Tak Sehebat Yang Kita Bayangkan

Kamis , 17 Mei 2018 | 15:17
Tak Sehebat Yang Kita Bayangkan
Sumber Foto The global review
Ilustrasi
POPULER

 

Oleh Taufik Darusman

Indonesia memiliki banyak atribut: Negara dengan populasi Islam terbesar di dunia, anggota G20 dan negara demokratis nomor tiga di dunia (setelah AS dan India). Juga, anggota terkuat di Asean, pendiri Gerakan Non-blok (GNB) dan penyelenggara Konperensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955, yang berperan penting dalam membebaskan negara-negara dari belenggu kolonialisme. 

Indonesia dikagumi karena, kendati sebuah kepulauan dengan jumlah pulau melebihi 17,000 dan puluhan golongan etnis, penduduknya selama ini mampu mempertahankan persatuan dan kesatuan.

 Juga, Indonesia adalah salah satu negara terkaya di dunia dari segi sumber daya alam, antara lain kayu, batu bara, kelapa sawit, dan karet, yang semuanya diekspor dalam jumlah besar.  

Namun ketika sebuah lembaga pemikir terkemuka di Australia, Lowy Institute, mengeluarkan daftar negara-negara berpengaruh di Asia, mereka menempatkan Indonesia hanya di urutan ke-10 secara keseluruhan. Dalam daftar bernama Asia Power Index 2018, yang melakukan penilaian terhadap 25 negara di kawasan Asia Pasifik, Indonesia kalah berpengaruh dibandingkan Singapura, yang berada di peringkat delapam, dan Malaysia pada peringkat sembilan. AS dan China mendominasi peringkat atas disusul Jepang, India dan Rusia.

Indonesia mendapat angka 20,0 dari angka tertinggi 100, sedangkan AS di peringkat pertama dengan nilai 85,5, disusul China 75,5, dan Jepang 42,1. Australia berada di peringkat ke-enam, Singapura di peringkat delapan dengan nilai 27,9, dan Malaysia di peringkat sembilan dengan 20,6 poin.

Detik.com minggu lalu mengutip Prof Ariel Heryanto dari Monash University mengatakan “tidak kaget” atas pemeringkatan tersebut. “Kesan saya, secara umum para politikus Indonesia dan masyarakat sejak 1970-an sibuk dengan masalah-masalah dalam negeri," jelasnya.

"Jadi mereka kurang berminat menjadi pemain besar dunia. Tidak seperti zaman Bung Karno yang mengguncang-guncang dunia sejak proklamasi 1945."

Ariel Heryanto adalah profesor pada Herb Feith Foundation di Monash University, Melbourne.

Menurutnya, karena Indonesia negara berpenduduk besar dan majemuk dengan wilayah yang luas, sebagian besar perhatiannya terfokus pada upaya memelihara persatuan dan kesatuan, dan mengatasi benih-benih perpecahan.

“Perhatian untuk memperbesar pengaruh di mancanegara bukanlah prioritas Indonesia,” katanya. 

Selain pengaruh keseluruhan, Lowy Institut mendasarkan pemeringkatan itu pada delapan kategori, yaitu sumber ekonomi, kekuatan militer, ketahanan, kecenderungan di masa depan, pengaruh diplomatik, hubungan ekonomi, kekuatan pertahanan dan pengaruh budaya.

Dalam indeks mengenai pengaruh budaya, Indonesia juga berada di peringkat lebih rendah dibandingkan negara serumpun seperti Malaysia. Untuk pengaruh di bidang budaya Indonesia berada di peringkat 11, sementara Malaysia di peringkat 6.

"Salah satu kemungkinan sebabnya adalah jumlah dan tingkat kefasihan rata-rata masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai forum internasional," jelasnya.

"Ini termasuk publikasi akademik dan non-akademik. Maklum, Malaysia pernah dijajah lama oleh Inggris."

Namun dalam kategori kecenderungan di masa depan (future trends) dari sisi kemungkinan kekuatan ekonomi, kependudukan dan militer, Indonesia tampil cukup gemilang. Ia berada di peringkat ke-empat setelah China, AS dan India.

"Ini sedikit banyak didorong oleh kenaikan jumlah penduduk yang akan menjadi aset dan sumber daya luar biasa. Kekuatan produksi maupun pasar konsumsi juga luar biasa," jelasnya.

Analisis Prof Ariel sangat jitu dan cermat—kita cenderung menjadi masyarakat introvert yang jago main di kandang sendiri saja. Kita juga cenderung menjadi masyarakat yang oleh banyak kalangan disebut menderita “overdosis” agama. Tidak ada isu yang tidak dikaitkan dengan prinsip-prinsip agama.

Memang sangat disayangkan juga bahwa stasiun TV mancanegara ternama seperti CNN dan BBC, maupun kantor-kantor berita Reuters, AP dan AFP praktis hanya meliput Indonesia manakala terjadi bencana alam atau aksi terorisme. Namun kalau hanya itu yang dianggap berita ‘layak muat’, kita mau apa?

Penulis adalah wartawan senior yang bermukim di Jakarta.

 

 



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR