaiful Bahri, respek dengan caleg yang demikian karena mengajari rakyat cara berdemokrasi yang sesungguhnya, tidak seperti caleg kebanyakan yang tabur duit agar dipilih rakyat. Jika semua caleg bisa seperti itu, akan terpilih wakil-wakil rakyat yang benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat.


Persoalannya jadi kacau karena banyak caleg yang ambil jalan pintas dengan “membeli” suara dan rakyat yang umumnya pendidikannya masih rendah dan ekonominya susah sehingga mudah tergiur untuk mencoblos caleg yang memberi uang. “Akibatnya, gedung dewan dipenuhi para koruptor yang mencari keuntungan untuk diri dan keluarganya,” katanya.


Pengurus Ormas Muhammadiyah ini juga meminta caleg yang terpilih nantinya agar benar-benar memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Ditanya persoalan mendesak yang perlu diperjuangkan wakil rakyat, menurut mantan kepala SMA ini, bidang infrastruktur jalan, jembatan, dan irigasi. Lalu, soal pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.


Selama ini sudah dijalankan pendidikan dasar gratis, tetapi masih banyak anak yang drop out karena orang tuanya tidak mampu membiayai. “Katanya gratis, tetapi anak masih dibebani beli baju seragam, buku-buku, LKS, dan pungutan lainnya,” tuturnya. (Aju/Syafnijal Datuk Sinaro)

Sumber : Sinar Harapan