Dunia Sambut Janji Xi Jinping

Rabu , 11 April 2018 | 09:48
Dunia Sambut Janji Xi Jinping
Sumber Fotosuchtv.pk
Presiden Xi Jinping
POPULER

Hampir seluruh dunia merespons positif pidato Presiden  Xi Jinping pada pembukaan Forum Bo’ao Asia. Pasar saham di berbagai negara dilanda sentiment positif menyusul pidato Xi Jinping yang memang sudah ditunggu, berkaitan konflik perdagangan AS-China.

Bursa global menghijau setelah pidato yang dinilai meniupkan angin segar bagi perdagangan internasional yang lebih sehat dan terbuka. Bursa-bursa saham utama Eropa ditutup menguat pada perdagangan  Selasa (10/4) setelah pidato tersebut. Indeks FTSE di London naik 1% menjadi 7.266,75, indeks DAX di Frankfurt juga bertambah 1,11% ke level 12.397,32, sementara indeks CAC 40 di Paris menguat 0,84% menjadi 5.307,56.

Saham-saham Wall Street pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu dini hari) juga naik. Dow Jones Industrial Average naik tajam 428,9 poin atau 1,79% menjadi 24.408, dengan Boeing menjadi saham dengan performa terbaik. S&P 500 bertambah 1,8% dan ditutup di 2.656,87 dengan sektor energi memimpin penguatan 11 sektor dalam indeks.

Dari Tokyo dilaporkan pada pembukaan perdagangan Rabu (11/4) Indeks Nikkei 225 naik 0,1% atau 22,06 poin menjadi 21.816,38. Indeks Strait Times Singapura juga dibuka menguat 0,34% ke level 3.478,03 poin. Dari 30 saham yang menghuni indeks acuan tersebut, sebanyak 18 mencatatkan kenaikan harga.

Berbicara di Forum Bo’ao Asia,  Xi Jinping menjanjikan langkah perluasan akses pasar untuk investor asing. Pemerintahnya juga akan meningkatkan batas kepemilikan asing dalam perusahaan kendaraan dalam negeri, dan melakukan hal lebih untuk melindungi hak kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan asing. Ia juga menjanjikan 'fase baru pembukaan', dan menambahkan bahwa Beijing 'tidak mencari surplus perdagangan' dan ingin meningkatkan impor.

Para pelaku pasar menduga komentar Xi Jinping bisa menghindarkan perang dagang antara China dan AS. "Xi [Jinping] memperingatkan mentalitas perang dingin dan China menyatakan mendorong perdagangan bebas dan menegakkan sistem perdagangan multilateral," tulis David Cheetham, Kepala Analis Pasar XTB, seperti dilaporkan CNBC Indonesia. "Ketegangan yang meningkat pada perang dagang telah membebani pasar dalam beberapa pekan terakhir. Tetapi harus diingat bahwa penerapan tarif belum selesai, dan komentar dari Xi [Jinping] tampaknya menunjukkan bahwa dia ingin menghindari eskalasi lebih lanjut."

"Jika Anda memperhatikan pidato Presiden Xi, itu adalah upaya rekonsiliasi dan terasa seperti penurunan ketegangan," kata Art Hogan, chief marketing strategist di B. Riley FBR. "Itulah yang pasar inginkan."

Dalam Bo’ao Forum Xi menegaskan pembangunan Tiongkok tidak akan mengancam siapa pun dan tidak akan menggulingkan sistem internasional yang sudah ada. Tiongkok akan dengan tegas tak tergoyahkan menjalankan strategi keterbukaan yang saling menguntungkan.

Pidato Xi Jinping jelas tidak memanaskan sitasi. Ia bahkan menyejukkan suasana sehingga kekhawatiran masyarakat dunia bisa diturunkan. Pendekatan ini sangat membantu memulihkan suasana yang sudah terganggu oleh pernyataan-pernyataan panas sebelumnya, baik oleh pejabat China maupun AS.

Kekhawatiran terterhadap perang dagang terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif impor untuk produk baja dan alumunium. China membalasnya  dengan menerapkan kebijakan tarif impor untuk setidaknya 128 produk asal AS. Presiden Trump tampaknya meradang melihat defisit perdagangan AS terhadap China mencapai US$ 395,8 miliar tahun 2017. Ekspor China menguasai 21% pasar impor AS atau mencapai US$ 526,2 miliar. Bagi China, ekspor ke AS berkontribusi 18% dari total ekspor.

Kita memandang langkah emosional Trump justru memukul kepentingannya sendiri, termasuk konsumen AS yang sudah terbiasa dengan barang-barang China. Industri AS juga akan terpukul, mengingat sekitar 26% permintaan pesawat Boeing berasal dari China, juga 56% ekspor kedelai, 16% produk otomotif dan 15% produk sirkuit terpadu AS.

Kita tentu menunggu apakah Xi Jinping memenuhi janji-janjinya itu. Setidaknya ia tidak terbawa emosi, bahkan menurunkan ketegangan serta kekhawatiran masyarakat internasional.  Kita sangat berkepentingan agar konflik kedua negara bisa dicegah, diselesaikan dalam forum WTO, setidaknya tidak sampai menyeret negara-negara lain terlibat dalam krisis.

Bagi Indonesia, perang dagang yang berkelanjutan akan berpengaruh terhadap perekonomian dunia dan tentu berdampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Ini harus dihindari, apalagi kita masih berjuang untuk memperbaiki perekonomian nasional yang belum benar-benar bergairah.



Sumber Berita:Berbagai sumber

Tags :

KOMENTAR