Bak Kucing Bernyawa Sembilan

Sinar Harapan berulang kali "mati", tetapi bangkit kembali.

Pin It

Ist / Ilustrasi Foto

"Apakah Sinar Harapan akan hidup lagi?" tanya seorang wartawan asal Australia kepada Aristides Katoppo, beberapa hari setelah direksi mengumumkan secara resmi Sinar Harapan tidak akan terbit lagi. Pertanyaan itu bukan mengada-ada. Sejarah membuktikan, Sinar Harapan pernah beberapa kali "dimatikan", namun hidup kembali.

Sang wartawan pun menganalogikan Sinar Harapan seperti seekor kucing, bernyawa banyak, mati berkali-kali, tetapi bangkit berkali-kali pula. Secara kelakar, kucing memiliki nyawa sembilan. "Kalau kucing nyawanya sembilan, menurut Anda, Sinar Harapan sudah berapa kali mati? Masih berapa lagi nyawa yang tersisa?" ujar Aristides balik bertanya.

Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Tides, demikian ia biasa disapa, juga hanya mengembangkan senyum. Namun, dari sejarahnya,  Sinar Harapan bertahan dari beredel.

Beredel pertama dilakukan pada 1965, hanya berselang dua hari setelah peristiwa gerakan 30 September meletus. Sinar Harapan ditutup bersama koran lainnya. Saat itu, hanya dua koran milik ABRI, Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, yang diizinkan terbit.

Penutupan ini hanya berlangsung lima hari. Beredel Sinar Harapan untuk kedua kalinya terjadi awal 1973. Ini dianggap beredel yang sama sekali berbeda dengan yang terjadi pada 1965. Beredel kali ini dilakukan karena Sinar Harapan memberitakan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) yang baru akan disampaikan Presiden Soeharto di depan DPR pada Agustus 1973.

Beredel berikutnya terjadi pada Januari 1978. Bersama Sinar Harapan, ikut pula diberedel Kompas, Pelita, Merdeka, Pos Sore, Indonesia Times, dan Sinar Pagi. Alasan pemberedelan karena menyiarkan berita-berita yang memanaskan dan menajamkan suasana.  Tapi, tampaknya Orde Baru merasa tiga kali pemberedelan tidak cukup bagi Sinar Harapan.

Oktober 1986, Sinar Harapan diberedel untuk keempat kalinya. Dalam beredel kali ini, Orde Baru memutuskan mencabut hak hidup Sinar Harapan selamanya. Surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) Sinar Harapan dicabut Soeharto melalui SK Menpen Nomor 08/SK/Dirjen PPG/K/1986, yang ditandatangani Direktur Jenderal (Dirjen) PPG, Sukarno.
Pemberedelan ini sangat memukul. Rorimpandey sebagai salah satu pendiri Sinar Harapan tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. "Saya ingin ikut membangun bangsa dan negara dengan cara keterbukaan seperti ini. Kenapa pemerintah begitu takut?" kata Rorimpandey dalam biografinya, Semua Harus Untung.

Koran boleh terbit beberapa waktu kemudian dengan nama baru, dengan syarat Rorimpandey masih bisa duduk sebagai presiden komisaris. Namun, Aristides dan Subagyo Pr tidak boleh terlibat sama sekali. Negosiasi berlangsung  alot hingga kemudian lahir Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987.

"Janganlah melihat ke belakang, tetapi menyongsonglah ke masa depan,"

Tahun 1998, angin Reformasi berhembus. Soeharto jatuh. Kejatuhan diktator ini menghembuskan angina segar untuk menghidupkan kembali Sinar Harapan. Bagaimanapun caranya Sinar Harapan harus lahir kembali.

Nico Sompotan, menantu Rorimpandey, dalam edisi 50 tahun Sinar Harapan mengisahkan, mertuanya memiliki harapan besar untuk melahirkan kembali Sinar Harapan. Rorimpandey meminta Nico untuk menyiapkan kelahiran kembali Sinar Harapan. Dalam tim baru ini kemudian bergabung Aristides Katoppo, Baradipa Katoppo, Kristanto Hartadi, Pramono Pramoedjo, Peter Rohi, dan Daud Sinjal. Tanggal 2 Juli 2001, Sinar Harapan kembali menghirup udara segar. Lalu pada 6 November 2015, Sinar Harapan dinyatakan tidak terbit.

Pengumuman tutup Sinar Harapan baru-baru ini menambah panjang daftar koran yang ditutup. Berkurangnya iklan, lesunya ekonomi, bisa saja menjadi penyebab "gulung tikarnya" penerbitan media cetak.

Redaktur Pelaksana New York Times, Jill Abramson diberitakan Tempo 16 Agustus 2013 mengatakan, pada awal Juni 2009 lalu sudah sekitar 40 koran di Amerika yang menghadapi kebangkrutan. Sebagian besar media cetak yang bangkrut karena pengiklan lebih memilih memasang iklan di media online ketimbang media cetak.

Novan Dwi Putranto, mantan Wartawan Sinar Harapan, sangat menyayangkan penutupan koran itu. Tetapi, sebagai jurnalis yang pernah mencicipi kerja-kerja jurnalistik di perusahaan pers asing maupun dalam negeri, ia sangat mengapresiasi sikap investor yang memegang komitmennya terhadap hak-hak pekerja di Sinar Harapan.  

"Di industri media yang terjadi kebanyakan apabila mengalami tutup atau bangkrut sulit sekali pekerja mendapatkan hak-haknya. Bagi saya, terlepas dari kesedihan atas tutupnya Sinar Harapan. Komitmen investor sangat terpuji dan patut menjadi contoh bagi investor-investor media lainnya," katanya.

Akankah Sinar Harapan  terbit kembali? Aristides yang saat ini menjabat sebagai komisaris utama mengulangi kata yang sempat ia lontarkan kepada wartawan Majalah Tempo, enam bulan sebelum pemberedelan tahun 1986. "Janganlah melihat ke belakang, tetapi menyongsonglah ke masa depan,"ujar Tides. Kepada wartawan Australia, ia berkata, "Harapan selalu ada, bahkan di tempat gelap sekalipun".

Sumber : Sinar Harapan