Jangan Sampai Kita Salah Langkah

Minggu , 25 Agustus 2019 | 09:21
Jangan Sampai Kita Salah Langkah
Sumber Foto Locita
Ilustrasi
POPULER

Situasi perekonomian global yang terus memburuk seharusnya membuat pemerintah Indonesia lebih berhati-hati. Fokus perhatian kita semestinya diarahkan untuk mempertinggi daya saing agar mampu bertahan dalam situasi sesulit apapun. Kita juga harus menghindari ambisi yang berlebihan agar tidak menyesal di kemudian hari.

Banyak isyarat dari para pengamat dan lembaga internasional yang memprediksi situasi global akan bertambah sulit. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath pekan lalu  mengatakan bahwa prospek ekonomi global semakin suram. "Ketika tahun ini berjalan, semakin sulit untuk menemukan titik-titik cerah itu," kata Gita Gopinath kepada Steve Liesman dari CNBC, Jumat (23/8). "Ada potensi pemulihan, dan kami masih mengharapkan itu untuk banyak bagian dunia, ... tapi saya harus mengakui bahwa semakin sulit untuk melihatnya,"

Beberapa data memang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi di sejumlah Negara melambat. Di Jerman, sektor manufaktur mengalami kontraksi. Juga Tiongkok dan banyak Negara lain. “Pertumbuhan global lemah, dan kami menggambarkannya rapuh. Ada banyak risiko penurunan. Salah satu risiko yang terus kami tandai adalah risiko di sisi perdagangan, ” kata Gopinath.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga mengindikasikan hal yang sama. Ia mengatakan kondidi ekonomi global diselimuti awan hitam. Perang dagang, currency war, hingga resesi dan bahkan krisis ekonomi di negara seperti Argentina. Hal inilah yang menjadi sumber tantangan utama negara berkembang termasuk Indonesia. "Sumber tantangan, kalau dari eksternal maka dinamikanya juga harus dipahami, apakah itu proyeksi ekonomi dunia melemah bahkan beberapa kali disebut resesi," kata Sri Mulyani pekan lalu.

Resesi itu, katanya, terjadi bila ekonomi terkontraksi atau negatif dalam dua kuartal berturut-turut. "Jerman, Singapura, negara latin AS seperti Argentina yang dalam masa krisis, Meksiko, Brasil, juga dalam situasi sulit. Oleh karena itu tantangan eksternal pelemahan ekonomi dunia terutama oleh beberapa zona tadi Amerika Latin, Eropa, China, dan bahkan kawasan Asia sendiri termasuk India yang jadi motor penggerak ekonomi di pasar berkembang juga alami pelemahan. "Ini pusat kewaspadaan kita," tegasnya.

Tekanan ekonomi di dalam negeri memang makin terasa dan pemerintah beberapa  waktu lalu terpaksa merevisi target pertumbuhan tahun ini dari 5,3% menjadi 5,2%. Itu pun tampaknya akan sulit dicapai.

Data-data memperlihatkan investasi dan konsumsi melambat, sedangkan ekspor terpengaruh perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China. Kinerja ekspor kita juga terus menurun, selama semester pertama (Januari-Juni) tahun ini, nilai ekspor US$ 80,32 miliar, turun 8,57% dibandingkan tahun lalu sebesar US$ 87,88 miliar. Pelambatan investasi bisa dilihat dari data BKPM yang menunjukkan realisasi investasi kuartal I 2019 sebesar Rp 195,1 triliun, tumbuh 5,3% secara tahunan, namun lebih endah dari tahun lalu yang mencapai 11,8%.

Indikator yang lebih mencemaskan terlihat di sektor energy. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memperkirakan Indonesia akan mengalami defisit energi dalam waktu dekat, tepatnya mulai tahun 2021. Hal itu terjadi jika pemerintah tidak melakukan terobosan penanggulangan atas  penurunan lifting minyak dan gas (migas) dan habisnya cadangan batubara.

Menurut Faisal, selama ini sumber energi kita masih surplus karena ditopang oleh batu bara. Tahun 2018, ekspor batu bara mencapai US$20,6 miliar sehingga transaksi energi secara keseluruhan masih surplus US$8,2 miliar. Sedangkan minyak mentah dan BBM sudah mengalami defisit sejak tahun 2003.

Indonesia pernah menjadi “Macan Asia” dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai rata-rata 6,4%. Sejak reformasi trend pertumbuhan cenderung turun, namun pada masa pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama 10 tahun bisa dicapai rata-rata pertumbuhan sekitar 6%.

Kini, kita berharap pemerintah melakukan langkah-langkah yang tepat menghadapi berbagai tantangan ekonomi serta tidak memaksakan program yang justru bisa mempersulit keadaan. Kita sangat mendukung program pemerintah yang ingin berfokus pada program peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Namun kita juga boleh mempertanyakan rencana Presiden Joko Widodo untuk memindahkan Ibukota RI dari Jakarta ke Kalimantan, karena tidak dilandasi studi dan perhitungan matang. Program bernilai Rp 450 trilyun itu bisa menjadi beban di kemudian hari.

Dalam situasi ekonomi yang cenderung makin sulit, pemerintah seharusnya lebih berhati-hati dan tidak memaksakan ambisi yang lebih bersifat “mercu suar” karena sedikit manfaatnya bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Kita perlu mengingatkan pemerintah agar tidak salah fokus karena akibatnya bisa sangat pahit dan menimbulkan beban sangat besar di kemudian hari.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR

End of content

No more pages to load