Rakyat Pemilih Makin Cerdas dan Dewasa

Kamis , 28 Juni 2018 | 09:06
Rakyat Pemilih Makin Cerdas dan Dewasa
Sumber Foto Istimewa
Ilustrasi
POPULER

Pilkada serentak yang berlangsung Rabu (27/6) kemarin sudah bisa kita ketahui hasilnya, meskipun belum secara resmi karena masih harus menunggu perhitungan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan cepat (quick qount) yang dilakukan oleh sejumlah lembaga survey memperlihatkan  kecenderungan para pemilih semakin cerdas dalam mengamati calon-calon kepala daerah mereka.

Secara umum hasilnya tidak terlampau mengejutkan karena para pemimpin daerah yang memenangkan Pilkada memang tokoh-tokoh yang selama ini dikenal bagus rekam jejaknya. Selain itu sebelum pelaksanaan Pilkada juga sudah ada hasil survey oleh sejumlah lembaga, yang hasilnya tidak terlalu jauh berbeda. Disana-sini ada sedikit perbedaan, namun tidak terlalu mencolok.

Pilkada serentak kali ini diselenggarakan  di 171 daerah untuk memilih 17 gubernur, 39 walikota d an 115 bupati. Jumlah daerah yang menyelenggarakan Pilkada lebih besar dibandingkan tahun lalu. Selain itu beberapa daerah strategis juga memilih pemimpinnya, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan dan Bali.

Pilkada kali ini dipandang sangat strategis, terutama dalam kaitannya dengan pemenangan Pemilu dan Pilpres tahun depan. Itu sebabnya kita melihat banyak tokoh nasional yang turun ke daerah, langsung atau tidak langsung, dalam upaya mendongkrak elektabilitas cagub/cawagub tertentu. Termasuk dalam kaitan ini kita mencatat betapa sering Presiden Joko Widodo turun ke daerah, baik untuk meninjau proyek atau semacamnya, yang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan tersebut.

Satu hal yang patut kita syukuri , situasi berjalan sangat kondusif selama pelaksanaan Pilkada serentak. Rakyat bisa melaksanakan pemilihan dengan tenang dan umumnya berjalan sangat lancar. Melihat hasil perhitungan sementara, khususnya mengenai pemilihan Gubernur di 17 provinsi, ada beberapa catatan yang bisa kita ketengahkan disini.

Pertama, hampir semua gubernur terpilih adalah para professional yang sudah teruji rekam jejak dan prestasinya. Mereka adalah tokoh-tokoh yang memiliki kualitas kepemimpinan dan prestasi cukup baik sehingga bisa diharapkan mampu memimpin dan memajukan daerahnya. Dari fakta ini terlihat bahwa rakyat pemilih sudah semakin dewasa dan rasional, tidak terkungkung oleh ikatan primordial, kesamaan partai dan emosional semata.

Kedua, tidak ada satu partai pun yang mampu bermain sendirian dalam mengusung dan memenangkan calonnya. Semua gubernur  baru terpilih diusung oleh beberapa partai. Bahkan di beberapa daerah yang dikenal sebagai basis partai tertentu, seperti Jawa Tengah dan Bali yang selama ini dikenal dominan PDIP, pencalonan gubernur juga didukung sejumlah partai.

Ketiga, koalisi parpol bersifat cair karena berbeda di setiap daerah. Misalnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dinilai sering berseberangan dengan PDIP, ternyata bisa berkoalisi mengusung calon yang sama. Koalisi PDIP-PKS tersebut terlihat pada pencalonan Noerdin Abdullah yang menang di Sulawesi Selatan, juga Saefullah Yusuf (Gus Ipul) yang kalah di Jawa Timur. Variasi koalisinya bermacam-macam, misalnya, Partai Demokrat berseberangan dengan PDIP di Jatim, tapi berkoalisi di Jawa Tengah.

Fakta-fakta tersebut menimbulkan optimisme bahwa ke depan rakyat semakin mampu berpikir dan bertindak dewasa dan rasional dalam setiap menghadapi pemilihan pemimpin, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun nasional. Ini harus disyukuri karena kualitas kita dalam berdemokrasi semakin tinggi dan tidak mudah dicemari oleh berbagai praktek manipulasi dan penyesatan.

Di lain pihak, hasil-hasil Pilkada juga harus menyadarkan para pimpinan partai politik untuk lebih mawas diri dan mengubah orientasinya untuk menangkap kecenderungan yang terjadi di masyarakat. Sangat sedikitnya kader parpol yang mampu memenangkan pemilihan memperlihatkan koreksi rakyat bahwa mereka lebih membutuhkan pemimpin yang mampu memajukan taraf hidup rakyat, bukan tokoh partai yang pandai berjanji, penuh retorika tapi tidak berprestasi.

Rakyat pemilih sudah semakin pintar, dewasa, rasional dan tidak mudah dibohongi. Berbagai kecenderungan tersebut makin menarik untuk kita cermati, terlebih lagi dalam menghadapi pemilihan umum dan Pilpres tahun depan.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR