Defisit Transaksi Berjalan 2016 Diprediksi Melebar

Rupiah diprediksi bergerak di level Rp 14.000-an per dolar AS.

Pin It

Ist / Foto

Ilustrasi

JAKARTA – Defisit transaksi berjalan pada 2016 diprediksi melebar menjadi 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dari tahun ini sebesar 2 persen. Dengan kondisi ini, rupiah diprediksi bergerak di level Rp 14.000-an per dolar Amerika Serikat (AS).

Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif INDEF mengatakan, kinerja ekspor tahun depan tidak akan bergerak dari tahun ini. Pasalnya harga komoditas masih mengalami pelemahan, meski harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mengalami peningkatan akibat produksi yang menurun di Indonesia. “Kalau produksi menurun, harga meningkat, ekspor tetap sama aja,” kata Enny, di Jakarta, Jumat (18/12).

Kinerja impor sendiri kemungkinan akan meningkat seiiring dengan kebutuhan dalam negeri. Impor yang terjadi kemungkinan berupa impor bahan baku, modal bahkan konsumsi. Indikasi peningkatan impor ini menurut Enny sudah terlihat sejak November lalu, yang membuat neraca perdagangan defisit.

Perbaikan ekspor dapat saja terjadi, jika pemerintah fokus mengembangkan industri manufaktur kemungkinan besar ekspor akan meningkat. “Kalau koordinasi antar kementerian terkait itu mungkin saja, tapi kita lihat lemah. Kami kira ekspor akan belum optimal jadi neraca perdagangan akan defisit seperti 2014,” ucapnya.

Dari sisi neraca jasa, lanjut Enny kemungkinan akan terjadi pelebaran defisit seiiring peningkatan perdagangan. Ditambah lagi dengan mulai aktifnya Masyarakat Ekonomi Asian (MEA), maka impor tenaga kerja akan semakin meningkat sehingga akan semakin besar defisit neraca pendapatan.

“Sebenarnya kebijakan membangun reasuransi oleh tiga BUMN asuransi cukup tepat namun hingga kini kebijakan ini tidak terdengar,” tuturnya.

Lebih lanjut, Enny mengatakan dengan kinerja ini akan membuat defisit neraca transaksi berjalan akan lebih melebar dari 2015. Pelebaran defisit ini, akan membuat rupiah bergerak di kisaran Rp 14.000 per dolar AS.

Menurut Enny, pemerintah seharusnya mengambil sikap positif dan menjadikan ini peluang untuk meningkat daya saing produk dalam negeri, karena impor yang mahal. “Sudah tidak ada lagi gejolak ekternal karena The Fed sudah mengumumkan kenaikan suku bunga. Fundamental ekonomi masing-masing negara yang menentukan nilai tukarnya. Jadi wajar rupiah akan melemah,” ucapnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara mengatakan, neraca transaksi berjalan diperkirakan memang bakal mengalami peningkatan menjadi sekitar 2,6 persen hingga 2,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2016. Ini karena perekonomian mulai membaik serta bakal meningkatnya kegiatan impor.

“Kami perkirakan current account deficit tahun depan sedikit meningkat dari 2 persen ke sekitar 2,6-2,7 persen terhadap PDB. Level yang cukup baik di negara berkembang. Tentu kalau surplus lebih baik," ujarnya.

Ekonomi tahun ini dan ke depan memang masih dibayangi oleh rencana kenaikan suku bunga AS dan pelemahan ekonomi Tiongkok. Untuk rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS sudah menunjukkan kepastian. "Namun untuk Tiongkok yang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia masih menunjukkan tren pelemahan," kata Mirza. 

Sumber : Sinar Harapan