Dua Tahun Kasus Novel Masih Gelap

Kamis , 11 April 2019 | 10:07
Dua Tahun Kasus Novel Masih Gelap
Sumber Foto Konfrotasi
Ilustrasi
POPULER

Kamis, 11 April 2019 ini genap dua tahun kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terjadi. Jangankan pelakunya ditangkap, hingga saat ini polisi tak mampu mengungkap kasus tersebut, menangkap pelaku dan mengungkap dalangnya, meskipun sudah dibentuk tim khusus untuk menyelidiki perkara ini.

Penyidik KPK dan para pemerhati masalah pemberantasan korupsi, baik di dalam maupun luar negeri, tak bisa lain kecuali kecewa dan menyesalkan lambatnya pengungkapan kasus Novel tersebut. Penyerangan fisik yang membuat mata Novel cedera itu perkara kriminal yang sebenarnya mudah diungkap, namun faktanya hingga saat ini belum bisa diungkap siapa pelaku apalagi dalang (intellectual dader) perkara ini.

Presiden Jokowi sebenarnya pernah memerintahkan agar kasus Novel segera dituntaskan. Maka sulit dimengerti mengapa petinggi kepolisian seolah enggan mengungkap kasus ini secara gambling, siapa pelaku dan dalangnya. Hal tersebut justru menimbulkan kecurigaan bahwa sangat mungkin ada petinggi Polri yang terlibat, apalagi Novel memang penyidik KPK yang getol mengungkap kasus besar termasuk korupsi di lingkungan bekas instansinya itu.

Para aktivis pemberantasan korups sejak awal meminta pemerintah membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) namun hingga saat ini tidak terbentuk. Penolakan pemerintah membentuk TGPF sebenarnya merupakan kerugian politik bagi Presiden Jokowi karena public memandangnya tidak responsive terhadap tuntutan pencari keadilan. Kasus Novel itu memiliki dampak besar karena merupakan serangan langsung terhadap penyidik senior KPK sehingga keengganan Jokowi membentuk PGPF merugikan citranya sendiri.

Sebenarnya, saat ini merupakan momentum bagus baginya untuk membentuk TGPF, mengingat waktu yang sudah sangat dekat dengan Pilpres. Jokowi akan dipandang memiliki komitmen tinggi dalam pemberantasan korupsi, apalagi bila TGPF diisi tokoh-tokoh yang kredibel dan memiliki komitmen kuat dalam pemberantasan korupsi.

Yang kita lihat, pada Januari lalu Kapolri membentuk tim khusus untuk menyelidiki kasus Novel ini. Tim berisi sejumlah petinggi Polri, pakar dan perwakilan KPK. Tim tersebut dibentuk setelah Polri menerima rekomendasi dari Komnas HAM. Saat ini tibul secercah harapan, namun kenyataannya hingga saat ini tidak ada jejak kinerjanya.

Sebelumnya, Polri sempat merilis dua sketsa wajah yang salah satunya dicurigai sebagai pelaku penyerangan Novel. Itu terjadi pada Agustus dan November 2017. Namun, polisi belum menetapkan pihak yang bertanggung jawab atau sebagai tersangka terkait kasus Novel hingga saat ini.

Wadah Pegawai (WP) KPK kembali mengingatkan Presidden Jokowi,  tepat  dua tahun pasca-insiden serangan teror terhadap Novel. Ketua WP KPK Yudi Purnomo Harahap mengatakan pihaknya kembali mendesak Jokowi untuk membentuk TGPF yang independen. Menurut dia, Jokowi harus menunjukkan komitmen pada pemberantasan korupsi lewat kasus Novel.

"WP KPK tetap meminta Presiden untuk mau membentuk TGPF independen di bawah beliau sebagai komitmen dalam memberantas korupsi di negeri ini sekaligus solusi bahwa satu-satunya cara menghentikan teror kepada KPK adalah menangkap pelaku terornya," kata Yudi dalam keterangan tertulisnya.

Kini sudah genap dua tahun serangan terhapa penyidik KPK terjadi dan tidak bisa diungkap. Ini bukan prestasi bagus bagi pemerintahan Jokowi dan kepolisian. Publik bisa mencurigai adanya persekongkolan untuk melemahkan KPK. Apalagi, pekan ini tersiar berita bahwa para penyidik dan penyelidik KPK telah melayangkan petisi kepada pimpinan KPK. Isinya, mereka mengeluhkan berbagai hambatan yang dirasakan di lapangan sehingga operasi tidak berjalan dengan baik.

Kita sangat menyayangkan pelemahan dan bahkan pembusukan KPK terjadi secara sistematis. Ini sebuah potret buram dalam sejarah pemberantasan korupsi di negeri ini. Maka perjalanan kita menuju pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi masih sangat jauh dan tidak jelas ujungnya.



Sumber Berita:Berbagai sumber
KOMENTAR

End of content

No more pages to load