52 Tahun Pertelevisian di Indonesia; "Rating" Masih Menjadi Raja

Revenue untuk keberlangsungan hidup memang penting, tapi bukan segalanya.

Pin It
Di antara kian bertambahnya jumlah televisi swasta di Indonesia, TVRI boleh dibilang mulai dilupakan. Padahal, sebelum era dibukanya keran izin televisi swasta pada akhir 1980-an, TVRI menjadi tontonan satu-satunya.

Generasi yang tumbuh besar pada zaman itu pastilah masih mengingat jelas tokoh Jojo yang diperankan Dede Yusuf dalam sinetron Jendela Rumah Kita. Jojo, seorang anak muda yang selalu berani membela kebenaran.

Nama Dede terkenal sejak membintangi sinetron ini.
Setiap minggu siang, jika tak ada acara ke luar rumah, seluruh keluarga pasti sudah nongkrong di depan layar televisi untuk menyaksikan Rumah Masa Depan.

Sinetron yang disutradarai Ali Shahab ini berkisah tentang sebuah keluarga sederhana di desa Cibereum, yang menghadapi segala masalah sosial dan kultural.

Masih ingat nama tokoh-tokohnya? Ada Pak Sukri yang diperankan Dedy Sutomo dan Ibu (Aminah Cendrakasih), serta anak mereka Bayu (Septian Dwi Cahyo) dan Gerhana (Andi Ansi).
Masih melekat juga dalam ingatan judul-judul lain seperti Aku Cinta Indonesia, Losmen, dan Dr Sartika. Rata-rata sinetron ini memiliki misi pendidikan yang kental, dan hebatnya digarap dengan bagus sehingga menontonnya jadi keasyikan tersendiri.

Tak peduli rating karena TVRI masih menjadi penguasa tunggal.
Namun, kini di usia yang memasuki angka 52 tahun, TVRI sudah terlahap riuhnya program-program komersial yang disuguhkan berbagai macam televisi. Ini diakui Direktur Pengembangan Usaha serta Plt Program dan Berita Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI, Adam Bachtiar.

Ia paham betul kerasnya persaingan industri pertelevisian di Tanah Air. Meski begitu, menurut Adam, TVRI berusaha menampilkan sajian yang berbeda dan mendidik.
TVRI mencoba terus berada di jalur terpisah dengan televisi swasta lainnya. Menurutnya, televisi swasta lebih melihat sisi komersial.

TVRI merupakan milik publik yang mempunyai nilai-nilai yang terus dijaga.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, harus kami penuhi. Kalau boleh jujur, tidak semua kota atau daerah menguntungkan secara bisnis, tidak semuanya. Namun, karena kami mempunyai fungsi kepedulian, kami mendirikan stasiun dan menara agar masyarakat di pelosok mana pun bisa menikmati acara-acara TVRI. Itu tugas yang kami jalankan,” kata Adam saat ditemui SH di Jakarta, Jumat (22/8) sore.

Saat ini, TVRI lebih mengedepankan program berita, budaya, pendidikan, dan hiburan. Namun, berita lebih mendapatkan porsi lebih banyak dibandingkan program lainnya.


“Secara konsep belum membagi secara definitif. Namun, berita porsi besar disusul budaya dan pendidikan. Bidang hiburan ada, tapi tidak boleh ke area infotainment. Hiburan musik masih terus ada, seperti ulang tahun ke-52 ini, kami menyelenggarakan konser musik dengan penampilan artis senior dan muda,” tuturnya.


Selama ini, TVRI ingin mengubah persepsi masyarakat yang masih mengganggap televisi ini ketinggalan zaman. Ini merupakan kesulitan yang harus dihadapi televisi tertua di Indonesia ini.
“Banyak orang memandang TVRI konvesional, tua, dan masa lalu. Padahal, boleh jujur kami punya jaringan luas dan banyak orang yang mempunyai karier broadcasting di sini.

Memang, televisi ini memiliki banyak catatan sejarah, tapi kami selalu berusaha mengikuti zaman,” katanya.
Hingga kini, mereka telah memiliki 29 stasiun di Tanah Air. Terakhir mereka membangun stasiun untuk Pulau Bangka Belitung. Mereka memberikan kesempatan untuk televisi itu menghadirkan muatan-muatan lokal.

