Target Produksi Migas Asset 3 Jatibarang Meleset

Jatuhnya harga minyak mentah serta biaya produksi tinggi menjadi penyebab.

Pin It

Ist / Foto

Ilustrasi

INDRAMAYU - Realisasi produksi minyak dan gas (migas) PT Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field tidak mencapai target 2015. Hal tersebut disebabkan karena jatuhnya harga minyak mentah sementara biaya produksi tinggi.

Asisten Manager Petroleum Engineering, Asset 3 Jatibarang, Catherine Febriana saat menerima kunjungan dari beberapa wartawan, Jumat (18/15) mengatakan, target produksi minyak di 2015 sebesar 9.472 bopd namun realisasinya sampai 17 Desember hanya 7.979 bopd atau 84 persen dari target.

Kemudian untuk produksi gas di 2015 ditargetkan mencapai 70,57 MMscfd namun realisasinya sampai 17 Desember hanya 68,53 MMscfd atau 97,1 persen dari target.

Realisasi target produksi masih rendah karena masalah pembiayaan. Menurutnya, tahun lalu harga minyak masih sekitar US$ 100 per barel namun sekarang sekitar US$ 37 dolar per barel.

Sementara biaya produksi rata-rata per barel sekitar US$ 21 per barel. "Bayangkan kalau harga minyak di bawah US$ 40 per barel, bahkan kita pun harus melakukan efesiensi," ujarnya.

Target produksi minyak dan gas di 2016 pun tidak jauh beda dengan target produksi di 2015. Ia memperkirakan target produksi minyak di 2016 sekitar 9.000 bopd dan gas sekitar 70 MMscfd.

Contohnya, ia melanjutkan, tahun lalu harga minyak US$ 100 per barel. Bila harga minyak di sekitar US$ 80-60 per barel masih dapat menutup beban biaya produksi. "Sampai di akhir tahun ini kami perkirakan harga minyak pun akan semakin turun," ujarnya.

Ia mengatakan, tahun lalu realisasi produksi asset 3 Jatibarang mencapai target karena memang harga minyak sedang tinggi. "2014 targetnya sekitar 8.000 MMscfs dan realisasinya 100 persen," katanya.

Mengenai total sumur,  Catherine menjelaskan bahwa total sumur field Jatibarang ada 454 sumur namun sumur yang berproduksi hanya 178 sumur. Kemudian sumur injeksi 34 sumur, sumur tidak produksi 216 dab sumur kering 26 sumur.

Ia menyampaikan, memang ada beberapa sumur-sumur yang tidak berproduksi sampai saat ini. Karena memang ada yang kadar airnya naik dan ada sumur yang tidak bisa berproduksi sendiri. "Yang tidak bisa berproduksi sendiri karena butuh bantuan seperti menggunakan lifting," katanya.

Ia mengatakan bahwa di 2016 nanti, baik sumur existing yang berproduksi dan tidak berproduksi akan dilakukan optimasi. "Untuk tahun depan akan dilakukan optimasi terhadap 200 sumur," katanya.

Jatibarang Field Manager, Ceppy Agung Kurniawan beranggapan bahwa produksi Asset 3 Jatibarang hingga akhir 2015 ini terbilang mencatat produksi positif.

Menurutnya, hasil positif yang ditorehkan Jatibarang Field tersebut tidak terlepas dari kontribusi lapangan offshore X-Ray serta Struktur Randegan (RDG). 


Sumber : Sinar Harapan