Di era komersial semacam ini, selain TVRI, ada beberapa stasiun televisi yang berani mengambil jalur berbeda dari arus utama. Salah satunya MetroTV. Disebut “berani” karena sebagian besar penonton hingga kini lebih menyukai sinetron dan acara gosip hiburan ketimbang acara berita atau film-film dokumenter. Ini disepakati GM Programming and Development, Kioen Moe.

Ketika ditanya mana yang lebih sering dilakukan, mempertahankan program berkualitas yang rating-nya rendah, atau tetap menayangkan program yang sifatnya adalah hiburan semata namun rating-nya tinggi, Kioen mengatakan, “Pilihan kami adalah yang pertama. Program hiburan seperti infotainment selalu menarik rating tinggi, tapi tidak berkualitas, tidak menjadi pertimbangan Metro TV.”


Beberapa program unggulan di Metro TV seperti Mata Najwa, Kick Andy, dan Mario Teguh: The Golden Ways, menurut Kioen, ditonton orang karena kualitasnya. “Biasanya bila berkualitas, rating akan datang sendirinya,” ujarnya. Meski tak mudah untuk menonjol di keramaian program televisi, Kioen mengegaskan Metro TV akan tetap pada jalurnya untuk merebut simpati pemirsa televisi. “Tetap menayangkan program berkualitas dengan nilai pendidikan dan informasi tinggi, agar masyarakat tambah cerdas.

Revenue
untuk keberlangsungan hidup memang penting, namun bukan segalanya,” tuturnya.
 

Rating Menjadi Segalanya

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memandang kualitas dunia penyiaran saat ini bergerak ke arah semakin baik. Menurut Komisioner KPI, Agatha Lily, hal ini dapat dilihat dari program-program televisi yang semakin variatif, pilihan masyarakat juga semakin banyak. Program edukatif, hiburan dan budaya, bisa kita jumpai di televisi.

 “Namun, yang perlu dipahami dan jadi perhatian di satu sisi adalah, program yang tidak berkualitas masih banyak sekali kita jumpai dan mendominasi di prime time, yang sering kali diklaim memiliki rating tinggi dan disukai banyak orang,” katanya.

Ia juga menyayangkan tayangan-tayangan yang kurang berkualitas selalu dijadikan alasan televisi untuk memenuhi minat, kebutuhan, atau keinginan dari masyarakat. Jadi, rating dijadikan satu-satunya tolak ukur dalam memproduksi sebuah tayangan. Agatha mengatakan, dalam satu hari, bisa saja satu stasiun televisi didominasi program-program yang mengumbar aib, konflik keluarga.

“Beberapa waktu lalu kita melihat maraknya kasus pertikaian ibu dan anak yang dieksploitasi media. Ini sangat tidak baik. Belum lagi program-program komedi yang menjadikan keterbatasan individu sebagai bahan olok-olok atau bahan candaan. Sinetron-sinetron yang menampilkan kekerasan verbal dan nonverbal, seperti pembunuhan. Hal-hal seperti ini yang harusnya menjadi perhatian media,” tuturnya.

Cara mendatangkan pendapatan dengan mengikuti rating ketimbang kualitas porgram membuat psikolog Seto Mulyadi prihatin. “Kalau ada acara edukasi yang berkualitas untuk anak-anak, tapi ratingnya tidak tinggi, ya acara itu akan ditinggalkan televisi,” kata psikolog yang akrab dipanggil Kak Seto ini.
Ia mengingatkan, rating sangat erat kaitannya dengan iklan.

Pembiayaan industri pertelevisian selama ini sebagian besar bersumber dari iklan. Akibatnya, industri pertelevisian yang berkembang juga meningkatkan persaingan dari pemilik-pemilik televisi untuk memperebutkan iklan.

“Dari situlah rating kemudian menjadi dewa di dunia pertelevisian,” ujar Kak Seto.
Menurutnya, di masa sekarang ini, program-program yang secara psikologis berkualitas bagi anak-anak tidak lagi dipakai bila rating-nya tidak tinggi. Idealisme di dunia pertelevisian mulai luntur karena berbenturan dengan uang.

“Kalau idealisme tetap kita pakai, siapa yang akan membiayai kita?” tutur Kak Seto mengutip kata-kata para pemilik media televisi.
Kalau anggapan rating masih menjadi raja dalam pertelevisian, apa boleh buat. Namun, ada sebuah keniscayaan, program mendidik, dibuat dengan kualitas yang bagus, pasti akan menghasilkan rating bagus. (Wheny Hari Muljati/Ida Rosdalina)



Sumber : Sinar Harapan